Read, Bacalah dan Iqra (Bagian 2)

Formula Dasar dan Strategi Penumbuhkembangan Tradisi Berliterasi Anak

E-PAPER RM  SABTU, 14 NOVEMBER 2015 , 11:01:00 WIB

Read, Bacalah dan Iqra (Bagian 2)

IST

SAYA dan Jaranan berpandangan, peran utama dan vital bagi dan upaya penumbuhankembangan tradisi berliterasi anak bukan sekedar disandarkan kepada pihak sekolah. Misalnya melalui, penerapan konsep calistung (baca, tulis, hitung) semata kepada anak di usia pra SD.

Terlebih calistung sebagai praktek yang telah hadir sejak lama dalam persekolahan kita, terbukti telah gagal dalam menumbuh-kembangkan tradisi berliterasi anak selama ini.

Anak cuma bisa membaca saja, namun tidak memiliki kesadaran dan minat yang kuat untuk membaca buku. Dengan kata lain, mereka tidak tumbuh menjadi generasi pembaca yang tangguh.

Selain itu konsep calistung sebagaimana dipraktekkan selama ini masih belum menjangkau, dan tak memadai lagi untuk digunakan bila diperhadap-hadapkan dengan, konsep literasi dasar (basic literacy) sebagaimana ditertuang dalam Deklarasi Praha 2003.

Peran utama dan vital merangsang penumbuhkembangan tradisi berliterasi anak, sebermula sekali justru wajib dimulai dari lingkuangan keluarga.

Di sinilah orangtua dan unsur-unsur di dalam keluarga harus memainkan dan menunjukkan peran pentingnya di hadapan anak dalam menerapkan formula dasar 'Read'.

Dalam 'Read' R adalah 'riang hati bersama anak'. Orangtua sepanjang hari harus senantiasa menciptakan suasana hati riang saat bersama anak.

Dengan suasana hati anak yang riang dan senang, maka pengetahuan, pemahaman dan nilai-nilai apapun yang hendak ditanamkan pada sistim memori bawah-sadar anak, termasuk rangsangan ke arah minat anak berliterasi, akan diterimanya dengan penuh suka cita.

E adalah 'eratkan kaitan antara apa yang diharapkan, diserukan, dan diminta orangtua kepada anak dengan yang berlaku dan dipraktekkan orangtua'.

Artinya, jika orangtua berharap anaknya punya minat dan kegemaran membaca, maka orangtua pun harus membangun fungsi keteladanannya dengan menunjukkan ketertarikan dan kegemarannya dalam hal membaca di hadapan anaknya.

Bukan cuma menuntut anak senang membaca, namun orangtua malah senang nonton opera sabun di televisi, misalnya.

A adalah 'angsurlah terus kosakata-kosakata baru kepada setiap harinya sejak sedini mungkin'. Sehingga setiap harinya anak benar-benar dipastikan selalu bertambah kekayaan perbendaharaan kosakatanya, diikuti pemahaman yang baik atas kosakata-kosakata itu.

Aktivitas mengangsur (mencicil) kosakata itu tentunya harus dilakukan dengan cara-cara wajar dan sealamiah mungkin, diiringi aktivitas yang menyenangkan. Misalnya, lewat perbincangan hangat penuh kasih sayang bersama anak, sambil bermain, jalan-jalan, bikin adonan kue, menyiangi sayur, berkebun, dan sebagainya.

Bila dalam perbincangan dengan anak, ternyata orangtua merasa telah menyebut sebuah kosakata baru, atau anak bertanya tentang kosakata yang baru didengar dan tak dimengertinya, maka para orangtua perlu memberi penjelasan yang mudah dipahami anak atas makna kata itu.

Ketika seorang anak usia sekolah dasar memiliki kekayaan kosakata dalam kisaran sebanyak 8.000 -12.000 kosa kata, maka hal itu diyakini sebagai sebuah modal yang kuat bagi anak itu untuk benar-benar siap membaca dan akan senantiasa tergerak untuk membaca buku-buku yang diminati dan disukainya.

Sebelum anak memiliki kekayaan kosakata sebanyak itu, akan agak sulit berharap ia memiliki minat yang kuat dalam hal membaca buku di luar buku sekolah secara mandiri, ketika ia memasuki sekolah dasar. Meski boleh jadi anak itu sudah bisa membaca. Sebab, bisa membaca belum tentu memiliki minat
yang kuat untuk membaca.

Lihat saja fakta yang menjadi gambaran umum kita dan terus berlangsung saat ini. Dengan begitu, sesungguhnya bisa membaca dan  minat membaca adalah dua hal yang berbeda.

Membaca merupakan aktivitas merangkai dan memahami makna demi makna pada setiap kata yang dibaca. Sehingga membaca mengandaikan pemahaman atas setiap kata yang dibacanya. Ketika proses memahami kata demi kata pada suatu bahan bacaan, maka di situlah muncul 'kelezatan' dari aktivitas
membaca.

Ketika seorang anak yang sedang membaca buku ternyata dalam satu-dua-tiga alenia, atau satu-dua-tiga halaman, banyak kata-kata yang tak dipahami oleh anak itu, maka anak itu pun akan berhenti membaca buku tersebut.

Sebab baginya, untuk apa ia melanjutkan membaca buku yang tak ia pahami isinya. Di sini aktivitas membaca dipersepsinya sebagai tidak menimbulkan efek 'kelezatan' apapun, bikin 'bete', tidak menyenangkan sama sekali!

Untuk itu, terus merangsang anak sebelum memasuki usia sekolah dasar, agar memiliki perbendaharaan kosakata yang mencukupi, merupakan tugas orangtua dan para pengasuhnya, tak terkecuali pihak sekolah, dan secara tak langsung maupun langsung, masyarakat di sekitarnya.

Di masa-masa enam tahun kehidupan pertamanya, seorang anak mungkin sanggup belajar dan menyerap sekitar enam kosakata baru setiap harinya.

Jika, misalnya, sejak usia 3 hingga 7 tahun kepada anak dibacakan buku oleh orangtuanya atau para pengasuhnya, dan dari aktivitas itu setiap hari terhimpun minimal 6 kosakata baru, maka dalam empat tahun sampai ia memasuki sekolah dasar berarti anak itu telah memiliki 8.760 tabungan kosakata yang disetor oleh aorangtuanya lewat aktivitas membaca bersama.

Bisa dibayangkan bukan, jika ternyata aktivitas orangtua dan pihak keluarga dalam mengangsur kosakata baru itu dilakukan lewat beragam aktivitas, yang tak hanya lewat membacakan buku, dan dimulai sejak anak berusia 0 tahun saat anak belum bisa bicara, misalnya.

Maka kosakata anak akan semakin kaya di usia menjelang memasuki sekolah dasar. Dan anak pun menjadi semakin lebih siap untuk memiliki minat membaca buku apapun yang disukainya secara mandiri.

Sementara D adalah 'dongengi anak dengan kisah-kisah menarik'. Jika orangtua merasa belum bisa mendongeng lantaran bukan pendongeng profesional, misalnya, maka membacakan buku-buku cerita kepada anak sesungguhnya sama saja fungsinya dengan mendongeng. Yakni memperkaya dan mengasah pengetahuan dan imajinasi anak di usianya yang sangat belia.

Selain tentunya juga dalam rangka penanaman beragam nilai-nilai mulia ke dalam diri anak. Mendongengi atau membacakan buku kepada anak dapat menambah tabungan kosakata dan pemahamannya atas kosakata-kosakata itu.

Sehingga dengan begitu anak pun sesungguhnya sedang kita persiapkan menjadi generasi yang punya minat kuat dalam hal membaca.

Kondisi anak yang saat usia belia tidak didongengi dan tidak pula dibacakan buku oleh orangtuanya, maka biasanya sepanjang hidupnya ia hanya akan memiliki tabungan 10.000 hingga 20.000 kosakata saja, dan sulit untuk bertambah secara signifikan.

Dan itulah modal pokok yang dikumpulkannya dari bahasa ibu (mother tongue), ditambah kosakata yang didapat dari pengalaman percakapan sehari-harinya bersama teman dan orang lain di lingkungan
pergaulannya.

Oleh Nanang Djamaludin, Direktur Eksekutif Jaringan Anak Nusantara (JARANAN), Konsultan Hypnoparenting dan Perlindungan Anak



Komentar Pembaca
Said Aqil Cocok Gantikan Menteri Agama

Said Aqil Cocok Gantikan Menteri Agama

SABTU, 24 JUNI 2017 , 13:00:00

Pesan SBY Untuk AHY

Pesan SBY Untuk AHY

SABTU, 24 JUNI 2017 , 10:00:00

Resmi Tersangka, Hary Tanoe Akan Diperiksa

Resmi Tersangka, Hary Tanoe Akan Diperiksa

JUM'AT, 23 JUNI 2017 , 17:00:00

Teken MoU

Teken MoU

SELASA, 20 JUNI 2017 , 16:19:00

Bukber Blue Bird

Bukber Blue Bird

SELASA, 20 JUNI 2017 , 20:05:00