Pasar Malam di Lapangan Sri Mersing Pupus Makna Situs Kota

Nusantara  KAMIS, 06 JULI 2017 , 11:26:00 WIB | LAPORAN: DARMANSYAH

Pasar Malam di Lapangan Sri Mersing Pupus Makna Situs Kota

Ilustrasi/Net

RMOL. Pada dasarnya pemakaian fasilitas publik jika masih dalam koridor formal sah-sah saja. Akan tetapi, untuk kegiatan seperti pasar malam yang diadakan di lapangan Sri Mersing Kota Tebing Tinggi, sudah sangat jauh dari esensi pemakaian ruang publik.

Demikian dikatakan Direktur Depublica Institute, Teddy Firman Supardi kepada Kantor Berita RMOLJakarta melalui pesan elektronik, Kamis (6/7).

Menurut Teddy, tidak cukup alasan Pemkot Tebing Tinggi memberikan izin pemakaian lapangan Sri Mersing untuk kegiatan pasar malam untuk penambahan retribusi. Sebab, dalam Perda Nomor 6 Tahun 2011 belum dimasukkan pasar insidentil atau kontemporer seperti pasar malam.

"Jadi alasan retribusi jika dilihat kerangka formal, sudah cacat kebijakan. Apalagi, jelas ini merupakan bagian dari 'rentenisasi' penggunaan fasilitas publik," tegasnya.

Teddy menegaskan kenapa kegiatan pasar malam itu harus ditolak, adalah persoalan menjaga situs kota. Sebagai situs kota, lapangan Sri Mersing memiliki banyak makna sejarah dan perjuangan.

"Secara tidak langsung, walau ruang publik tetap saja Pemkot Tebing Tinggi sudah mengizinkan kegiatan pasar malam itu menghilangkan makna situs kota lapangan Sri Mersing," sesalnya.

Teddy menjelaskan, berpandangan hulu dari permasalahan ini adalah Pemkot Tebing Tinggi tidak punya rencana tata kota yang jelas. Mana daerah yang memang boleh diadakan untuk kegiatan acara keramaian seperti pasar malam, dan mana yang tidak boleh.

"Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) harus dipatuhi karena berkaitan dengan kebijakan tata kota. Pasar malam itu bukti keputusan tata kelola perkotaaan yang buruk," katanya.

Teddy mengingatkan, dalam jargon politik "Rumah Kita" sudah jelas janji membangun dan memelihara kota. Dari kebijakan izin pasar malam ini, sudah sangat jauh dari realisasi visi misi Walikota Tebing Tinggi Umar Zunaidi Hasibuan.

"Apalagi, dalam RPJMD periode sebelumnya, Walikota berkomitmen membangun tata perkotaan yang baik. Kegiatan pasar malam seperti ini bentuk dari kebijakan yang buruk tata kelola perkotaan," demikian Teddy Firman.[dem]

Komentar Pembaca
PAN Akan Nobar Film G30S/PKI

PAN Akan Nobar Film G30S/PKI

SELASA, 19 SEPTEMBER 2017 , 17:00:00

Siapa Berani Lawan Gatot?

Siapa Berani Lawan Gatot?

SELASA, 19 SEPTEMBER 2017 , 15:00:00

Biaya Kampanye Tinggi, Korupsi Merajalela

Biaya Kampanye Tinggi, Korupsi Merajalela

SELASA, 19 SEPTEMBER 2017 , 13:00:00

PSSI Tak Berprikemanusiaan

PSSI Tak Berprikemanusiaan

SABTU, 16 SEPTEMBER 2017 , 11:59:00

Terima Majalah RMOL

Terima Majalah RMOL

RABU, 13 SEPTEMBER 2017 , 22:58:00

Satroni DPRD

Satroni DPRD

KAMIS, 14 SEPTEMBER 2017 , 13:05:00