Ekspedisi Kalimantan (Bag: 2)

Kebab  JUM'AT, 29 SEPTEMBER 2017 , 10:13:00 WIB

Ekspedisi Kalimantan (Bag: 2)
"TAK ADA orang yang terlalu buruk untuk memulai kebaikan. Tak ada orang yang terlalu baik untuk boleh berhenti dari berkebaikan" - Salim A. Fillah

Lagi-lagi rintik hujan menemani langkah kaki saat mulai menyusuri bagian demi bagian Kota Tarakan yang kami datangi. Kota Tarakan yang pernah tercatat sebagai kota terkaya ke-17 di Indonesia ini merupakan kota penting di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara). Kota yang berjuluk Bumi Paguntaka ini juga bergelar Kota Minyak di salah satu provinsi termuda di Indonesia. Bumi Paguntaka sendiri artinya Bumi Kita.

Tarakan adalah salah satu gerbang masuk yang cukup penting ketika ingin menuju daerah-daerah lainnya di Provinsi Kaltara. Kota ini memiliki luas wilayah 250,80 km² dan sesuai data yang ada, Kota Tarakan berpenduduk sebanyak 239.787 jiwa. Bila dilihat dari sisi nama, kata "Tarakan" menurut cerita rakyat berasal dari bahasa Tidung "Tarak" (bertemu) dan "Ngakan" (makan) yang secara harfiah dapat diartikan "Tempat para nelayan untuk istirahat makan, bertemu serta melakukan pertukaran atau barter hasil tangkapan dengan nelayan lain". Selain itu Tarakan juga merupakan tempat pertemuan arus muara Sungai Kayan, Sesayap, dan Malinau.

Dari Kota Tarakan ini pula Tim Ekspedisi Inisiatif Zakat Indonesia (IZI) memulai perjalanan singkat menyusuri beberapa titik perbatasan di Kalimantan Utara dengan Malaysia. Tim kecil ini tak hendak muluk-muluk bekerja, Tim ini hanya ingin fokus memastikan sejumlah data dan informasi yang didapatkan sebelumnya yang menceritakan berbagai kondisi daerah perbatasan dengan sejumlah cerita berikut bumbu-bumbunya. Dari data awal yang di dapatkan Tim, sejumlah informasi menggambarkan kondisi kemiskinan daerah perbatasan yang juga dilengkapi dengan berbagai ketertinggalan sarana dan prasarana atau infrastruktur yang ada di sana.

Lembaga Amil Zakat (LAZ) IZI walau lembaga baru di dunia Filantropi Islam Indonesia, namun bukanlah pihak yang dengan mudah menelan mentah-mentah informasi dan data yang masuk dan kami dapatkan. Dengan bekal kemampuan sosial mapping dan analisis sosiologi masyarakat, kami memulai menguji data dan informasi awal dengan terjun langsung ke lapangan untuk memastikan kesesuaian data dan informasi yang ada dengan kondisi lapangan sebenarnya. Ini bukan soal percaya dan tidak percaya dengan data yang telah tersedia, namun kami meyakini bahwa percaya pada data dan informasi adalah baik, namun akan lebih baik lagi memastikan data dan informasi tersebut apakah sesuai dengan kondisi yang sebenarnya atau tidak.

Membaca Indonesia dari Area Perbatasan


Berkeliling dan melihat daerah-daerah perbatasan Indonesia ternyata tak semata butuh dana, tenaga dan pikiran. Apalagi memutari daerah-daerah di Provinsi Kalimantan Utara dan sekitarnya yang medannya tak mudah, juga transportasinya yang tak murah. Dalam berkeliling dan mengunjungi daerah perbatasan tadi, sejatinya dibutuhkan hati yang tenang dan cara pandang yang optimis dalam meresapi semua fakta dan kenyataan yang ada dihadapan. Setiap realitas tak bisa secara reaktif direspon, apalagi yang menyangkut perbedaan atau kekurangan yang ada dalam penglihatan kita di lapangan, tak lantas pula dikeluhkan terlebih dimasukan ke dalam hati sehingga menjadi baper kata anak muda sekarang. Tenang, tenang dan jaga optimisme dalam setiap moment dan cara pandang. Inilah yang tetap bisa membuat kita tersenyum manakala membaca setiap jengkal temuan di lapangan.

Sikap ini yang kami pegang sejak awal. Terutama saya yang secara keseharian lebih banyak berada di Jakarta dan sekitarnya. Cara pandang Jakarta bisa berisiko bila terus digunakan ketika berada ditengah realitas masyarakat perbatasan. Kami di IZI juga meyakini bahwa melebur dalam cara pandang lokal ketika melihat permasalahan yang ada jauh lebih bisa menemukan solusi-solusi praktis daripada tetap menggunakan cara pandang dari luar.

Dengan keterbatasan waktu dan tenaga serta dana yang juga harus diperhitungkan dengan cermat, kami memutuskan tak mungkin mengunjungi sejumlah spot yang dirujuk media dan lembaga sosial lain sebagai kantong kemiskinan di daerah perbatasan yang ada di Kaltara. Oleh sebab itu, dalam kesempatan kali ini kami fokus di sekitar Kabupaten Nunukan, terutama di daerah Simanggaris dan Pulau Sebatik. Di pulau sebatik sendiri kami mengitari daerah-daerah di sekitar garis perbatasan darat dan perairan dengan Malayasia. Terutama kami juga melihat dari dekat kondisi warga masyarakat di sekitar perbatasan darat Indonesia-Malaysia yang jadi pintu lalu lintas masuk orang dan barang antar negara.

Selama ini asumsi yang muncul di benak masyarakat di luar daerah perbatasan adalah bahwa sebagian besar daerah-daerah ini tertinggal kehidupannya. Selain itu, terbatas pula infrastruktur dan fasilitasnya. Benarkah demikian adanya? Ternyata ketika kita sampai ke lapangan, kita lihat langsung apa yang sebenarnya terjadi, tak semua asumsi itu benar adanya. Ada daerah tertinggal memang di bagian garis perbatasan, namun tak berarti mereka semua miskin. Ada yang memamg miskin, namun tak sedikit yang kaya, dan bahkan beberapa dari mereka kekayaannya mampu melampaui kekayaan orang-orang yang saat ini hidup di kota sebesar Jakarta.

Cara pandang lain juga, kadang kita dari luar perbatasan memiliki gambaran bahwa daerah perbatasan adalah daerah yang kurang aman, sehingga perlu  diawasi penuh dan bahkan oleh pihak pemerintah kemudian ditempatkan sejumlah tentara untuk mengawasi dan memastikan kemamanan setempat. Cara pandang ini ternyata hingga hari ini masih kuat, melekat bukan hanya si sebagian besar masyarakat yang ada, namun juga sebagiannya masih jadi salah satu pendekatan pemerintah dan aparat keamanan. Wajar d i sejumlah tapal batas antar negara tentara cukup mendominasi penjagaan dan menyebabkan pula cara pengelolaan dan pembangunan daerah-daerah perbatasan yang ada, dinamikanya dipengaruhi paradigma keamanan.

Ke depan, idealnya ada keseimbangan cara pandang kita semua dalam melihat daerah perbatasan. Pendekatan pembangunan perbatasan dengan mengutamakan pada pendekatan keamanan harus diimbangi dengan pendekatan kesejahteraan sehingga daerah-daerah perbatasan bisa lebih maju dan berkembang dengan baik. Kenapa daerah perbatasan harus dibangun? Tak lain jawabannya agar sebagai wajah dan citra bagian negeri terluar yang dilihat negara lain, kita memiliki kondisi yang baik, yang bisa diapresiasi warga negara tetangga di luar batas negara.

Pembangunan daerah perbatasan juga berkaitan erat dengan misi pembangunan nasional yang diharapkan mampu menjamin keutuhan dan kedaulatan wilayah, pertahanan keamanan nasional, serta meningkatkan kesejahteraan rakyat, terutama mereka yang hidup dan tinggal di wilayah perbatasan. Sudah pula saatnya semua pihak bersinergi mendorong wilayah-wilayah perbatasan yang ada menjadi pintu masuk bagi kebaikan kedua pihak, terutama masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi tersebut. Perbatasan juga akan lebih baik bila didorong menjadi gerbang aktivitas ekonomi dan perdagangan, juga sarana layanan jasa dan berbagai kepentingan yang bisa berkorelasi pada peningkatan kerjasama ekonomi masyarakat di sepanjang perbatasan.

Sebagaimana kita tahu, secara administratif, kawasan perbatasan darat Indonesia-Malaysia meliputi 3 (tiga) provinsi yaitu Provinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur. Daerah ini, terdiri dari 8 (delapan) Kabupaten, yaitu Kabupaten Sambas, Bengkayang, Sanggau, Sintang, Kapuas Hulu (Kalimantan Barat), Malinau, Nunukan (Kalimantan Utara) dan Kutai Barat (Kalimantan Timur). Garis perbatasan darat di Pulau Kalimantan yang berbatasan dengan negara bagian Sabah dan Sarawak Malaysia secara keseluruhan memiliki panjang 1.885,3 km.

Masalah Harian Daerah Perbatasan

Daerah perbatasan bukanlah sekedar pemisah fisik yang membelah wilayah antar negara. Daerah-daerah ini juga menjadi pembeda bagaimana cara pemerintah masing-masing membangun wilayah dan mengelola warganya yang ada di sana. Walaupun dihadapkan pada perbedaan kebijakan, secara umum warga yang tinggal di perbatasan masih ada yang terikat dalam ikatan kekeluargaan dan suku antar mereka. Jadi walaupun mereka hidup di negara yang berbeda, warga masyarakat Indonesia dan Malaysia di kawasan ini tetap terus terhubung dan terjalin erat satu sama lain. Hal inilah salah satu penyebab terjadinya arus orang dan perdagangan barang yang terjadi secara tradisional, yang bahkan sebelum secara resmi ada pintu-pintu perbatasan formal antar negara. Mereka karena kepentingan kekeluargaan dan ekonomi antar warga, terus saja melakukan aktivitas keseharian di lintas  batas antar kedua negara.

Hidup di daerah perbatasan memang identik dengan keterbatasan, saat yang sama ada godaan kuat untuk melihat negeri sebelah yang letaknya tak jauh dari jangkauan. Terlihat setiap hari dan terdengar dengan amat terang. Menurut sejumlah penduduk yang kami temui di sekitar perbatasan, harus diakui memang negeri kita belum maksimal membangun perbatasan.

Kondisi infrastruktur sosial ekonomi di daerah perbatasan, baik dalam aspek pendidikan, kesehatan, maupun sarana prasarana penunjang wilayah, masih memerlukan banyak peningkatan. Kondisi ini berbeda situasinya bila kita melihat negara tetangga, yakni Malaysia. Ini jelas membuktikan bahwa dari sejumlah sisi kebijakan, kawasan perbatasan kita di Indonesia masih relatif tertinggal pembangunannya.

Perkembangan daerah perbatasan memang tak berlangsung tiba-tiba. Apalagi penduduk di sekitar kawasan perbatasan pun jumlahnya tak merata di masing-masing area yang ada. Namun seiring waktu, ternyata daerah perbatasan semakin ramai, dalam perkembangannya tak semua orang-orang sekitar saja yang melintas batas. Ada pula pada beberapa kejadian orang tak bertanggungjawab melintas batas dan justru membawa masalah baru. Mereka menyeberang garis antar negara untuk melakukan kegiatan-kegiatan ilegal seperti melakukan pembalakan liar, penyelundupan barang, tenaga kerja ilegal, dan sejumlah kegiatan lainnya.  

Saat saya dan Tim IZI secara singkat berkesempatan menyusuri bagian demi bagian daerah perbatasan yang ada di Kalimantan Utara, khususnya di Kabupaten Nunukan, kami jadi mengetahui dengan pasti kondisi sebenarnya. Apa yang kami lihat dan rasakan, bukan lagi katanya atau kata data, namun benar-benar dengan mata kepala sendiri kami saksikan.

Dalam amatan kami yang tak lama berada di lintasan perbatasan Indonesia, ternyata di balik keterbatasan intrastuktur dan fasilitas umum lainnya, daerah perbatasan justru menyimpan potensi alam yang tak bisa dianggap kecil. Di sejumlah tempat, kami lihat sejumlah titik yang menunjukan keindahan alam yang sangat potensial untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata serta ada pula untuk pengembangan budidaya ikan, serta rumput laut yang melimpah. Rumput laut di sini memang unik, ia ternyata bisa hidup dan berkembang di tengah air yang keruh diantara muara dan pantai sekitar perbatasan yang ada di Kabupaten Nunukan, Kaltara.

Potensi wisata yang bagus ini sayangnya berada jauh dari jangkauan. Akses transportasi untuk menuju ke lokasi juga terbatas. Ada memang perahu-perahu kecil yang bersedia mengantarkan ke sejumlah lokasi, namun karena jauhnya dan sulitnya medan yang dituju, berimbas pada mahalnya harga yang dikeluarkan oleh pengunjung yang akan ke sana. Padahal jika pihak pemerintah jeli melihat potensi tersebut dapat menjadi daya tarik wisata yang luar biasa yang nantinya dapat memberikan kontribusi yang cukup besar bagi daerah-daerah yang ada di sekitar perbatasan. Sebenarnya, bukan sekadar keindahan alam pesisir-pesisir pantai dan sungai-sungai yang ada di sini yang bisa ‘dijual’ kepada dunia, namun keindahan eksotisme budaya adatnya juga menjadi salah satu keunikan dan kekhasan yang bisa disajikan kepada siapapun yang datang yang tidak bisa dijumpai di tempat lain.

Perjalanan dengan perahu atau kapal kecil melalui laut dan sungai adalah yang paling tersedia di kawasan perbatasan, apalagi gugusan pulau-pulau yang ada tak pula mudah disinggahi kapal besar. Ini sebabnya dermaga-dermaga sederhana dan terbuat dari kayu banyak menghiasi bagian pulau-pulau yang ada di kawasan perbatasan.

Perbatasan Indonesia-Malaysia di sini cukup lengkap konturnya, ada wilayah yang merupakan sungai, pantai, laut, hamparan kebun kelapa sawit, kebun atau ladang pertanian, juga perkampungan warga biasa.

Selain potensi keindahan alamnya, ada juga rupanya di Kabupaten Nunukan ini sumberdaya alam lainnya yang cukup besar dan bernilai ekonomi sangat tinggi, terdiri dari hutan produksi (konversi), hutan lindung, taman nasional, dan hutan bakau alami, yang dapat dikembangkan menjadi daerah wisata alam (ekowisata). Untuk areal hutan, sebagian kini malah masyarakat dan perusahaan-perusahaan swasta pemilik perkebunan kelapa sawit telah mulai mengkonversi hutan-hutan yang ada menjadi areal penanaman kelapa sawit atau  merubahnya menjadi kawasan perkebunan komoditas lainnya.  Konversi hutan di sini juga dalam praktiknya banyak yang bekerja sama dengan perusahaan swasta nasional maupun yang bekerjasama dengan perkebunan asing yang umumnya berasal Malaysia. [Bersambung]

NANAN SUDIANA
Direktur Pemberdayaan IZI

Komentar Pembaca
Ketua DPR: Pro Jokowi Juga Harus Ditindak!

Ketua DPR: Pro Jokowi Juga Harus Ditindak!

SENIN, 07 MEI 2018 , 19:00:00

PKS: Pemikiran Ekonomi Rizal Ramli Brilian

PKS: Pemikiran Ekonomi Rizal Ramli Brilian

SENIN, 07 MEI 2018 , 17:00:00

Rumah Nyaman Nelayan Senang

Rumah Nyaman Nelayan Senang

SENIN, 07 MEI 2018 , 15:00:00