RMOLJAKARTA

Home

Share |
KPK Jangan Takut, Kekebalan Ahok Sudah Luntur Oleh Al Maidah 51
Rabu, 04 Januari 2017 , 14:14:00 WIB
Laporan: Saeful Anwar

AHOK/NET
  

RMOL. Skandal kasus penistaan agama Islam oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) membuat tensi politik nasional meningkat. Bahkan bisa membakar konflik suku, agama, ras dan antar-golongan (SARA) yang masif dan niscaya tak terkendali di akar rumput.

Demikian pendapat analis politik sekaligus koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB), Adhie M Massardi kepada wartawan di Jakarta (Rabu, 4/1).

Menurut pria yang biasa disapa Mas Adhie itu, hanya ada satu cara untuk menurunkan tensi politik nasional sekaligus mengeluarkan bangsa ini dari kemungkinan terjadinya konflik berbau SARA. Yakni KPK harus segera membuka brankas di gudang dan mengeluarkan berkas-berkas korupsi yang melibatkan Ahok.

"KPK harus bangun, bergerak dan menerjang. Buka brankas di gudang. Keluarkan berkas-berkas korupsi yang melibatkan Gubernur DKI non-aktif itu. Jangan ada lagi ketakutan itu. Ayat suci Alquran (Al Maidah 51) sudah melunturkan kekebalan hukum Ahok sehingga dia bisa dibawa ke ruang sidang pengadilan sebagai tersangka," kata Adhie.

Seperti kita ketahui, banyak kasus korupsi di Pemprov DKI yang mengindikasikan keterlibatan Ahok, yang sebagian berkasnya sudah tersusun rapi di KPK. Misalnya, hasil temuan BPK terkait pembelian tanah RS Sumber Waras, pembelian tanah di Cengkareng, korupsi proyek reklamasi, pengelolaan dana non-budgeter (dari pengembang) yang menyalahi undang-undang, kasus taman BMW, dan yang lain-lain.

Menurut Jurubicara mendiang Presiden RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur), sekarang ini penting bagi KPK untuk menghilangkan rasa takutnya, dan memproses skandal korupsi yang melibatkan Ahok secara wajar tanpa diskriminasi. Hal ini penting untuk menyelamatkan (citra) bangsa dan negara, terutama di pentas internasional.

Sebab, setelah aksi anti-penistaan agama oleh Ahok, yang diikuti jutaan umat Islam pada 4 November dan 2 Desember lalu, di dunia internasional beredar stigma (disinformasi) negatif. Seolah di Indonesia sedang terjadi umat Islam yang mayoritas melakukan tekanan politik untuk menyingkirkan Ahok, pejabat (gubernur DKI) karena berasal dari etnis dan agama minoritas.

"Padahal faktanya, aksi akbar umat Islam itu hanya menginginkan agar hukum benar-benar ditegakkan secara proporsional. Umat Islam melakukan aksi karena tahu selama ini Ahok kebal hukum. Buktinya, berbagai skandal korupsi yang melibatkan namanya oleh KPK berkasnya ditaruh di brankas dalam gudang," kata Adhie.

"Jadi kalau sekarang KPK bergerak dan menerjang Balai Kota, secara otomatis akan mengikis stigma negatif tentang negara kita. Seolah umat Islam di Indonesia yang mayoritas sedang bangkit melawan kelompok-kelompok minoritas non-Muslim."

Dirinya berharap para pimpinan KPK menyadari akan hal tersebut. Tidak pula mereka  membiarkan opini SARA yang negatif itu berkembang liar.

"Artinya, dengan memproses secara benar kasus-kasus korupsi yang melibatkan Ahok, akan menjelaskan kepada dunia bahwa Ahok menjadi tersangka bukan karena dia minoritas, melainkan karena melakukan tindak pidana," pungkas Adhie Massardi. [ipk]


Baca juga:
Habib Novel Akui Pernah Kerja di Pizza Hut
Dipanggil KPK, Novanto di Amerika
Gara-Gara Fitsa Hats, Habib Novel Akan Laporkan Ahok ke Polisi
Habib Muchsin Pertanyakan Tuduhan Ahok Soal Politisi Busuk yang Menggunakan Ayat Al Quran
Larang Wartawan Liput Sidang Ahok, Polisi Minta Maaf


Komentar Pembaca

Komnas HAM Sarankan Jokowi Tes DNA





Berita Populer

Habib Novel: Hasto Maling Teriak Maling!
Habib Novel: Selasa Depan Massa FPI Lebih Banyak Kawal Sidang Ahok
Sidang Ahok Dihentikan Majelis Hakim