Reog Ponorogo Harus Diakui Dunia

Peristiwa  MINGGU, 20 MARET 2016 , 10:34:00 WIB | LAPORAN:

Reog Ponorogo Harus Diakui Dunia
RMOL."Reog Ponorogo" begitulah nama kesenian budaya yang berasal dari Jawa Timur bagian barat-laut atau wilayah Ponorogo. Reog adalah salah satu budaya daerah di Indonesia yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu kebatinan yang kuat.

Kesenian tradisional ini memang dikenal dengan penari kuda kepang, warok dan bujangganong.

Pembina Komunitas Reog Ponorogo (KRP), Mohamad Sanusi, mengatakan kesenian reog adalah salah satu warisan dari kearifan lokal dan harus terus dilestarikan oleh semua lapisan masyarakat.

"Kesenian reyog wajib dilestarikan dan secara rutin diberikan ruang untuk unjuk kebolehan dalam berbagai kesempatan. Dengan begitu maka generasi muda bisa familiar dengan kesenian ini," kata M Sanusi Bundaran HI atau depan Grand Indonesia, Jalan MH Thamrin Jakarta Pusat, Minggu (20/3).

Dijelaskan oleh prajurit pelestarian budaya ini, kesenian reog ponorogo harus mendapat pengakuan dari UNESCO.

Sebab kesenian reog adalah hasil dari budaya masyarakat Indonesia bukan dari negara lain.

Permohonan pengakuan itu bukan tanpa alasan, menurut Sanusi,Tarian sejenis Reog Ponorogo sempat diakui oleh negara Malaysia dan dinamakan Tari Barongan.

Penampilan tarian ini sama persis dengan reog ponorogo yaitu topeng berkepala harimau yang di atasnya terdapat bulu-bulu merak.

"KRP akan terus memperjuangkan agar kesenian reyog diakui Unesco sebagai salah satu warisan budaya dunia dari Indonesia," ucap Sanusi.

Dituturkan pencinta seni tari ini, berdasarkan cerita, Reog Ponorogo berkisah tentang Raja Ponorogo yang berniat melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning, namun di tengah perjalanan ia dicegat oleh Raja Singabarong dari Kediri.

Pasukan Raja Singabarong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari pihak Kerajaan Ponorogo Raja Kelono dan Wakilnya Bujang Anom, dikawal oleh warok (pria berpakaian hitam-hitam dalam tariannya), dan warok ini memiliki ilmu hitam mematikan.

Seluruh tariannya merupakan tarian perang antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Ponorogo, dan mengadu ilmu hitam antara keduanya, para penari dalam keadaan "kerasukan" saat mementaskan tariannya.

Hingga kini masyarakat Ponorogo hanya mengikuti apa yang menjadi warisan leluhur mereka sebagai warisan budaya yang sangat kaya.

"Seni Reog merupakan cipta kreasi manusia yang terbentuk adanya aliran kepercayaan yang ada secara turun temurun dan terjaga," ujar Sanusi.‎[dka]

Komentar Pembaca
Bersatu Dalam Keberagaman

Bersatu Dalam Keberagaman

RABU, 25 DESEMBER 2019 , 09:08:00

Genangan Di Kamal Muara Rampung Disedot

Genangan Di Kamal Muara Rampung Disedot

RABU, 25 DESEMBER 2019 , 21:10:00

Anies Datangi Korban Banjir Di Kalideres

Anies Datangi Korban Banjir Di Kalideres

KAMIS, 02 JANUARI 2020 , 13:06:00