Ekspedisi Kalimantan (Bag: 1)

Kebab  SELASA, 26 SEPTEMBER 2017 , 21:10:00 WIB

Ekspedisi Kalimantan (Bag: 1)
GERIMIS tipis mengiringi langkah kami sekeluarnya dari penginapan tempat kami rehat semalam. Ini benar-benar perjalanan, tak berhenti walau telah berhari-hari. Sejak dari Yogyakarta awal Senin kemarin, saya lanjut ke Cianjur, menyusuri sejumlah lokasi program dan bertemu orang-orang kunci untuk melakukan evaluasi dan pemetaan program pemberdayaan masyarakat di sana. Tanpa menginap kami kembali ke Jakarta sebelum Subuh tiba.

Selasa pagi sampai siang-nya marathon merencanakan banyak hal, dalam rapat-rapat dan koordinasi dengan sejumlah tim, berkejaran dengan sejumlah agenda penting yang tak lama lagi akan dilangsungkan. Dan sore, harus bergegas ke Bandara Halim agar tak tertinggal pesawat ke Balikpapan. Kapan istirahatnya? Jangan tanyakan itu, karena perjalanan baru akan dimulai. Belum apa-apa dan masih di awal kisah.

Alhamdulillah, di tengah delay-delay jadwal pesawat yang ada, hampir tengah malam saya tiba dengan selamat di Bandara Sepinggan Balikpapan. Apakah lalu istirahat? Lagi-lagi tidak, karena begitu telepon hidup sekeluarnya dari badan pesawat, yang menjemput telah gelisah menunggu untuk bersegera mengantar ke Samarinda. Ya, tanpa mengurangi rasa hormat atas derita kantuk dan laparnya perut, perjalanan menembus tengah malam nan gulita berlangsung cepat, sekitar dua jam saja mobil yang membawa kami akhirnya sampai ke Samarinda. Sepanjang perjalanan drivernya amat ramah, terlalu ramah bahkan sehingga tak sadar ia tak memberi jeda barang sekejap mata ini terpejam. Baru menjelang akhir hendak sampai Samarinda, dengan memohon ijin merapatkan mata, obrolan berhenti dengan damai. Tak ada pertanyaan, cerita dan konfirmasi tentang Jakarta, pekerjaan, keluarga dan berbagai macam hal yang ia ingin ketahui.

Baiklah pak, kata saya ketika itu, nanti kalau mau ngobrol lebih banyak, bapak bisa nemui saya di tempat kami menginap. Entahlah ia datang atau tidak, karena tokh jam 2 pagi begitu sampai hotel, saya serasa melayang berjalan menuju kamar di lantai 2 hotel. Dan ajaibnya, begitu ketemu Tim dari Jakarta yang telah dulu tiba yang telah ada di kamar, kantuk ini seakan entah menguap kemana. Hampir jam tiga lebih, mata kembali terasa berat, seakan ada beban hebat di pelupuk kedua mata.

Pagi-pagi kami sarapan nasi bungkus seadanya, sambil bergegas bersiap memulai acara. Karena sejak awal tak ada jadwal sambutan dari kami, acara semakin teras happy. Menikmati bagian demi bagian yang tersaji dihadapan, entah itu mata acara, sambutan demi sambutan, pemukulan gong hingga menikmati snack acara yang terdiam menunggu sentuhan orang Jakarta yang masih lapar namun tetap coba menjaga marwah dihadapan peserta. Lapar ya lapar, namun kan tidak mungkin di depan tamu-tamu penting apa-apa yang ada di meja lantas dihabiskan. Itu mah namanya ndeso.......hehe.

Saya hari itu memang mewakili Ketua Umum FOZ, Pa Nur Efendi hadir di acara Musyawarah Wilayah FOZWIL Kaltim. Selaian nantinya melantik pengurus harian terpilih, ada pula Talkshow tentang "Peran dan Tantangan Pengelolaan Zakat Untuk Pemberdayaan Masyarakat di Kaltim". Tema ini menarik sekaligus menjadi triger untuk mendesain rencana dunia zakat di Bumi Etam. Para pegiat zakat di sini ditantang untuk mulai merancang dan mempersiapkan pengelolaan zakat dengan sebaik-baiknya bagi kepentingan masyarakat, terutama mereka yang miskin dan memerlukan bantuan banyak hal.

Talkshow akhirnya diisi kami bertiga, saya mewakili pelaku gerakan zakat, dari Kemenag Kaltim dan MUI Kaltim. Banyak hal dibicarakan, diceritakan serta ada juga sejumlah pertanyaan dari peserta. Intinya semua pihak sepakat bahwa untuk mengoptimalkan zakat di Kaltim, perlu kerja keras dari banyak pihak dan juga perlu sinergi dari semua komponen zakat yang ada. Tak bisa persoalan zakat ini hanya menjadi beban salah satu pihak. Uniknya di Kaltim, semua unsur kompak terlibat, Kemenag, Pemerintah Propinsi, Baznas Propinsi, MUI Kaltim, BUMN dan sejumlah pihak-pihak lainnya yang ada di Kaltim. ini bisa jadi contoh yang baik bagi daerah lainnya di belahan Nusantara. Kerja bersama tanpa banyak basa-basi dan terus menjalin sinergi untuk kebaikan umat dan anak bangsa.

Siang hari seusai Talk Show saya bergegas melanjutkan perjalanan, bukan tak ingin menunggu acara hingga berakhir sempurna, namun apa daya tiket menuju Tarakan tercetak 18.20 dari Bandara Sepinggan, Balikpapan. Padahal dari Samarinda, tempat acara berlangsung, masih diperlukan 2,5 hingga 3 jam perjalanan. Dan akhirnya dengan berat hati, saya pamit melanjutkan langkah kembali menuju Balikpapan. Singkat cerita, benar apa yang diduga, jalanan cukup padat sehingga tiga jam lebih kami tiba di Bandara Balikpapan. Aneh juga sebenarnya, kenapa Samarinda sebagai Ibu Kota Propinsi Kalimantan Timur tak memiliki bandara memadai yang jadi pintu gerbang memasuki propinsi ini. Sehingga ketika orang hendak ke luar Kaltim dengan pesawat, titik utamanya harus dari Balikpapan.

Ujian belum reda ketika akhirnya saya bisa duduk sejenak di ruang tunggu. Baru saja hendak bernafas lega menjelang shalat maghrib saat itu, tiba-tiba muncul pengumuman kalau pesawat kami delay. Ya sudahlah, mau bagaimana lagi. Shalat lah saya berjama'ah dengan penumpang senasib di mushola, lalu diteruskan dengan menjamak shalat isya sekalian. Kami lantas duduk sejenak, bertegur sapa dan saling bertanya sebagai penumpang satu pesawat. Tak lama, muncul pula pengumuman delay berikutnya. Nah, orang-orang mulai berkerumum di depan konter pemberangkatan di depan gate masuk. Ketika mereka mulai mengkonfirmasi ke petugas, tiba-tiba datang orang yang mengaku mewakili tim maskapai menyatakan kemungkinan pesawat malah cancel dan akan dipindah esok hari.

Ibu-ibu yang tadinya tenang dan tampak menyimak setiap informasi yang dijelaskan mulai panik. Mereka seolah berkomplot untuk berteriak dan mulai membuat gaduh. Alasan bahwa bandara Juwata di Tarakan sudah close statusnya dan tak menerima pesawat lagi terbantahkan dengan mudah dengan dua hal. Pertama ternyata ada pengumuman kalau ada pesawat yang berangkat ke sana dan penumpang diminta masuk ke pesawat. Kedua, rupanya ada sejumlah penunpang yang punya koneksi ke sana dan memastikan bahwa bandara sana masih siap menerima pendaratan pesawat. Nah lho, dengan begitu alasan tadi mentah dan bertambah marahlah ibu-ibu alias emak-emak yang entah darimana jumlahnya kok jadi tambah banyak dan tambah galak. Mungkin karena kelelahan menunggu dan di dera rasa lapar, mereka tak lagi malu-malu berteriak-teriak dan malah sebagian ada yang mulai memaki dan ada pula yang mulai pasang aksi hendak menangis. Dan entah pula tersebab apa, bapak-bapak tiba-tiba perlahan minggir dan membiarkan emak-emak ini bertambah ekspresif dan seakan semakin solid. Mereka tak mau ada snack, makan malam, atau hotel untuk menginap. Semua satu kata, lawan......eh maksudnya berangkat malam itu juga walau jam berapapun. Hidup emak-emak......hehe.

Alhamdulillah, perjuangan mereka berhasil. Pihak maskapai meluluskam permintaan seluruh penumpang walau harus menunggu hampir dua jam dari ketegangan terakhir yang terjadi. Wajah lapar, lelah dan mengantuk kembali menghiasi setiap penumpang. Wajah garang dan penuh ledakan emosi seakan menguap entah kemana. Mereka sebagian duduk seadanya tak mau terpisah jauh dari kerumunan penumpang lainnya. Ini solidaritas sesaat, walau tak saling kenal, karena satu kepentingan, semua saling mendukung dan saling memastikan tak ada penumpang lain bernegosiasi sendiri demi kepentingan sepihak.

Dengan kelelahan menumpuk di mata, memasuki badan pesawat seolah melihat kasur terbentang. Begitu duduk, sejumlah penumpang seolah khusyu dalam alunan mimpi masing-masing. Meninggalkan kegaduhan menuju kedamaian alam lain. Alam indah tanpa penghalang waktu dan segala keterbatasan. Mimpi adalah batas jiwa menembus segala ketidakmampuan dan segala ketidaksempurnaan. Begitu pesawat hendak turun, barulah suara-suara penumpang kembali riuh terdengar. Tadi, di sepanjang 50 menit perjalanan di atas langit malam Balikpapan menuju Tarakan, semua penumpang seakan terbuai indahnya gelap malam di ketinggian. [Bersambung]

NANAN SUDIANA
Direktur Pemberdayaan IZI


Komentar Pembaca
Ketua DPR: Pro Jokowi Juga Harus Ditindak!

Ketua DPR: Pro Jokowi Juga Harus Ditindak!

SENIN, 07 MEI 2018 , 19:00:00

PKS: Pemikiran Ekonomi Rizal Ramli Brilian

PKS: Pemikiran Ekonomi Rizal Ramli Brilian

SENIN, 07 MEI 2018 , 17:00:00

Rumah Nyaman Nelayan Senang

Rumah Nyaman Nelayan Senang

SENIN, 07 MEI 2018 , 15:00:00

Zohri Disopiri Jokowi

Zohri Disopiri Jokowi

KAMIS, 19 JULI 2018 , 00:13:00

Terburuk Dalam Sejarah

Terburuk Dalam Sejarah

JUM'AT, 03 AGUSTUS 2018 , 09:28:00

Hasil Tes Kesehatan Capres-Cawapres

Hasil Tes Kesehatan Capres-Cawapres

RABU, 15 AGUSTUS 2018 , 09:46:00