RMOLJAKARTA

Home

Share |
Andai Mahasiswa Culik Jokowi ke Rengasdengklok
Membaca Gerakan Mahasiswa 2015
Senin, 25 Mei 2015 , 18:32:00 WIB

ILUSTRASI DEMO/IST
  

Gerakan mahasiswa kembali muncul di 2015 ini, tepat di usia 17 tahun reformasi. Mereka bergerak karena persoalan penting republik ini menyangkut hajat hidup orang banyak. Sebab, bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya di lepas ke pasar.

Dominasi asing disektor pertambangan yang mencapai 75 persen dan utang luar negeri yang tinggi mencapai hampir 4.000 triliun menjadi keprihatinan mereka. Pada saat yang sama, mereka juga menilai bahwa elit politik saat ini tidak cukup memiliki kemampuan mengelola negara.

Kita perlu memberi apresiasi ketika masih ada anak muda yang belajar kritis dan belajar bergerak di tengah dominasi budaya metropolis yang hedon dan pragmatis. Meski demikian, mereka membutuhkan panduan agar tidak oleng oleh janji janji palsu kekuasaan.

Tidaklah mudah mencerahkan mahasiswa dan melepas mereka dengan militansi. Bagi akademisi yang berinteraksi dengan mahasiswa di kampus, maksimal memberi warna selama 6 jam sehari dan 1 kali dalam sepekan, tidak pula mudah berhadapan dengan super culture yang bekerja 24 jam mengungkung mereka.

Habitus intelektual yang sedang dibangun dengan financial capital apa adanya telah memberi harapan baru dalam 10 tahun terakhir ini. Tradisi kritis, obyektif, ilmiah, progresif dan responsif perlahan tapi pasti terbangun di alam pikir mereka.

Meski secara kuantitatif selalu minoritas, dan pada praksisnya dalam bergerak mereka seringkali gagap ketika dihadapkan pada pilihan bebas untuk bersikap.

Gagap dalam menentukan sikap itu terlihat dari mudahnya mereka bermesraan (makan malam) dengan suprastruktur politik yang sebelumnya menjadi sasaran (Istana). Seolah tidak ada pilihan lain kecuali bertemu dengan elit Istana dan memberi panggung untuk orang istana.

Ini antiklimaks. Tetapi bagi mahasiswa, gerakan 18-21 Mei lalu berhasil, karena sampai makan malam bersama di istana dan dapat secara langsung menyampaikan aspirasi. Selain itu berhasil juga karena mampu memaksa kepala kantor kepresidenan menemui massa aksi dan berpidato di hadapan ribuan mahasiswa.

"Nothing!" Begitu kata yang muncul dari aktivis senior yang masih menjaga idealismenya. Itu hiburan dari istana untuk mahasiswa sekaligus kesempatan Istana membelah mahasiswa. Mereka mahasiswa sesungguhnya telah banyak berkorban. Konsolidasi mengumpulkan, menggerakan mahasiswa dengan pengorbanan waktu, tenaga, keringat, fisik, pikiran dan finansial.

Mereka lalai, keliru langkah, karena ujungnya memberi panggung untuk Istana. Mahasiswa berlaga seperti pegawai yang mempersilahkan tuan istana. Sesungguhnya gerakan mahasiswa 2015 menemukan momentum berharga untuk mengambil peran sebagai gerakan sosial penting ditengah kontestasi kepentingan kelompok politik yang tidak sehat.

Tetapi sayangnya substansi gagasan perlawanannya belum sampai pada ranah ideologis, masih gerakan populis di area front stage. Disaat yang sama mahasiswa tidak menyadari bahwa saat ini sedang ada kontestasi kekuatan antara "Istana" dengan "Teuku Umar".

Gerakan mahasiswa berhasil dimanfaatkan Istana dengan sangat baik. Menjadi panggung mereka tanpa secarik kertas pun komitmen yang ditandatangani antara Istana dan mahasiswa. Misi menculik orang nomor satu Istana gagal apalagi menjatuhkannya. Andaikata mahasiswa mengulangi cerita Sukarni cs yang menculik Soekarno ke Rengasdengklok dan memaksa mengumandangkan kemerdekaan.

Meski demikian, sebagai akademisi, saya masih sedikit memberi harapan pada gerakan mahasiswa. Mungkin bukan generasi mereka tapi generasi sesudahnya. Atau generasi mereka yang belajar dari kekeliruannya.

Generasi yang secara jelas memberi jawaban tegas bahwa mahasiswa dalam kontestasi politik adalah kelas menengah yang dipersepsikan paling independen oleh banyak ilmuwan. Oleh karenanya gerakanya seringkali menakutkan Istana dan Parlemen.

Atau saya yang keliru, sebab sejatinya, pasca 1998 tak ada lagi gerakan mahasiswa yang independen yang dipuja puja sebagai kekuatan moral (moral force) di negeri ini. The end of student movement.

Oleh Ubedilah Badrun, pengamat politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ)


Baca juga:
Prihatin Terhadap Hak Cipta, Mahasiswa Lakukan Aksi Anti Pembajakan Diajang CFD
Skripsi Bukan Lagi Jadi Syarat Utama Kelulusan S1
Paranormal Sebut Jokowi Masih Kuat
Menteri 'Geblek' ya Dicopot Saja!
SBY Didesak Lapor Polisi


Komentar Pembaca

Komnas HAM Sarankan Jokowi Tes DNA





Berita Populer