RMOLJAKARTA

Home

Share |
CLBK Dunia Zakat
Jum'at, 21 April 2017 , 14:02:00 WIB

IST
  

"YOU came when I was happy in your sunshine
I grew to love you more each passing day
Before too long I built my world around you
And I prayed you'd love enough of me to stay
If you love me let me know
If you don't then let me go..."
(sepenggal lagu "If You Love Me, Let Me Know", Olivia Newton).

Dunia zakat adalah dunia yang dinamis, sekaligus menarik. Baik bagi para pengamat, akademisi maupun bagi para penggerak dan aktivisnya. Ibarat sumur, dunia zakat seakan terlihat dangkal di permukaan namun begitu di selami, seakan tak ada ujungnya.

Tulisan kecil kali ini mungkin kata anak muda sekarang judulnya agak lebay, CLBK dunia Zakat. CLBK di sini tentu saja artinya berbeda, yaitu "Cerita Lama Bermunculan Kembali". Kok bisa bukannya CLBK jamaknya diartikan Cinta Lama Bersemi Kembali?. Apa pula potongan lagunya Olivia Newton dimasukan di depan tulisan ini?.

Namanya tulisan gado-gado, ya apapun boleh masuk. Bebaslah, namanya juga tulisan kecil dari potret diskusi besar para pegiat zakat, pengkaji, akademisi serta peneliti zakat. Iya, awalnya tulisan ini ingin me-resume diskusi yang cukup hangat yang terjadi pada Senin sore hingga malam pada pertengahan April kemarin. Sebuah diskusi panjang (tidak pake lebar) yang secara sporadis terjadi di salah satu group para aktivis gerakan zakat. Karena di sini semua berkumpul, entah itu para akademisi, peneliti dan para praktisi zakat, kadang temanya sambung menyambung (menjadi satu, itulah Indonesia...hehe).

Namun secara pribadi, saya lihat diskusi kali ini sesungguhnya amat serius bagi gerakan zakat Indonesia. Bukan soal cara diskusinya yang sedikit pake emoticon senyum (biar dianggap serius), namun lebih pada beberapa tema dan pokok bahasan yang selama ini pernah muncul dan akhirnya kembali jadi diskusi hangat di dunia zakat.

Ketika saya baca berulang-ulang, saya menemukan benang merah diskusi kali ini. Yakni CLBK, istilah populer untuk Cinta Lama Bersemi Kembali. Kali ini kita adopsi saja menjadi Cerita Lama Bermunculan Kembali. CLBK umumnya menjadi sebuah tema yang banyak digunakan saat bertemu teman-teman lama atau reuni. CLBK ini terjadi karena sebelumnya lama tak bertemu dan tiba-tiba ada dalam ruang dan waktu yang sama. Ada sensasi tersediri dan seolah lupa dengan persoalan internal masing-masjng.

Tidak sedikit kisah-kisah CLBK terjadi karena adanya kenangan lama dan perasaan ingin berbuat lebih banyak lagi. Karena CLBK dunia zakat adalah Cerita Lama, maka berarti "cerita lama" ini bisa juga muncul karena sejumlah sebab. Sebab pertama karena adanya keterbatasan untuk bisa bertemu, bercerita dan bercengkrama bersama secara egaliter dan penuh persaudaraan dan juga kesetaraan. Yang kedua, bisa juga karena adanya gap generasi sehingga berimplikasi pada cara pandang yang berbeda terhadap persoalan-persoalan yang ada. Bahkan dalam mendefinisikan persoalan-pun mungkin memiliki metodologi yang tak sama.

Mengapa perbedaan generasi ini penting kita ketahui, karena secara usia, di dunia zakat Indonesia saat ini, hanya ada dua generasi yang mewarnai gerakan zakat Indonesia yakni generasi X dan Y. Bila kita runut ke belakang, munculnya Teori Generasi (Generation Theory) yang diperkenalkan oleh Strauss dan Howe mendefinisikan generasi sebagai agregat dari semua orang yang lahir selama rentang waktu sekitar dua puluh tahun atau sekitar panjang satu fase dari masa kanak-kanak, dewasa muda, usia pertengahan dan usia tua.

Dalam perkembangannya kemudian muncul istilah generasi X, Y, dan Z. Generasi X adalah generasi yang lahir dalam kurun waktu mulai tahun 1965-1980. Dan generasi Y adalah generasi yang lahir dalam kurun waktu tahun 1981-1994. Adapun generasi Z lahir pada kurun waktu tahun 1995-2010. Dalam pembahasan kali ini, kita akan batasi dulu pada cerita generasi X dan Y terlebih dahulu.

Istilah generasi yang berbeda-beda ini terus berkembang dan menjadi semakin menarik ketika cerita ini berkorelasi dengan karakter kerja dan visi masa depan setiap generasi yang tak sama. Mereka bisa jadi ada di ruang-ruang yang sama, namun karena adanya gap generasi mereka seakan kebingungan untuk bisa berkomunikasi dengan baik. Sejumlah hal yang berhubungan dengan pekerjaan juga kadang dikaitkan dengan ciri-ciri dari generasi yang ada tadi.

Dibawah ini asumsi yang muncul terhadap sejumlah generasi. Walau asumsi ini membutuhkan riset yang lebih memadai, namun setidaknya mewakili gambaran yang sederhana akan sebuah generasi.

Generasi X umumnya digambarkan sebagai generasi yang mampu beradaptasi, menerima perubahan dengan baik dan disebut sebagai generasi yang tangguh, memiliki karakter mandiri dan loyal (setia), sangat mengutamakan citra, ketenaran, dan uang serta tipe pekerja keras. Kekurangan generasi ini yaitu selalu menghitung kontribusi yang telah diberikan perusahaan atau lembaga terhadap hasil kerjanya.

Adapun Generasi Y digambarkan sebagai generasi yang memiliki karakteristik masing-masing individu berbeda, tergantung dimana ia dibesarkan, strata ekonomi, dan sosial keluarganya. Pola komunikasi generasi ini sangat terbuka dibanding generasi-generasi sebelumnya. Mereka juga pemakai media sosial yang fanatik dan kehidupannya sangat terpengaruh dengan perkembangan teknologi. Selian itu, mereka bisa lebih terbuka dengan pandangan politik dan ekonomi, sehingga mereka terlihat sangat reaktif terhadap perubahan lingkungan yang terjadi di sekelilingnya. Saat yang sama, generasi Y ini memiliki perhatian yang lebih terhadap ‘wealth’ atau kekayaan.

Nah, bila dalam diskusi di WAG ini dengan anggota group berjumlah 173 orang lantas terus menghangat, bisa juga selain karena berbeda generasi juga berbeda isi garasi (hehe...). Maksudnya dengan latar belakang, kedudukan serta keluasan wawasan dan cara berpikir yang berbeda akan semakin mendinamiskan forum. Menurut salah seorang peserta diskusi dalam group : "Makanya saya sarankan diskusi di forum, jangan jadi penghakiman karena kerangka berfikir yang belum disepakati".

Lalu apa sebenarnya isi diskusinya sendiri?. Awal perbincangan sebenarnya sederhana, hanya sebuah lontaran pertanyaan seorang member group yang ditujukan ke forum : "Mohon maaf mau tanya, kalau mau tahu perkembangan kinerja Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) tingkat provinsi dan kota/kabupaten bisa lihat di mana ya?".

Awalnya di group sepi-sepi saja, sampai beberapa waktu belum ada yang menanggapi atau berkomentar. Kondisi ini bisa jadi karena sejumlah member group ketika itu masih berada dalam kesibukan masing-masing. Maklum hari itu hari Senin. Jamaknya hari Senin, ada banyak pekerjaan menunggu seusai akhir pekan. Apalagi akhir pekan saat itu adalah akhir pekan long weekend yang bahkan sempat membuat heboh dengan kemacetan panjang kendaraan yang akan meninggalkan Jakarta untuk berlibur atau sekedar pulang kampung.

Saat itu, semakin malam perbincangan semakin menghangat, kata seorang member yang coba jadi penengah : "Diskusi kita kali ini sebagiannya adalah masalah fiqih, sebagiannya masalah audit, sebagiannya masalah metode akuntansi keuangan lembaga, dan tentu saja kebijakan dasar masing-masing lembaga. Secara umum bukankah masing-masing lembaga punya Dewan Penasehat Syariah sendiri-sendiri, dan silahkan dikonsultasikan dan diputuskan masing-masing".

Namanya juga CLBK, cerita lama yang muncul kembali, tentu saja ada beragam bumbu-bumbu berupa joke segar selama diskusi di group. Ada yang sedikit berbeda memang, terutama mengenai cara pandang distribusi dana (hasil penghimpunan) antara proporsi pusat dengan daerah atau cabang. Namun persoalan ini sesungguhnya hal lama yang sempat juga menjadi trending topick beberapa tahun silam, terutama era ketika lembaga-lembaga zakat non Baznas ketika itu yang hendak membuka kantor cabang atau perwakilan.

Hal ini sempat juga muncul belum lama, misalnya ketika salah satu OPZ di Kalimantan yang meminta kesanggupan pada lembaga perwakilan Laznas yang akan membuka kantor cabang untuk membuat surat pernyataan bahwa dana yang akan diperoleh dari penggalangan atau penghimpunan akan lebih banyak disalurkan di lokal sana daripada dibawa ke kantor pusatnya.

Peserta lain rupanya asyik dengan memori-memori lainnya yang juga dimunculkan dan dijadikan cerita kembali. Tentang adanya historis dan juga batasan syariah terkait tidak bolehnya dana zakat keluar daerah dan harus digunakan sepenuhnya untuk didayagunakan di daerah tersebut.

Apakah hal ini ide baru?, sayangnya bukan. Ini ide lama, dan cerita lama juga. Kalau urusan pendistribusian ini harus dalam bingkai syariah, lalu bagaimana ketika memilih pemimpin atau ketua OPZ di masing-masing tingkatan. Baik di pusat, provinsi atau kota/kabupaten. Apakah persyaratan kepemimpinan zakat boleh tidak mengacu pada sisi syariah?. Kalau diperpanjang tentu akan sampai pada sejumlah hal lain yang bermuara pada adanya kontradiksi antara satu hal dengan hal lainnya. Terutama dalam kaitan dunia zakat, ini justru semakin kompleks karena bila semua OPZ merasa telah sesuai syariah dan dapat rekomendasi syariah dari Dewan Pertimbangan Syariah (DPS) masing-masing OPZ, lalu muncul pertanyaan, DPS yang seperti apa yang dimiliki masing-masing. Karena tokh belum ada DPS yang menjadi rujukan nasional UPZ, serta belum ada juga semacam kesepakatan bersama DPS OPZ yang saling ketemu, membahas bersama dan lalu menjadi standar bersama.

Jadi, kalau cara pandang kita pada lansekap dunia zakat melihat sisi bedanya. Maka akan dengan mudah kita menemukan banyak perbedaan satu sama lain. Mulai dari yang levelnya hal-hal elementer hingga persoalan substansial di dunia zakat. Mulai dari masalah yang sederhana seperti perbedaan ukuran jenis zakat profesi, hingga masalah mekanisme pendistribusian ke daerah setelah dana/uang dari daerah disetorkan secara sistem ke rekening nasional yang ada di kantor pusat sebuah OPZ.

Belum lagi masalah investasi. Ada sejumlah OPZ yang atas nama efisiensi maka ia memilih dana yang dihimpun dikelola dulu di sejumlah bank dan baru dikeluarkan di waktu yang akan datang. Sejumlah OPZ lainnya tidak menyetujui hal ini dan menganggap hal ini adalah sebuah kesalahan fatal. Ketidak-amanahan OPZ dalam hal menghimpun dan mengelola dana umat. Bagaimana bisa investasi, bila yang sifatnya kebutuhan darurat dan prioritas umat masih banyak.

Memperbaiki Relasi Organisasi

Ada benarnya juga kata Olivia Newton dalam lagunya yang berjudul "If You Love Me, Let Me Know". Olivia Newton mengatakan "Jika kamu mencintaiku, maka biarkanlah aku tahu". Mencintai tak bisa sekedar pengakuan dari hati. Ia membutuhkan ungkapan verbal dan wujud nyata yang bisa diketahui oleh yang dicintai. Mencintai berarti tak hanya soal memiliki. Tapi ia juga harus menunjukan pengorbanan dan kesungguhan dalam mencintai. Begitu pula dalam sebuah relasi yang saling mencinta, apalagi karena cinta sesama umat Islam dalam bingkai ukhuwah. Mencintai juga harus proaktif dan ada inisiatif, untuk sebuah kebaikan bersama di dalam fase-fase yang akan dilewati bersama.

Bila kita tarik dalam relasi antara organisasi OPZ, bila benar OPZ ini adalah organisasi wakaf umat untuk kebaikan umat dan bangsa, seharusnya ada cinta yang tulus, yang tumbuh di hati para penggerak zakat di negeri ini. Persoalan perbedaan kedudukan, besar kecilnya lembaga serta volume pengelolaan dana atau program tak bisa dibenarkan jadi alasan untuk tak saling mencintai di dalam bingkai ukhuwah Islamiyah.

Dan kalau benar ada ukhuwah sejati yang muncul dan bersemayam di dada para penggerak dan aktivis zakat negeri ini, seharusnya kita bisa saling berkomunikasi dengan baik. Bila ada cinta, kemudian ia tumbuh dan bermekaran, sejatinya ia bisa menyatukan dalam bingkai yang sama yang bernama ikatan persaudaraan sesama muslim. Dalam konteks organisasi, mestinya pembicaraan kita tentang apapun dengan sesama aktivis maupun penggerak zakat tak mengurangi kecintaan kita. Perbedaan atau cara pandang yang mungkin saja berbeda, mestinya pula tak menghalangi untuk saling menghormati dan menjaga kebaikan secara bersama.

Bila memang kita menginginkan perbaikan bersama di dunia zakat Indonesia, maka sebagai saudara yang saling mencintai karena Islam sudah selayaknya kita bisa saling kritik, saling memberi masukan serta saling memberikan saran dan usulan dengan enteng. Tanpa beban dan tanpa was-was akan adanya ketersinggungan, apalagi ketidaksukaan. Wajud cinta adalah ekspresi nyata untuk kebaikan bersama. Dengan berani memberikan masukan, usulan dan lain sebagainya berarti kita sudah benar-benar merasa sebagai saudara. Sebuah relasi indah yang terjalin secara simultan hingga masa depan.

Mengapa hal ini diperlukan, agar dalam relasi organisasi OPZ hari ini hingga masa depan dipenuhi iklim saling percaya dan saling jaga. Bekerjasama dalam hal-hal yang disepakati bersama dan akan saling menghormati dalam perbedaan yang ada. Cara pandang, kebiasaan dan lingkungan yang berbeda boleh jadi akan memberi warna yang tak sama, namun hal itu tak menghalangi OPZ untuk terus bekerjasama dan saling menguatkan.

Persoalan umat ke depan, tak bisa diselesaikan secara sendirian dan dengan pendekatan parsial. Ia butuh kemampuan gabungan sehingga masalah yang ada, sebesar apapun bisa diatasi dengan metode kolaborasi dan terintegrasi. Idealnya setiap masalah yang kita atasi, tidak kembali lagi dan justru menjadi rutinitas tanpa ujung. Dengan kemampuan bersama secara kolektif, apapun masalah yang hari ini tampak besar dan seakan sulit terpecahkan, mudah-mudahan dengan kuatnya semangat ukhuwah, ia bisa ditembus dan diatasi dengan baik.

Umat kini telah memanggil kita untuk semakin menjadi bagian solusi kesulitan yang dihadapi. Tekanan ekonomi, sosial dan budaya global serta kuatnya arus kemaksiatan yang semakin dahsyat menerpa keluarga-keluarga umat Islam bukan lagi ilusi. Ancamannya telah demikian nyata dan benar-benar mengancam umat Islam, bahkan ketika anak-anak keluarga Muslim ini masih dalam fase anak-anak.

Serbuan budaya asing yang bertentangan dengan kebaikan dan nilai-nilai Islam semakin hari semakin terasa adanya. Serbuan pornografi, budaya kekerasan pada game dan permainan lainnya dalam gadget dan datangnya serbuan sejumlah tayangan sinetron dan film yang tak mendidik sama sekali kini semakin tak terhindarkan.

Dengan begitu situasinya, diperlukan semangat sinergi untuk saling mendekat dan saling berbicara. Forum-forum kopi darat serta silaturrahmi akan semakin diperlukan dalam menyambungkan ide dan gagasan terbaik yang ada di benak masing-masing pimpinan organisasi OPZ. Adalah menjadi ironis bila mengaku lembaga umat namun cara-cara mengelolanya tak memancarkan wajah da'wah dan kesantunan Islam.

Kembali ke lagu tadi, katanya : "If you love me, won't you let me know?. (Sungguh) Jika kau mencintaiku, maukah kau memberitahuku?. Beritahulah yang lain agar ia bisa tumbuh baik dan sehat. Beritahu orang-orang dan organisasi yang kita cintai karena Allah agar ia berkembang dan terus tumbuh dengan baik.

Kata sebagian member group lainnya, masalah kita ke depan, ada pada harmonisasi hubungan. Baik sesama OPZ juga dengan seluruh stekholder yang terlibat. OPZ yang di nasional, provinsi maupun kota/kabupaten harus merasa terhubung dalam situasi dan kondisi yang sama sebagai bagian penting wajah zakat Indonesia.

Persoalan kinerja, proporsi dana, kapasitas, dan soal-soal penting lainnya dalam gerakan zakat akan dengan mudah terselesaikan bila semua pihak telah memiliki cara pandang yang sama sebagai sesama saudara. Begitupun masalah-masalah rekapitulasi, administrasi, pencatatan, dokumentasi, baik di tingkatan nasional hingga kabupaten/kota juga akan semakin mudah bisa semangat sinerginya jauh lebih besar dan kuat dibanding semangat berbeda dan ingin hebat sendirian saja.

Jika benar kita saudara, mari saling berkomunikasi dan saling berbicara. Memang kita harus menyadari dengan baik bahwa dalam kehidupan, terkadang apa yang dialami sangat jauh berbeda dengan apa yang diharapkan.

Kedudukan, posisi dan kewenangan kadang mampu mengubah komitmen seseorang untuk terus menjaga cintanya dan merawatnya dengan baik. Namun di balik semua hal ini, akan terlihat sejauhmana kematangan pengalaman, nilai-nilai serta keteguhan seseorang dalam melewati fase demi fase kehidupannya. Ukhuwah bukan Ilusi, ia nyata dan menuntut bukti. Bagaimana seseorang bisa disebut setia bila ia melakukan hal berbeda antara cita-cita dan harapan yang ia miliki dengan perilaku dan tindakan nyata-nya dalam kehidupannya.

Kita semua harus menyadari bahwa membangun hubungan yang harmonis jauh lebih sulit dibandingkan dengan membangun hubungan struktural dan hierarkis. Karena dalam hubungan yang harmonis didalamnya ada cinta, saling pengertian dan besarnya rasa pengorbanan yang tumbuh dari kedalaman hati. Tak ada jaminan seberapa lamapun sebuah OPZ hadir dan mengabdi di negeri ini lalu ia bisa menjadi model relasi yang bagus di dalamnya. Mengapa?. Karena soal relasi yang harmonis, bukan hadir atas desakan atau paksaan. Ia hadir dalam jiwa dan tumbuh atas panggilan cinta.

Jadi, bila ingin melihat dunia zakat Indonesia tumbuh layaknya sebuah taman yang indah, maka tumbuhkan dulu rasa cinta di hati kita, semangat saling memperbaiki diri serta semangat bersetia dengan cita-cita bersama dan lalu kita komitmen untuk mewujudkannya. Urusan zakat hakikatnya bukan semata urusan dunia, tak ada di dunia ini OPZ hebat yang boleh jauh dari syariat.

Bisa jadi apa yang membuat maju dan berkembang sebuah OPZ dalam mengelola zakat, sesungguhnya bukan karena orang-orangnya benar-benar hebat. Ia jadi hebat dihadapan manusia pada hakikatnya karena ridha-Nya. Tanpa ada keterlibatan Allah Yang Maha Hebat, mungkin tak banyak hati tergerak dan tersentuh untuk berzakat. Allah Yang Maha Kuasa, yang menggerakan hati manusia sehingga ia memiliki kecenderungan pada sebuah OPZ daripada yang lainnya.

Mulai hari ini, mari pastikan kita belajar lagi untuk mendidik dan menundukan hati. Semua langkah yang menurut kita bisa memperbaiki OPZ masing-masing mudah-mudahan akan berkontribusi pada terciptanya lansekap gerakan zakat Indonesia yang  semakin baik dan berkualitas. Lupakan semua mantan...eh. Maksudnya lupakan semua perbedaan yang ada dan mari kita berfokus pada cita-cita menjadikan gerakan zakat ini nyata ada dan mewujud di tengah umat dan bangsa. Mari kita jadikan kebangkitan zakat sebagai momentum untuk menunjukan kemuliaan Islam dan memastikan bahwa ekonomi ribawi bisa dihancurkan dengan gerakan zakat.

Ekonomi ribawi yang cenderung menjadi mainstream dalam mengelola urusan bangsa harus segera diakhiri dan secara perlahan harus beralih pada ekonomi tanpa riba dan rente. Pengaruh riba sendiri kita tahu bersama, bukan hanya akan melahirkan kesejahteraan semu, ia juga dapat menjauhkan keberkahan dari rumah tangga Muslim. Biarkan warna ekononi Islam, termasuk dengan pendekatan zakatnya yang digunakan juga untuk pemberdayaan umat akan menjadi warna bagi lahirnya generasi terbaik dari Umat yang akan mengikis kegelapan dunia akibat kelamnya pengaruh riba. Semoga negeri ini benar-benar Allah takdirkan menjadi negeri "baldatun thoyibbatun warobbun ghoffur".

"Sungguh bagi Kaum Saba’ ada tanda (kebesaran Rabb) di kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan:) “Makanlah dari rizki yang dianugerahkan Tuhan kalian dan bersyukurlah kepadaNya!’. Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafûr”. [QS Saba (34) :15]. [***]

NANA SUDIANA
Direktur Pemberdayaan Inisiatif Zakat Indonesia (IZI)


Baca juga:
Gembiranya Hati Kami Saat Bertemu Jaka dan Salwa


Komentar Pembaca

Menkominfo Pimpin Jalan Santai WPFD





Berita Populer

Yayasan Darussalam Kota Wisata dan IZI Jalin Kemitraan Pengelolaan Zakat