Menuju Era Baru Dunia Zakat

Kebab  SENIN, 17 APRIL 2017 , 20:55:00 WIB

Menuju Era Baru Dunia Zakat

rumah singgah pasien (RSP) salah satu program penyaluran zakat umat oleh IZI/ist

DUNIA zakat terus berubah, sekaligus berbenah. Setiap Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) seakan berkejaran dengan waktu untuk menjadi yang terbaik dan bisa dipercaya publik. Inovasi program, cara penghimpunan, pendayagunaan zakat serta pengelolaan organisasinya pun terus dilakukan.

Terobosan-terobosan baru dan penyempurnaan berbagai macam aktivitas pengelolaan OPZ juga terus dikembangkan. Berbagai macam standar, indeks atau parameter keunggulan atau pengukuran kinerja juga terus dikaji dan ditingkatkan.

Keinginan sejumlah OPZ, baik Baznas maupun LAZ untuk menjadi terunggul dalam pengelolaan zakat di Indonesia, bahkan di dunia menjadi salah satu spirit yang juga dirasakan banyak OPZ yang ada. Saat yang sama sejumlah OPZ juga terus memperbaiki diri dan meningkatkan kapasitasnya baik secara internal maupun bersinergi bersama. Kolaborasi antar OPZ dari hari ke hari semakin massif saja, baik dari sisi sinergi program, kajian serta pengembangan kelembagaan.

Ditengah dinamika positif ini, organisasi pengelola zakat, baik BAZNAS maupun LAZ terus meningkatkan kualitas SDM-nya. Sejumlah organisasi zakat mulai secara serius melakukan rekrutmen anak-anak muda alumni berbagai kampus terbaik di Indonesia. Mereka anak-anak muda yang fresh graduate ini datang dari misalnya kampus IPB, UIN, UI, UGM, ITB, ITS, Unair, Unand, Undip, Unhas, dan sejumlah kampus lainnya di Indonesia. Bahkan sejumlah organisasi pengelola zakat lainnya sudah mulai diisi alumni-alumni universitas terbaik dari sejumlah kampus di luar negeri, baik dari Mesir, Malaysia, Sudan, Korea, Jepang dan lain sebagainya.

Anak-anak muda ini selain masih semangat dan punya antusisme yang tinggi serta skill yang mumpuni, juga mereka sangat percaya diri. Mereka kini hadir bukan di satu atau dua lembaga saja, namun juga ada di sejumlah organisasi pengelola zakat. Mereka juga sebagiannya adalah para aktivis kampus yang sebelumnya telah terbiasa mengorganisir orang-orang selama ia aktif dan hidup di kampus.

Selain percaya diri, ternyata kemampuan bahasa asing mereka juga cukup baik, seperti bahasa inggris, arab, dan beberapa bahasa lainnya mereka juga bisa menguasainya dengan cukup baik. Dalam event-event besar organisasi pengelola zakat, kita akan tahu bagaimana anak-anak muda ini dengan cekatan akan melakukan berbagai macam aktivitas dengan amat mengesankan dan terampil.

Dalam dinamika dunia zakat seperti ini, semua Organisasi Pengelola Zakat memiliki peluang yang sama untuk maju dan berkembang. Peluang menjadi yang terbaik, unggul dalam program dan memiliki inovasi dalam sejumlah aktivitas bukan hal yang sulit dilakukan. Dengan begitu, situasi ke depan yang akan terjadi di dunia zakat justru tantangannya bukan seberapa banyak dana yang berhasil dihimpun namun lebih kompleks lagi, seberapa hebat organisasi mengelola dirinya juga seberapa mampu ia menampilkan keunggulan-keunggulan dalam melayani muzaki dan mustahiknya.

Keunggulan pelayanan, riset, manajerial serta kemampuan memetakan dan mengatasi kemiskinan secara sistematis dan berkelanjutan dengan program yang paling efektif dan efisien inilah yang menjadi tantangan organisasi pengelola zakat. Bila masih ada organisasi zakat merasa masih saja bersaing dalam urusan penghinpunan dengan organisasi lainnya, ia mungkin belum move on. Belum melek situasi yang sebenarnya. Bisa juga ia kelamaan di zona nyaman, sehingga lupa mengubah diri dan menyesuaikan dengan peta baru dunia zakat di masa depan. Saat ini mungkin belum terlalu terasa situasinya, namun dalam 3 hingga 5 tahun ke depan, semuanya akan merasakan apa yang terjadi nanti. Jangan salahkan diri sendiri dan organisasi masing-masing bila tiba-tiba nanti organisasi yang tak melakukan apapun saat ini akan tertinggal jauh di belakang organisasi yang lain.

Perubahan Lansekap Muzaki

Di tengah globalisasi yang demikian kuat terjadi, sesungguhnya terjadi anomali. Masyarakat yang sangat mudah mengakses teknologi global ternyata dalam sisi yang lain memerlukan akar dan identitas yang kuat. Hal ini setidaknya pernah digambarkan oleh Samuel P Huntington, seorang Ilmuwan Politik asal Amerika Serikat bahwa setelah era perang dingin berakhir akan muncul apa yang dinamakan dengan "benturan peradaban" atau clash of civilizations. Teori ini menyatakan bahwa identitas budaya dan agama seseorang akan semakin menguat dan akan mewarnai identitasnya. Walau frame teori ini adalah sebuah pemetaan konflik antar peradaban, tapi intinya ada pada bahwa ada kemauan kuat masyarakat untuk semakin memegang identitas dirinya, termasuk agamanya setelah demikian kuat era globalisasi menyatukan dunia.

Dalam perspektif yang agak berbeda terjadi pula hal yang kurang lebih sama. Yakni dalam analisa pertumbuhan kelas menengah baru di Indonesia. Sejumlah analisa mengatakan bahwa kelas menengah baru Indonesia saat ini mulai diisi kalangan muslim. Mereka yang bergerak ke tingkat ekonomi lebih tinggi diisi anak-anak muda yang lebih terdidik dan juga lebih religius.

Kelas menengah sendiri sebenarnya memiliki sejumlah definisi yang berbeda. Namun salah satu definisi yang lebih dekat untuk konteks negara-negara berkembang di Asia adalah definisi dari Asia Development Bank (ADB). ADB (2010) mendefinisikan kelas menengah dengan rentang pengeluaran perkapita perhari sebasar $2-20. Rentang inilah yang banyak digunakan sebagai parameter untuk mengukur jumlah kelas menengah di Indonesia.

Dalam penjelasannya, rentang pengeluaran perkapita ini di bagi lagi ke dalam tiga kelompok yaitu masyarakat kelas menengah bawah (lower middle class) dengan pengeluaran perkapita perhari sebesar 2-4 US Dolar; kelas menengah tengah (middle-middle class) sebesar 4-10 US Dolar; dan kelas menengah atas (upper-middle class) 10-20 US Dolar.

Bila di lihat dengan parameter tadi, kita akan mendapati jumlah masyarakat kelas menengah Indonesia semakin meningkat. Data Bank Dunia menunjukkan bahwa kelas menengah Indonesia terus tumbuh, dari nol persen penduduk pada tahun 1999 menjadi 6,5 persen pada 2011 atau setara dengan lebih dari 130 juta orang. Data tahun 2004 menunjukan bahwa kelas menengah Indonesia berada pada angka 37 persen dari jumlah penduduk dan meningkat menjadi 56,7 persen pada tahun 2013.

Peningkatan ini terus terjadi setiap tahun. Jika ingin melihat lebih real angkanya, silahkan hitung sendiri, berapa 56,7 persen dari 250 juta penduduk Indonesia pada kurun waktu 2013. Angkanya tercatat bisa sebanyak 134 juta, luar biasa bukan?. Pada tahun 2030 diperkirakan nanti jumlah kelas menengah Indonesia akan mencapai 141 juta orang. Dan dengan demikian, dalam satu dasawarsa sesungguhnya telah terjadi mobilitas sosial orang Indonesia yang cukup signifikan.

Karena Indonesia ini dihuni oleh mayoritas Muslim, maka wajar saja bila komposisi kelas menengahpun didominasi oleh Umat Islam. Dan keunikan lain kelas menengah Indonesia adalah justru mobilitas vertikal dari sisi ekonomi ini ternyata dibarengi dengan kenaikan sisi religiusitas mereka. Sejumlah survei menunjukan bahwa tingkat kesalehan kelas menengah Muslim Indonesia saat ini terus meningkat.

Peningkatan kesalehan yang terjadi seiring dengan naiknya tingkat pendapatan dan kemapanan ekonomi ini dari waktu ke waktu semakin terlihat nyata. Mereka makin kaya, tapi juga makin saleh. Sejumlah bisnis yang muncul kini menunjukan betapa trend kebutuhan masyarakat muslim kelas menengah tak terbendung perkembangannya. Pada awalnya fashion, terutama busana muslimah untuk para wanita yang berhijab, lalu berkembang ke arah perbankan syariah, makanan halal, obat-obatan dan kosmetik halal, hotel syariah, spa syariah, organisasi pengelola zakat, infak dan sedekah serta terus melebar ke arah bisnis yang memiliki kepedulian (awarness) syariah.

Apa yang terjadi pada menggeliatnya kelas menengah muslim ini jelas sangat rasional, mengingat Indonesia sejatinya negeri dengan mayoritas Muslim di dalamnya. Negeri ini secara statistik dihuni oleh 87 persen umat Islam, dengan begitu, ketika di negeri ini kelas menengahnya naik, maka dapat dipastikan bahwa sebagian besar yang masuk ke kelas menengah ini adalah dari kalangan umat Islam.

Dengan melihat meningkatnya kelompok kelas menengah Muslim di Indonesia, sejatinya bagi OPZ semakin berpeluang meningkatkan kemampuan menghimpun dukungan dana dari mereka untuk sejumlah program yang ditawarkan bagi terlibatnya mereka untuk membiayai atau berdonasi. Semakin hari, secara potensi pastinya akan semakin besar dana yang beredar dari kelas menengah Muslim ini dalam kerangka berzakat, infak dan  sedekah.

Apakah secara otomatis dengan meningkatnya kelas menengah Muslim Indonesia lantas penghimpunan ZIS juga naik di OPZ?. Jawabannya belum tentu. Kenapa belum tentu, karena kelas menengah Indonesia sendiri masih butuh diyakinkan agar mereka percaya pada OPZ yang ada. Kenaikan ekonomi dan kemapanan baru yang dialami kelas menengah Indonesia masih belum menghilangkan habbit mereka untuk melibatkan diri dalam banyak hal walau harus sampai ke soal-soal teknis sekalipun.

Jadi ada harapan yang dimiliki oleh sejumlah kelas menengah Muslim ini untuk mereka diberikan ruang untuk bisa berpartisipasi langsung dalam sejumlah program yang digagas oleh OPZ yang mereka percaya. Ruang-ruang ini justru selain akan semakin mendekatkan hubungan antara muzaki dengan OPZ, juga memberikan kepuasan batin tersendiri pada para muzaki. Space ini bisa jadi bukan urusan teknis semata, dimana mereka sendiri sesungguhnya tersibukan waktunya untuk urusan kerja dan keluarga mereka. Space ini konkretnya adalah partisipasi ide, usulan dan gagasan mereka yang ingin didengar dan diakomodasikan dalam perencanaan program OPZ. Semakin ada partisipasi yang luas dan terbuka, akan semakin loyalitas dan dukungan mereka pun meningkat.

Kelas menengah Muslim Indonesia memang masih berkategori suka belanja (konsumerisme) namun mereka juga menyadari ada hak-hak orang lain juga yang melekat pada harta mereka. Jadilah mereka ketika ber-ZIS pun seumpama belanja, akan memilih-milih mana yang paling rasional, efektif dan efesien serta memiliki kemanfaatan yang panjang serta melibatkan banyak penerima manfaat (mustahik). Inilah tantangan yang harus dipenuhi OPZ di Indonesia hari ini, yakni harus mampu memenuhi ekspektasi muzaki. Mereka punya uang untuk donasi, namun mereka juga punya keinginan untuk "tahu lebih banyak" dan bertanya lebih banyak untuk memastikan apakah harta yang ia donasikan benar-benar programnya berkualitas atau tidak.

Kelas menengah Muslim Indonesia juga melek teknologi. Dari data yang mengatakan bahwa Indonesia saat ini memiliki 132 juta pengguna internet dari jumlah penduduk yang lebih dari 257 juta jiwa, ternyata terbesarnya adalah mereka yang berkategori kelas menengah Muslim Indonesia. Korelasi hal ini dengan OPZ di Indonesia adalah dalam hal informasi digital. OPZ sudah seharusnya meningkatkan kemampuan teknologi digitalnya agar semakin mudah bersosialisasi dan berkampanye supaya apa yang mereka lakukan bisa dengan mudah diketahui dan diikuti progresnya oleh publik, dan tentu juga oleh para donatur atau muzaki masing-masing OPZ.

Salah satu model program pemberdayaan misalnya, kini juga dituntut semakin transparan dan up to date. Banyak kelas menengah Muslim Indonesia berharap program-program yang ditujukan pada kalangan kurang mampu ini bisa bersinergi dengan teknologi digital. Mereka membayangkan bila program pemberdayaan ini bisa seperti Gojek. Sebuah ide genuine yang menghubungkan sesuatu yang nyata dan jadi bagian sehari-hari masyarakat lalu begitu disentuh teknologi digital maka ia menjadi "bisnis" yang dahsyat. Gojek yang ide dasarnya untuk memudahkan abang ojek dan calon penggunanya bisa bertemu dalam platform yang mudah,  kini bisnis Gojek ini telah mencatatkan diri sebagai bisnis besar dengan nilai yang fantastis yakni di angka Rp 17 triliun.

Inilah salah satu keinginan kelas menengah Muslim yang dalam perjalanannya juga telah menjadi harapan bersama para pengelola Zakat dan komunitas zakat yang lebih luas. Kini sudah saatnya "perlombaan" diantara OPZ bukan lagi pada masalah berapa banyaknya penghimpunan yang berhasil diraih. Penghimpunan memang penting, namun kualitas layanan dan program bagi muatahik juga tak kalah penting.

Riset terkait segmen muzaki, strategi marketing serta efektivitas layanan pelanggan untuk muzaki juga penting, namun jangan lupa juga untuk membuat peta dan sebaran mustahik serta potensi pengembangannya juga amat penting. OPZ hadir bukan untuk jadi sinterklas yang akan terus menerus bagi-bagi uang dan sesuatu untuk mustahik. OPZ lahir untuk mengakselerasi mustahik sehingga ia bisa menggali dan menenukan bakat dan kemampuannya untuk bisa hidup lebih baik. Untuk bisa merubah nasibnya dan juga keluarga mereka. Melakukan penyadaran ini jauh lebih strategis daripada menyantuni mereka setiap saat tanpa ada solusi nyata akan kesulitan dan masalah ekonomi mereka.

Jargon menjadikan mustahik menjadi muzaki hanya akan menjadi slogan kosong bila OPZ tak memiliki rencana yang memadai untuk mengubah nasib mustahik yang mereka bina. Kemiskinan memang bukan hal mudah untuk diatasi, tapi begitu saja menyerah ketika menjadi bagian dari solusi kemiskinan jelas sebuah tindakan pengkhianatan atas amanah muzaki pada organisasi kita. OPZ hadir bukan menjadi malaikat penolong yang bisa memastikan siapapun yang butuh bantuan untuk ditolong dan diberikan solusi. Namun tak berarti tidak ada rencana yang cerdas dan baik dari OPZ untuk para mustahik.

OPZ harus berdiri menjadi pandu bagi mereka yang kehilangan cahaya dan harapan dalam hidup. OPZ juga harus menjadi seolah kapal bagi mereka yang ingin hijrah menemukan mimpi-mimpi hidup lebih baik dan lebih cerah di masa depannya. Untuk itulah dalam dunia zakat, seyogyanya semangat kolaborasi antara sesama pengelola zakat harus terus dinyalakan dan dipelihara dalam jiwa setiap amil. Apapun organisasinya, baik Baznas maupun LAZ, mari mulai bergandengan menemukan cara-cara dan formula mengatasi masalah umat dan bangsa, terutama soal kemiskinan dan rendahnya kesejahteraan umat Islam dari kalangan fakir, miskin dan dhuafa.

Mereka, para mustahik sejatinya sangat berharap nasib mereka bisa dibantu dan ditolong agar mereka punya kesempatan untuk hidup lebih baik. Hidup yang menjanjikan masa depan diri mereka, anak-anak dan keluarga mereka. Pemerintah memang tak diam dalam mengatasi kemiskinan, namun bantuan program dari OPZ untuk bisa mengatasi kemiskinan tentu akan semakin mempercepat kebaikan baru di tubuh umat ini. Umat yang seolah sakit ini bukan hanya butuh ditolong dengan obat yang tepat, namun juga perlu didorong untuk bisa menyadari bahwa ia sedang  sakit dan memerlukan motivasi kuat untuk sembuh dan segera bekerja bagi masa depannya. Semoga. [***]

NANA SUDIANA
Direktur Pemberdayaan Inisiatif Zakat Indonesia (IZI)

Komentar Pembaca
Takdir Sang Perubah

Takdir Sang Perubah

RABU, 26 APRIL 2017

Rezeki Amil Sholeh

Rezeki Amil Sholeh

SELASA, 25 APRIL 2017

Memenuhi Panggilan Kemanusiaan

Memenuhi Panggilan Kemanusiaan

MINGGU, 09 APRIL 2017

Sihir Kemakmuran

Sihir Kemakmuran

SELASA, 04 APRIL 2017

Kompetisi & Sinergi Dalam Gerakan Zakat
Air, Zakat dan Kesejahteraan

Air, Zakat dan Kesejahteraan

KAMIS, 30 MARET 2017

Djarot Jangan Seperti Ahok

Djarot Jangan Seperti Ahok

MINGGU, 28 MEI 2017 , 15:00:00

Doktrin Takfiri Polisi Dianggap Kafir

Doktrin Takfiri Polisi Dianggap Kafir

SABTU, 27 MEI 2017 , 12:00:00

Tak Ada Riba Di BPJS Kesehatan

Tak Ada Riba Di BPJS Kesehatan

SABTU, 27 MEI 2017 , 10:00:00

Tamu Rusia

Tamu Rusia

SELASA, 23 MEI 2017 , 20:40:00

Pawai Obor

Pawai Obor

JUM'AT, 26 MEI 2017 , 00:44:00

Kunjungi Korban Bom

Kunjungi Korban Bom

KAMIS, 25 MEI 2017 , 18:17:00