RMOLJAKARTA

Home

Share |
Mengenal IPO Khusus UKM
Sabtu, 12 Desember 2015 , 19:33:00 WIB

IST
  

BEBERAPA tahun belakangan ini muncul suatu terobosan baru dan dinilai penting bagi perkembangan UKM, yaitu tersedianya penawaran saham di pasar modal khusus UKM. Penawaran saham tersebut dikenal dengan istilah IPO (Initial Public Offering).

IPO sendiri merupakan penawaran saham perdana di pasar modal yang dilakukan oleh perusahaan, termasuk UKM, yang berkeinginan untuk terus berkembang sekaligus go public.

UKM yang melakukan IPO akan melepas atau merilis sebagian sahamnya pada publik di lantai bursa dalam negeri.

Artinya tiap UKM yang melakukan penawaran sahamnya bertujuan untuk menarik minat investor guna menanamkan modalnya pada UKM dimaksud. Dan investor yang membeli saham UKM akan menjadi salah satu pihak penting dalam pengelolaan UKM tersebut.

Mengenal IPO Khusus UKM

Terobosan penting ini, hadirnya IPO khusus UKM, dinilai akan membuka peluang bagi UKM-UKM yang ada untuk masuk di pasar modal Bursa Efek Indonesia (BEI). Tentunya kesempatan besar bagi para pelaku usaha skala kecil dan menengah (UKM) untuk mengembangkan usahanya.

Di sisi lain masuknya UKM untuk melakukan IPO atau penawaran publik menandakan bahwa sektor UKM sedang bertumbuh serta berupaya melakukan perluasan jaringan usaha (ekspansi). IPO nampaknya merupakan peluang bagi UKM guna mendapat suntikan modal besar untuk berekspansi.

Dengan menawarkan sahamnya pada publik di pasar modal (lantai bursa khusus UKM), UKM yang sebelumnya bersifat privat (milik perseorangan atau badan tertentu) bisa menjadi perusahaan publik. IPO hanya berlaku ketika UKM (perusahaan) menawarkan saham perdananya pada publik.

Pentingnya IPO Bagi UKM

Kemudahan yang diberikan BEI pada UKM untuk melantai di pasar modal bertujuan untuk menarik investor guna menanamkan modalnya pada UKM dimaksud. IPO dianggap penting bagi keberlangsungan UKM agar mendapat tambahan modal yang berlebih dari investor.

Dengan suntikan modal tersebut keberlangsungan UKM bisa bertahan. Usaha atau bisnis yang digeluti bisa terus dikembangkan bahkan bisa membuka jaringan bisnis baru yang dinilai positif bagi UKM tersebut.

Pada sisi yang lain pula dengan masuknya investor pada UKM, peluang kerja bagi banyak orang juga terbuka karena UKM akan menyerap banyak tenaga kerja dalam proses produksi, distribusi, dan lain sebagainya.

Perlukah IPO bagi UKM?

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah bagaimana jika UKM memiliki modal berlebih dan keuangan yang positif? Bukankah bisa menggunakan modal internal untuk ekspansi usaha?

Atau jika modal UKM minim, mengapa tak meminjam modal dari pemerintah atau lembaga keuangan seperti bank atau lembaga lainnya, jika hal tersebut bisa dilakukan ketimbang menawarkan saham perdana (IPO).

Memang secara sekilas hal tersebut dimungkinkan, pinjaman bank atau dari pemerintah. Namun hadirnya IPO di lantai bursa bisa membuka peluang bagi UKM mendapatkan alternatif pendanaan selain dari pinjaman bank maupun bantuan/pinjaman pemerintah.

Dan lagi bisa membuka peluang lebih besar bagi UKM tak hanya soal tambahan modal namun juga berbagai perluasan jaringan usaha. Secara lebih spesifik UKM yang melakukan IPO di lantai bursa akan mendapat keuntungan, di antaranya;

1. Meningkatkan credit rating
2. Meningkatkan akses perusahaan (UKM/emiten)
3. Mendapat media promosi usaha secara gratis
4. Mendapatkan sumber pembiayaan (modal/kredit) tanpa bunga
5. Meningkatkan citra perusahaan, terutama UKM yang berhasil melantai di bursa saham dan terus berkembang
6. Memiliki kontrol publik atas kinerja perusahaan dan usaha

Syarat IPO bagi UKM

UKM yang berhasil mendaratkan saham di lantai bursa akan menjadi emiten (perusahaan pihak penawar saham) kepada publik (investor). Itulah mengapa IPO untuk dunia wirausaha (Saham UKM) penting dilakukan.

Bagi UKM yang ingin melakukan penawaran saham perdananya (IPO) di lantai bursa ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Di antaranya adalah berbadan hukum berbentuk PT (perusahaan terbatas). Jadi UKM yang bersifat perseorangan atau masih berstatus CV belum bisa melakukan IPO.

UKM juga harus memiliki aset/modal sekitar Rp 100 miliar (di papan utama) dan Rp 10 miliar (di papan pengembang) serta saham yang ditawarkan pada publik di lantai bursa tak lebih dari angka Rp 40 miliar. Memang jumlah tersebut terlalu besar bagi sebuah UKM agar bisa melantai di pasar modal.

Aturan yang mensyaratkan jumlah aset maupun jumlah penawaran saham itu kemudian direvisi agar bisa menarik banyak UKM untuk melantai di bursa saham. Pasar modal kini hanya mensyaratkan dengan pendekatan net tangible asset (aset bersih) dengan aset sebesar Rp 5 miliar (bukan modal).

Sedangkan untuk UKM yang memiliki net tangible asset (aset bersih) Rp 100 miliar atau lebih akan ditempatkan pada papan utama. Syarat lainnya adalah memiliki prospek kinerja usaha yang baik (profitable), melakukan audit internal (transparansi laporan keungan), dan mengetahui berbagai ketentuan tentang good corporate governance.

Oleh Samsul Hadi, Eks Kepala BKPMD Jakarta


Baca juga:
Ahok Bakal Berikan Kredit Rp1 Triliun untuk UMKM DKI, Tapi...
Wow! Pelaku Pemalsu Dokumen Bisa Raup Keuntungan Rp10 Juta Perhari
Resmikan Gerai Bisnis UKM
Indonesia Usul Dibangun SME e-Promotion Portal
Dirut KAI: Tiket Mudik Lebaran Masih Tersedia


Komentar Pembaca

Komnas HAM Sarankan Jokowi Tes DNA





Berita Populer