Tak Elok Presiden Jokowi Ucapkan Kata Gebuk

Suara Rakyat  KAMIS, 18 MEI 2017 , 22:59:00 WIB

Tak Elok Presiden Jokowi Ucapkan Kata Gebuk

Net

KATA gebuk menurut kamus bahasa Indonesia berasal dari bahasa Jawa yang berarti memukul (dengan barang yang berat atau besar). Kalau bahasa Melayu atau Medan yang pernah diucapkan oleh Jendral Faisal Tanjung lebih tegas; "kita libas". Ucapan Jenderal Faisal ini harus dipahami dalam konteks situasi ketika itu yang otoriter.

Dalam Ilmu Komunikasi, untuk memahami makna yang pas kita diajarkan: Siapa yang mengatakan, dalam situasi mana dia mengatakan, kepada siapa dia mengatakan? Sebagai contoh Martin Luther pernah dimarahi oleh isterinya ketika dia berkata kasar saat menolak kitab Ester masuk dalam Alkitab. Luther menjawab: "Isteriku, untuk memotong pohon jati tidak cukup dengan pisau roti". Maknanya bisa diterjemahkan untuk hal-hal urgen dan prinsip, perlu juga memakai bahasa yang lugas, keras, kadang kala disebut kasar.

Mungkin atas dasar urgensi dan prinsip maka Presiden Jokowi menyebut kata 'gebuk'. Hal ini bisa dipahami tapi kata gebuk hanya disampaikan di kalangan internal itupun jika memang genting sekali, tidak boleh menjadi konsumsi publik. Terkesan otoriter apalagi di era reformasi dan di alam demokrasi sekalipun ada juga pihak yang setuju dengan kata gebuk ini merupakan sikap tegas, dari situasi saat ini.

Situasi akhir-akhir ini dapat disimpulkan 'pain because of cure' nyeri untuk kesembuhan. Bukankah kita sudah mengalami peristiwa yang besar yaitu 411 dan aksi 212, bukan ratusan atau ribuan tapi jutaan orang berhamburan di jalan ternyata damai. Bahkan penulis menyaksikan sendiri peserta aksi memberi jalan pada pengantin warga keturunan yang mau menikah di gereja Kathedral samping masjid Istiqlal.

Siapa bilang kita melakukan SARA. Aksinya masuk televisi dan bisa di tonton ulang. Ini semua berkat kerja kongkrit Kapolri dan Panglima yang tegas dan persuasif baik pada tokoh agama dan pendemo.

Jadi kata gebuk itu paling pas untuk bangsa asing yang ingin mengacau kita, bukan untuk bangsa kita. Bukankah Presiden berulang kali mengatakan bangsa kita adalah saudara kita dan diucapkan seperti puisi. Kita senang ketegasan tapi kita lebih senang kearipan. Semua ini berangkat dari kata orang bijak; "Cinta itu tidak harus selalu saling memuji bisa juga salin kritik guna kelestarian dari cinta itu sendiri".[***]

Sayyid Syarief Shebubakar
Ketua Asosiasi Muslim Profesional (AmPro)


Komentar Pembaca
Eks Gubernur Papua: Saya Menyesal Jadi WNI!

Eks Gubernur Papua: Saya Menyesal Jadi WNI!

KAMIS, 09 NOVEMBER 2017 , 15:00:00

Elektabilitas Rendah, Cak Imin Kepedean

Elektabilitas Rendah, Cak Imin Kepedean

RABU, 08 NOVEMBER 2017 , 13:00:00

Soal Reklamasi, Anies Jangan Cuci Tangan

Soal Reklamasi, Anies Jangan Cuci Tangan

SELASA, 07 NOVEMBER 2017 , 19:00:00

Terima Laporan Kunjungan

Terima Laporan Kunjungan

SELASA, 14 NOVEMBER 2017 , 01:24:00

Bahas Pahlawan Zaman <i>Now</i>

Bahas Pahlawan Zaman Now

SELASA, 14 NOVEMBER 2017 , 04:59:00

Membahas Perkembangan Islam Di Ukraina

Membahas Perkembangan Islam Di Ukraina

SELASA, 14 NOVEMBER 2017 , 10:31:00