RMOLJAKARTA

Home

Share |
Langkah Awal Menuju Pendidikan yang Menyenangkan
Selasa, 14 April 2015 , 19:00:00 WIB

PENDIDIKAN/IST
  

DI banyak kesempatan, Mendikbud Anies Baswedan sering menekankan pentingnya penyelenggaraan proses pendidikan yang menyenangkan bagi para siswa. Anies ingin pendidikan itu layaknya seperti taman yang indah dan menyenangkan, sebagaimana diidealisasikan Ki Hajar Dewantara.

Tentu kita sepakat dan mendukung spirit ke arah penyelenggaraan pendidikan menyenangkan seperti itu. Dan kita berharap semoga saja spirit yang diusung Menteri Anies itu bukanlah spirit yang di tengah jalan bisa lekas menguap, dipatahkan oleh paradigma dan spirit lama penyelenggaraan pendidikan di negeri kita, yang belum tentu bisa dengan seketika hilang seiring Menteri Anies datang. Di situlah memang tugas berat yang dipikul Menteri Anies akan terus menghadang.

Mafia Sektor Pendidikan

Telah menjadi rahasia umum bahwa penyelenggaraan sektor pendidikan kita kerap diwarnai praktek-praktek para mafia pendidikan. Mereka sudah lama disinyalir keberadaannya lewat sepak terjangnya menggerogoti anggaran pendidikan. Dan dituding memainkan kontribusi besar terhadap capaian-capaian sektor pendidikan kita yang masih jauh dari membanggakan sebagaimana diharapkan, meskipun setiap tahun ratusan triliun digelontorkan untuk penyelenggaraan sektor pendidikan.

Para mafia pendidikan itu buas, seakan tak mau kalah buas dengan para mafia sektor migas, dalam menggerogoti anggaran pendidikan. Apalagi amanat konstitusi kita memang mendorong anggaran yang sangat besar, 20 persen dari APBN, untuk sektor pendidikan, yang tentu membuat para mafia pendidikan itu, berkolaborasi dengan para perancang kebijakan dan unsur-unsur terkait sektor pendidikan, senantiasa dengan segala cara berupaya menggerogotinya.

Spirit perubahan yang diusung Anies itu memang bisa saja dianggap ancaman serius oleh para mafia pendidikan, ketika porsi kue anggaran yang biasanya leluasa digerogotiternyata benar-benar berkurang, bahkan hilang.

Apalagi memang telah dibuat Nota Kesepahaman Aksi Bersama Pencegahan Korupsi Dana Pendidikan antara Mendikbud Anies Baswedan, Menteri Agama Lukman Hakim dan KPK pada 15 Desember 2014 lalu. Lewat nota kesepahaman itu, upaya pencegahan korupsi sektor pendidikan itu rencananya berlangsung pada semua jajaran dinas samaai ke sekolah-sekolah.

Sehingga memang bukan tak mungkin beragam upaya akan dilakukan para mafia pendidikan untuk terus mempertahankan dan mendorong kembalinya model kebijakan seperti sebelumnya. Sebuah kebijakan yang mendorong proyek-proyek pendidikan beranggaran besar tapi miskin capaian
kualitas. Sedangkan para siswa dan kebutuhannya cuma dijadikan objek sekaligus tameng menggolkan kepentingan menggerogoti anggaran.

Meski para perancang kebijakan sebelumnya dan para mafia pendidikan itu menyuguhkan nilai-nilai mulia kepada para siswa lewat pengadaan buku-buku pelajaran  besar-besaran, tapi dalam praktek pendidikan tak pernah tampak secuil pun  dorongan maupun program yang kreatif dari para tenaga pendidik yang mampu menggugah siswa untuk terus berlatih mempraktekkan nilai-nilai mulia itu secara nyata penuh kesadaran dalam proses pembelajaran. Terlebih menjalaninya dengan penuh antusias sampai akhirnya benar-benar menjelma jadi karakter positif yang
menetap dalam kehidupan siswa.

Untuk itu tidak bisa tidak, Menteri Anies harus terus menggugah dan membuka keterlibatan aktif masyarakat secara luas dalam rangka bersama-sama terus mensterilkan sektor pendidikan dari praktek mafia pendidikan.

Rintisan Awal Pembelajaran Menyenangkan

Sejauh ini beberapa langkah awal untuk menciptakan iklim pendidikan yang menyenangkan sebagaimana diusung Menteri Anies memang sedang dan terus dirintis. Kebijakan baru tentang Ujian Nasional (UN) yang diterapkan mulai tahun ini, dimana penilaian kelulusan siswa
diserahkan pada pihak sekolah, bisa membawa angin segar ke arah itu.

Para siswa pun bisa jauh lebih rileks dan percaya diri menghadapi soal-soal UN. Diharapkan tak muncul lagi tingkat stres massal yang menghinggapi para siswa sebagaimana marak terjadi di tahun-tahun sebelumnya.

Dan praktek-praktek kecurangan massif dan sistemik seperti terjadi di tahun-tahun sebelumnya saat menghadapi UN, telah tertutup peluangnya. Sebagaimana diketahui, di tahun-tahun sebelumnya kecurangan UN berlangsung dan dilakukan oleh para siswa yang disokong para guru, kepala sekolah, dan pejabat setempat. Modus kecurangan itu adalah pembocoran dan jual-belisoal dan jawaban UN.

Lewat kebijakan UN yang baru, para guru di sekolah pun bisa terus lebih didorong untuk lebih fokus dan lebih giat lagi dalam upaya mengembangkan potensi yang beragam dari para siswanya. Terlebih otonomi penilaian seorang siswa diserahkan kepada para guru di sekolah yang bersangkutan.

Sebelumnya, di awal Desember 2014, Mendikbud Anies pun telah memutuskan untuk mengggunakan kurikulum 2013 (K13) hanya pada sekolah-sekolah yang ditetapkan sebagai percontohan. Yakni sekolah yang telah tiga semester sebelumnya melaksanakan K13. Pada sekolah-sekolah percontohan yang berjumlah 6.221 sekolah itulah K13 diterapkan, sambil terus dilakukan upaya evaluasi dan penyempurnaan.

Sementara sekolah-sekolah lain yang sempat selama satu semester menerapkan K13, diminta untuk kembali menerapkan Kurikulum KTSP 2006. Sebelum akhirnya nanti, seluruh sekolah akan menerapkan K13, ketika K13 yang sedang diujicobakan itu telah mengalami proses evaluasi, perbaikan dan penyempurnaan, sampai dinilai benar-benar telah siap diterapkan di seluruh sekolah di tanah air.

Selain itu, tentu kita pun mendorong Menteri Anies untuk juga membuat kebijakan yang mampu meningkatkan kapasitas para tenaga pendidikan di tanah air. Agar secara merata mereka memiliki kemampuan, keterampilan dan kreatifitas yang tinggi dalam menyelenggarakan proses pembelajaran
yang menyenangkan di sekolah.

Hal itu penting, sebab sangat banyak para guru yang belum memiliki kapasitas yang mampu menyelenggarakan proses belajar dan mengajar yang menyenangkan pada para siswa di sekolah. Padahal banyak dari para guru itu yang telah mengantongi sertifikasi tertentu, yang mana motif
memperoleh sertifikasi itu disinyalir cuma sekedar untuk mendapatkan uang semata. Bukan sebagai cerminan kualitas yang sesungguhnya dari para guru.

Tanpa kapasitas untuk menyelenggarakan proses belajar-mengajar yang menyenangkan, maka mustahil para siswa akan mencintai belajar dan bersekolah. Mustahil mereka tumbuh menjadi generasi yang gandrung pada ilmu. Sehingga sulit bagi mereka diharapkan menjadi generasi unggul di
masa depan.

Lewat proses pembelajaran yang menyenangkan itu, sesungguhnya membukakan pintu selebar-lebarnya bagi anak Indonesia menjadi generasi pembelajar seumur hidup. Sebab pengalaman belajar yang menyenangkan itu akhirnya ditangkap sistim memorinya sebagai peristiwa menjalani hidup yang sangat menyenangkan. Bukan dianggap sebagai beban atau sesuatu yang menyebalkan.

Selain itu dalam proses pembelajaran yang menyenangkan itu, transfer beragam informasi, muatan-muatan ilmu, nilai-nilai mulia, dan sebagainya, akan jauh lebih mudah masuk dan menetap ke dalam "bank memori" anak di dalam otaknya. Beragam informasi, ilmu dan nilai yang
ditransfer kepada siswa tidak lagi "masuk di telinga kiri, keluar di telinga kanan".

Bahkan siswa pun kian haus untuk menggali sendiri, melalui kreatifitas yang dimilikya, dalam rangka menyempurnakan informasi dan pengetahuan yang telah dimiliki dan tersimpan di memori otaknya.

Ketika sebuah proses belajar mengajar yang menyenangkan diterapkan secara kreatif oleh guru di seluruh sekolah-sekolah kita, maka reticular activating system (RAS) dari para siswa, menjadi terbuka dan tidak tertutup. RAS atau yang biasa disebut juga dengan "critical factor" (faktor kritis) merupakan sebuah area di dalam otak yang bertugas menyeleksi dan memverifikasi data baru yang hendak dimasukkan ke dalam bank memori di dalam otak.

RAS akan tertutup, diantaranya ketika suasana pada saat sebuah data yang hendak dimasukkan ke dalam otak tidaklah menyenangkan. Dan memang mekanisme kerja RAS itu layaknya seperti sebuah klep yang bisa terbuka dan tertutup, tergantung situasi dan kondisi yang memicunya.

Bisa dibayangkan bukan, jika seluruh sekolah dan lembaga pendidikan yang ada di seluruh Indonesia memiliki guru yang memiliki kapasitas menyelenggarakan proses belajar mengajar yang menyenangkan. Jika itu yang berlangsung saat ini, tentu kita akan menjadi benar-benar yakin
dan optimis, bahwa gerak sejarah pendidikan kita saat ini sedang menempa dan memproses anak-anak generasi saat ini menjadi generasi hebat ke depan nanti.

Untuk itu, mari kita semua terus mendorong dan mengawal kebijakan-kebijakan sektor pendidikan negeri kita, agar benar-benar menuju ke arah perealisasian nyata penyelenggaraan pendidikan yang menyenangkan bagi anak-anak di seluruh pelosok negeri. Dan teruslah melangkah Menteri Anies. Sebab beberapa langkah awal Anda sejauh ini sudah cukup tepat.

Oleh Nanang Djamaludin, Direktur Eksekutif Jaringan Anak Nusantara (Jaranan)


Baca juga:
Hari Pertama UN Tingkat SMA dan SMK di Jakarta, 39 Siswa Tak Ikut
3 Sekolah Di Jakarta Pusat Terapkan UN Online
Sudin Pendidikan Jakut Akan Luncurkan Sistem Aduan Masyarakat
Besok, Naskah UN Akan Dikirim ke Kepulauan Seribu
Ingin Malam Mingguan? Hindari Jalur ini!


Komentar Pembaca

Bagikan Hadiah Ke Warga, Jokowi Lempar Langsung Dari Dalam Mobil





Berita Populer