RMOLJAKARTA

Home

Share |
Kasih Tak Sampai Seorang Ibu
Selasa, 22 Desember 2015 , 11:04:00 WIB

SIANG itu, matahari tak terlampau terik menyapu permukaan bumi. Di sebuah sudut tepian Sungai Gangga, Adipati Karna baru saja usai melaksanakan ritual kontemplasi rutinnya, berkhidmat pada Batara Surya.

Adipati Karna terkejut, tiba-tiba Dewi Kunti, ketika ibu para Pandawa itu, muncul di hadapannya dan melempar senyum merekahnya saat Karna melompat dari seonggok batu besar tempatnya semedi.

Pada jarak beberapa langkah dihadapan Kunti, Karna membungkuk, memberi salam hormat pada perempuan ayu yang tetap saja elok di usianya yang terus menjauh dari masa belianya yang molek-rupawan.

"Mengapa ibu para Pandawa ada di sini?" tanya Karna ramah diiringi senyum cerahnya laksana sinar mentari di pagi hari.

Sejauh ini, Karna memang dikenal sebagai ksatria kelas wahid, berkanuragan amat tinggi, namun santun dan rendah hati. Dia adalah mutiara paling kemilau kubu Kurawa.

Menanti langkah-langkah kaki Karna yang semakin mendekat padanya, Kunti menahan jawaban. Lalu begitu Karna berjarak seraihan tangannya, langsung digenggamnya lembut tangan Karna.

"Aku ingin sampaikan fakta yang sebenarnya, wahai ksatria sejati. Aku ini sesungguhnya adalah ibu kandungmu. Berpihaklah pada Pandawa, anakku. Sebab kaulah kakak tertua Pandawa, yang paling berhak atas tahta di Indraprasta," tutur Kunti dengan ekspresi dan suara keibuannya yang penuh getaran-getaran jiwa, langsung ke inti soal.

Karna memang anak Kunti, putri Prabu Basukunti dari Kuntiboja.

Alkisah, suatu pagi saat Kunti ranum-remaja, dia iseng-iseng hendak mencoba mantra pemberian guru spiritualnya. Sebuah mantra pemikat berdaya magnet teramat dasyat. Kunti yang dasarnya sudah ayu dan molek, maka dengan mantra itu, siapakah orangnya, tak terkecuali para dewa, yang tak terpikat padanya?

Di tepi kolam kaputren istana, tanpa sehelai kain penutup tubuhnya, mulailah Kunti merapal mantra ajian pemikat itu. Beberapa lama kemudian, tanpa diduganya, tiba-tiba seberkas cahaya yang teramat terang menembus tubuhnya yang bening.

Sejak itu, hari demi hari perut Kunti ternyata terus membesar. Dia hamil. Rupanya Batara Suryalah yang telah membuahi rahimnya. Menandai betapa hebatnya efek dari mantra ajian miliknya yang tak disadari sebelumnya.

Singkat cerita, Kunti pun melahirkan Karna lewat lubang telinga. Namun, usai rembuk dengan ayahnya, yang kehormatan atas tahta kerajaannya merasa terganggu lantaran putrinya hamil tanpa ayah bagi bayinya, maka bayi yang sejak lahir ternyata berbaju tamzil antisenjata itu pun diputuskan dilarung ke sungai.

Nun jauh di sana, bayi itu lalu ditemukan dan dipelihara Adiratha dan Rada, istrinya. Sejak itu, Karna tumbuh dalam buaian tulus kusir istana Kurawa itu.

Tak hanya itu, lewat bakat-bakat istimewa yang dimilikinya sejak lahir, Karna bergaul dan tumbuh bersama para pangeran Kurawa. Serta memperoleh perlindungan, fasilitas, dan dipromosikan kariernya sebagai ksatria oleh Kurawa.

Lalu kita pun tahu, Kunti akhirnya kawin dengan Pandu Dewanata dan punya tiga anak: Yudhistira, Bima, dan Arjuna.

Selain dengan Kunti, Pandu pun mengawini Dewi Madrim dan punya dua anak, yakni si kembar Nakula dan Sadewa. Kelima anak Pandu itulah yang dinamakan Pandawa, yang ditinggal mati oleh Pandu saat mereka masih kecil-kecil.

"Ibu, sebenarnya aku telah mendengar siapa diriku ini langsung dari Batara Surya beberapa waktu lalu. Tapi, ibu, tak mungkin kukhianati budi baik Kurawa yang telah mengangkat martabatku dari keterhinaan sebagai anak seorang kusir.

Dan Kurawa pulalah yang telah mengangkat derajatku menjadi seorang Adipati. Sehingga, bagaimanapun, aku akan tetap bertempur untuk para Kurawa melawan para Pandawa yang merupakan saudaraku sendiri, ibu," jelas Karna.

"Lagi pula ibu, bukankah banyak sekali momen, dimana sebenarnya ibu sejak dahulu bisa saja mengakui aku sebagai anakmu? Namun, ternyata itu tak ibu lakukan. Dan lagi, bukankah ibu pernah bilang, bahwa anak ibu cuma lima orang, bukan enam orang. Jadi, bila nanti antara aku maupun Arjuna ada yang tewas saat kami bertempur dalam Bharatayudha, bukankah anak ibu akan tetap lima orang bukan?" tutur Karna sambil berlutut hormat di hadapan Kunti.

Kunti hanya mampu menatap kosong jauh ke depan sana, ke seberang sungai Sungai Gangga. Tak kuasa lagi dia berkata-kata. Sementara, Adipati Karna, putra tertuanya itu, tetap membungkuk hormat di depan kaki Kunti.

Di atas sana, sang surya, saksi abadi pertemuan anak dan ibu itu, mulai bergerak perlahan menuju ufuk Barat, terus menciptakan siluet hitam dari dua tubuh anak dan ibu itu pada rerumputan yang dijejak.

Lalu, bulir-bulir besar air mata Kunti sebagai seorang ibu akhirnya tumpah. Tangisnya, tangis yang tak terperi dalam diam yang mematung, mengenang masa-masa lalu yang tak mungkin kembali lagi.

Selamat hari Ibu, wahai para keluarga muda. Salam anak Nusantara. [***]

Oleh Direktur Eksekutif Jaringan Anak Nusantara (Jaranan), Nanang Djamaludin


Baca juga:
Doa Ibu
Guru Sebagai "Digugu dan Ditiru" ataukah "Saru dan Wagu"?
Jawaban Bijak Pada Anak yang Tanya Cara Membuat Anak
Sengkuni dan "Neocortex Warfare"
Langkah Awal Menuju Pendidikan yang Menyenangkan


Komentar Pembaca

Kemenko Kemaritiman Ingin Implementasikan Jalan Raya Plastik





Berita Populer