Guru Sebagai "Digugu dan Ditiru" ataukah "Saru dan Wagu"?

E-PAPER RM  RABU, 25 NOVEMBER 2015 , 19:43:00 WIB

Guru Sebagai

Guru/ist

RMOL. Dalam kehidupan nyata, setiap profesi kerap memiliki konotasi ganda. Seperti, ada polisi baik dan ada polisi buruk; hakim baik, hakim buruk; jaksa baik, jaksa buruk; politisi baik, politisi busuk;, pengusaha baik, pengusaha hitam; dokter baik, dokter raja tega; menteri baik, menteri antek; dan sebagainya.

Demikian juga dengan profesi guru. Bahkan, mungkin, tak ada profesi yang, secara langsung maupun tidak langsung, berkonotasi ganda dan bertentangan secara diametral pada dirinya sendiri selain profesi guru. Setidaknya jika dilihat dari tinjauan bahasa Jawa.

Kata "guru", dalam bahasa Jawa, melekat dua arti yang saling bertentangan

Pertama, guru berarti seseorang yang dapat "digugu" dan "ditiru". Kepada sosok seperti ini, kita sandarkan kepercayaan penuh sekaligus sumber dan inspirasi keteladanan dalam mendidik anak-anak bangsa.

Berapa banyak jumlah sosok guru dalam pengertian pertama itu?  Dan seberapa besar pengaruh kualitas karya sosialnya dalam menginspirasi kehidupan mulia para siswanya, masyarakat, dan bangsa?

Tentu, kita tidak bisa gegabah begitu saja mengandalkan pada data banyaknya jumlah guru yang telah memperoleh sertifikasi untuk dijadikan acuan atas eksistensi keberadaan para guru dalam pengertian pertama itu.

Sebab, guru dalam pengertian pertama tidak tergantung pada dimiliki-tidaknya sertifikasi guru pada dirinya. Dan belum tentu juga guru bersertifikasi memiliki kualifikasi etik, moral, profesional, dan berkinerja stabil, yang berbasis pada penghayatannya yang  mendalam sebagai sosok yang "digigu" dan "ditiru" para peserta didiknya.

Sebuah survei mendalam tentunya perlu dilakukan untuk mengetahui keberadaan para figur guru dalam pengertian pertama, hal-ihwal yang menyertainya, dan sebaran nilai-nilai mulia yang dipancarkan dan ditransformasikan kepada peserta didik dan lingkungan sekitarnya

Kedua, guru dapat berarti pula "wagu dan saru". Yakni seseorang yang perangai, ucapan, dan tindak-tanduknya  tidak pantas, atau tidak elok, selain norak dan memalukan!

Wujud perangai guru dalam pengertian kedua ini bisa bermacam-macam. Dari guru yang gemar menghardik siswa; menganggap siswa sekedar objek pengajaran semata dan bukan subjek berjati diri; serta miskin teknik dan metode ketika berada dalam proses pembelajaran bersama siswa.

Dari guru yang malas berpikir dan bertindak untuk menjadikan sekolah sebagai taman penuh bunga pengetahuan dan surga harapan bagi siswa, di tengah penghasilan guru tetap yang telah meningkat; guru yang merasa profesional dibalik keengganan menperkaya materi pembejaran secara kreatif; guru berkarakter cabul: dan sebagainya.

Lantas, sosok guru yang mana, yang pertama atau yang kedua, yang lebih kuat pengaruhnya atas lahirnya kecenderungan corak mental, perangai, dan karakter kita dalam kehidupan kemasyarakatan dan kebangsaan pada saat ini?

Pertanyaaan ini merupakan pertanyaaan reflektif kita di hari guru 2015 kali yang mengambil tema "Guru Mulia Karena Karya". Terlebih Presiden Jokowi di Puncak Peringatan Hari Guru acara Puncak Peringatan Hari Guru Nasional 2015 (24/11/2015) di Istora Senayan mengatakan, "Saya sendiri adalah karya dari guru-guru saya, dan kita sendiri adalah karya guru-guru kita," 

Apalagi ketika seabreg identitas buruk kita sebagai bangsa terus tertoreh hingga saat ini: dari bangsa dengan minat membaca buku yang rendah, bangsa dengan tingkat korupsi yang tinggi, bangsa yang tergadai kemandirian ekonominya karena gemar berutang ugal-ugalan, bangsa yang elitnya mudah disuap sehingga jadi antek kepentingan asing, bangsa dengan wajah sektor perlindungan anak yang buruk, dan sebagainya.  

Terlepas dari itu semua, saya ucapkan: Selamat Hari Guru Nasional 2015, wahai para guru mulia yang hidupnya penuh dengan karya-karya kreatif dan inovatif. Khususnya, bagi para guru berpengahayatan mendalam dan senantiasa mengaktualisasikan perannya sebagai guru dalam pengertian pertama di atas. [**]

Oleh: Nanang Djamaludin,Direktur Eksekutif Jaringan Anak Nusantara (JARANAN), Konsultan Hypnoparenting dan Perlindungan Anak.

Komentar Pembaca
Kasih Tak Sampai Seorang Ibu

Kasih Tak Sampai Seorang Ibu

SELASA, 22 DESEMBER 2015

Read, Bacalah dan Iqra (Bagian 4-Habis)

Read, Bacalah dan Iqra (Bagian 4-Habis)

SABTU, 14 NOVEMBER 2015

Read, Bacalah dan Iqra (Bagian 3)

Read, Bacalah dan Iqra (Bagian 3)

SABTU, 14 NOVEMBER 2015

Read, Bacalah dan Iqra (Bagian 2)

Read, Bacalah dan Iqra (Bagian 2)

SABTU, 14 NOVEMBER 2015

Read, Bacalah dan Iqra (Bagian 1)

Read, Bacalah dan Iqra (Bagian 1)

SABTU, 14 NOVEMBER 2015

Penggunaan Baby Walker Picu Masalah Membaca Anak
Said Aqil Cocok Gantikan Menteri Agama

Said Aqil Cocok Gantikan Menteri Agama

SABTU, 24 JUNI 2017 , 13:00:00

Pesan SBY Untuk AHY

Pesan SBY Untuk AHY

SABTU, 24 JUNI 2017 , 10:00:00

Resmi Tersangka, Hary Tanoe Akan Diperiksa

Resmi Tersangka, Hary Tanoe Akan Diperiksa

JUM'AT, 23 JUNI 2017 , 17:00:00

Teken MoU

Teken MoU

SELASA, 20 JUNI 2017 , 16:19:00

Bukber Blue Bird

Bukber Blue Bird

SELASA, 20 JUNI 2017 , 20:05:00