Read, Bacalah dan Iqra (Bagian 4-Habis)

Formula Dasar dan Strategi Penumbuhkembangan Tradisi Berliterasi Anak

E-PAPER RM  SABTU, 14 NOVEMBER 2015 , 17:01:00 WIB

Read, Bacalah dan Iqra (Bagian 4-Habis)

IST

ADA banyak cara untuk mewujudkan sekolah ramah buku. Sebagaimana diketahui, dalam PP No.24 Tahun 2014 Tentang Pelaksanaan UU No.43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan, pasal 83 butir (f) menyebutkan, bahwa setiap sekolah/madrasah berkewajiban:

"Mengalokasikan dana paling sedikit 5 persen (lima persen) dari anggaran belanja operasional sekolah/madrasah atau belanja barang di luar belanja pegawai dan belanja modal untuk pengembangan perpustakaan."

Namun berdasarkan pengamatan dan laporan-laporan yang masuk ke Jaringan Anak Nusantara (JARANAN), masih banyak sekolah, terlebih sekolah negeri, yang belum menjalankan kewajibannya mengalokasikan paling sedikit 5 persen anggarannya untuk pengembangan perpustakaan.

Banyak perpustakaan sekolah yang aktivitasnya tetap berada dalam kejumudannya. Koleksi-koleksi bukunya yang tak bertambah, rak-rak reot, dan berdebu.

Sunyinya pengunjung setiap harinya membuat tenaga-tenaga perpustakaan sekolah bingung harus berbuat apa. Sehingga terpaksa membunuh rutinitas monotonnya di ruang perpustakaan dengan sepi dan kegundahan yang tak menggairahkan.

Selain itu, masih banyak pimpinan sekolah dan juga para guru yang tak memiliki perspektif yang baik tentang arti penting pengembangan perpustakaan sekolah terhadap kualitas peserta didiknya.

Dan banyak pula pimpinan sekolah yang memandang perpustakaan sekolah sebagai sarana nomor buncit yang harus diurus sebaik-baiknya. Bila kepadanya ditanya tentang arti penting perpustakaan sekolah, tentu akan dijawabnya dengan nada penuh kepedulian terhadap perpustakaan sekolah. Meskipun dalam realitasnya, nihil dari tindakan dan terobosan berarti untuk mengembangkan perpustakaan sekolahnya.

Jika kepada mereka dihadapi pilihan antara memperindah taman sekolah dengan mengembangkan perpustakaan sekolah, maka banyak pimpinan sekolah yang dalam kebijakan di sekolahnya, lebih memilih memperindah taman sekolah dan mengabaikan perpustakaan sekolah, misalnya.

Tak sedikit sekolah yang bangunannya bertingkat, namun perpustakaan sekolahnya diletakkan di lantai paling atas. Sehingga para siswa enggan mengunjunginya.

Di tengah sepinya kunjungan siswa, boleh jadi petugas perpustakaan sekolah yang terletak di lantai paling atas itu cuma dikunjungi kuntilanak, yang tanpa disadarinya setia menemaninya setiap hari.

Nah, mengapa kewajiban mengalokasikan dana 5 persen dari anggaran ini tidak berjalan baik meskipun telah di atur dalam sebuah PP?

Tidak bisa tidak, Kemendikbud harus segera proaktif mengurai dan mengkaji masalah itu secara gambling dan terbuka. Minta penjelasan dari kepala-kepala dinas pendidikan seluruh Indonesia, tentang sumber masalah tidak berjalannya amanat dalam PP itu. Lalu susun langkah-langkah solusi konkritnya, dan jalankan segera.

Tak sampai di situ, Kemendikbud teruslah melakukan pembinaan dan supervisi yang sungguh-sungguh kepada para kepala dinas. Bangun pula koordinasi yang lebih berkualitas dengan para kepala daerah, untuk memastikan tegaknya amanat dalam PP itu bagi pengembangan perpustakaan sekolah.

Selain itu, upaya membangun sekolah ramah buku pun bisa menjalin kerjasama dengan pihak swasta yang peduli pendidikan. Atau pun dengan merangsang munculnya pemahaman dan partisipasi orangtua siswa dan masyarakat dalam
rangka lebih mengembangkan perpustakaan sekolah.

Sementara program-program maupun kegiatan sekolah yang bisa mengarah pada perwujudan sekolah ramah buku diantaranya adalah:

a. Membangun sudut-sudut baca di ruang kelas, di luar ruang kelas ataupun di taman-taman sekolah.

b. Merevitalisasi fungsi dan pengelolaan  perpustakaan sekolah yang sudah ada namun mungkin kurang merangsang para siswa untuk memanfaatkan perpustakaan tersebut.

c. Menerapkan secara konsisten Permendikbud No.23 Tahun 2015 Tentang Penumbuhan Budi Pekerti,  yang mendorong “kegiatan wajib” pada peserta didik, diantaranya, kegiatan: "Menggunakan 15 menit sebelum hari pembelajaran untuk membaca buku selain buku mata pelajaran (setiap hari)."

Dalam konteks Permendikbud ini, saya dan Jaringan Anak Nusantara (JARANAN) pun mengamati, ternyata masih sangat banyaknya sekolah yang tidak menerapkan penggunaan waktu 15 menit bagi para siswanya untuk membaca buku selain buku pelajaran sebelum hari pembelajaran dimulai.

Bila Menteri Anies Baswedan tak ingin Permendikbud yang dibuatnya itu dipandang sekedar sebagai kertas bergambar macan ompong, tentunya, harus dilakukan evaluasi kenapa sampai bisa tidak berjalan di banyak sekolah. Lalu lakukan langkah-langkah penting menuju perbaikan.

d. Guru senantiasa mengkaitkan materi pelajaran yang diberikan kepada siswa di kelas dengan buku-buku menarik dan relevan yang dibaca guru di luar buku-buku teks pelajaran wajib.

e. Menerapkan metode read-aload (membaca bersuara/lantang), terlebih pada siswa tingkat SD dan SMP. Dan saat saya memberikan materi READ, BACALAH dan IQRA kepada para pengelola perpustakaan tersebut, saya meminta para peserta untuk bermain peran (role play) mempraktekkan secara langsung metode read-aload yang telah terbukti dasyat mampu membangun pemahaman, imajinasi, memperkaya kosakata, mentransfer nilai-nilai mulia, dan merangsang gairah membaca anak.

"Quantumkan proses pembelajaran di sekolah lewat kaidah: gaya guru mengajar harus senantiasa menyesuaikan diri dengan gaya belajar para peserta didik.”

Dalam konteks ini, mustahil mengharapkan quantum learning process, jika yang berlangsung adalah sebaliknya: gaya belajar peserta didik harus sesuai dengan gaya mengajar guru.

Sebab, segenap proses pembelajaran, transfer ilmu, transfer nilai, segenap praktek dan kebiasaan baik dalam keseharian, termasuk kebiasaan membaca, oleh guru dapat secara penuh diterima dan diikuti oleh para siswa secara quantum, ketika, sekali lagi, gaya mengajar guru menyesuaikan diri dengan gaya belajar peserta didik.

"Reward harus diberikan kepada para siswa yang rajin dan menonjol dalam aktivitas yang masuk dalam lingkup literasi dasar".

Sebagaimana diketahui, menurut Deklarasi Praha 2003, yang termasuk dalam lingkup literasi dasar (basic literacy) adalah a) reading and writing (membaca dan menulis), b) counting dan calculating (menghitung dan mengalkulasi), c) perceiving and drawing (mempersepsi dan menggambar), dan
d) speaking and listening (berbicara dan menyimak).

Reward itu diberikan kepada siswa lewat perbagai program kreatif yang dibuat oleh pihak sekolah. Misalnya:

a) Program Pangeran/Putri Literasi untuk tingkat kelas dan tingkat sekolah.

Misalkan, siswa-siswi kelas 3 SD yang paling rajin membaca, dan rajin pula menulis dengan baik rangkuman cerita dari buku-buku di luar buku wajib pelajaran sekolah yang dipinjam dan dibaca dari perpustakaan sekolah atau sudut baca sekolah, lalu menyerahkan setiap tulisannya itu kepada guru
kelas untuk dihimpun dan dinilai.

Kemudian seiring berakhirnya semester ganjil, misanya, guru kelas maupun
pihak sekolah memberikan penilaian kepada siswa dan siswi yang paling baik
dan paling produktif membuat rangkuman tulisan.

Lalu kepada siswa dan siswi itu diberikan penghargaan yang mampu membuatnya bangga dan termotivasi lebih jauh lagi. Misalkan menyematkan padanya status "Pengeran/Putri Literasi  Kelas 3 Semester Ganjil Tahun Ajaran 2015/2015", misalnya. Atau apapun nama penghargaan itu kepadanya.

Dan jika pada saat jelang kenaikan kelas ternyata siswa atau siswi itu ternyata dinilai pihak sekolah sebagai paling baik dan paling produktif di tingkat
sekolah, maka ia berhak disematkan sebagai  "Pangeran/Putri Literasi
Sekolah", misalnya.

Tentu akan sangat baik bila penyematan status itu, pihak sekolah pun memberikan hadiah untuk lebih memberi rangsangan positif pada siswa itu dan
siswa lainnya, misalnya dengan menghadiahi satu paket buku dengan genre
atau tema kesukaan siswa dan siswi tersebut.

b) Program siswa dan siswi kreatif tingkat kelas dan tingkat sekolah.

Misalkan, siswa atau siswi kelas 8 SMP yang paling produktif dan paling bagus membuat karya di luar tugas yang diberikan gurunya dalam satu semester.

Baik itu berupa gambar atau lukisan, maupun kerajinan tangan dalam beragam bentuk di luar tugas wajib yang diberikan gurunya.

Maka guru kelas maupun pihak sekolah perlu memberikan penghargaan kepadanya. Misalkan, dengan menyematkan kepadanya status sebagai "Siswa
Paling Kreatif di  Kelas 8", atau "Siswa Paling Kreatif di sekolah", misalnya. Atau apapun sebutan yang dianggap tepat untuknya.

Dan terakhir, A adalah "asahlah terus minat dan potensi para siswa sehingga
terus berkembang maksimal". Tentu saja hal ini perlu dilakukan secara terencana dan terarah, sesuai dengan minat dan potensi yang dimiliki masing-masing siswa.

Program atau kegiatan yang dapat dilakukan pihak sekolah, misalnya:

- Kegiatan-kegiatan ekskul yang mampu lebih  merangsang dan menajamkan
minat dan potensi para siswa.

-  Menggelar pelatihan-pelatihan penulisan kreatif, mendongeng, jurnalistik
siswa, dan sebagainya.

- Mengundang secara berkala profesi-profesi yang amat lekat dengan dunia
literasi. Seperti penulis, jurnalis, penerbit buku, sastrawan, pendongeng,
programer komputer, dan lain-lain.

Atau bisa pula mengundang jenis-jenis profesi lainnya, seperti tentara, polisi, pialang saham, anggota parlemen, pengusaha, pilot, pramugari, montir, pengusaha, penyuluh pertanin, dokter, bidan, arsitek,  dan sebagainya.

Orang-orang dari profesi itu diminta untuk bercerita tentang serba-serbi profesi yang digelutinya itu di. hadapan para siswa. Hal ini dalam rangka menginspirasi sekaligus merangsang para siswa untuk membangun mimpinya dan cita-citanya jika sudah dewasa kelak.

Kegitan itu akan semakin mudah untuk diselenggrakan secara rutin jika ternyata diantara para orangtua siswa di sekolah itu ada yang menggeluti profesi-profesi
tersebut.Sehingga lebih memudahkan pihak sekolah menghubunginya untuk
berbagi cerita di sekolah.

- Mengikutsertakan siswa dan siswi yang dianggap paling menonjol dan terpantau oleh “radar” para guru ke pelbagai ajang lomba tingkat sekolah, lomba tingkat kecamatan, tingkat kota madya, tingkat provinsi, dan tingkat nasional.

Demikian  yang bisa saya sampaikan secara umum tentang formula dasar READ, strategi BACALAH dan IQRA sebagai panduan menumbuhkembangkan tradisi
berliterasi anak.

Tentu beberapa perpektif, detail dan metode terkait penumbuhkembangan tradisi berliterasi anak yang menjmasuk dalam konsep READ, BACALAH, dan IQRA ini yang tidak cukup untuk bisa dijelaskan di rubrik ini. Sebab memang perlu melalui sesi pelatihan.

Semoga bermanfaat. Salam Anak Nusantara.

Nanang Djamaludin, Direktur Eksekutif Jaringan Anak Nusantara (JARANAN),
Konsultan Hypnoparenting dan Perlindungan Anak


Komentar Pembaca
Terobosan Baru Swasembada Gula

Terobosan Baru Swasembada Gula

SELASA, 23 MEI 2017 , 23:00:00

Sumber Kegaduhan Di Indonesia

Sumber Kegaduhan Di Indonesia

SELASA, 23 MEI 2017 , 17:00:00

BNN Harus Segera Periksa Ahok

BNN Harus Segera Periksa Ahok

SELASA, 23 MEI 2017 , 15:00:00

Survei Nasional

Survei Nasional

JUM'AT, 19 MEI 2017 , 15:33:00

Tamu Rusia

Tamu Rusia

SELASA, 23 MEI 2017 , 20:40:00