Natalius: 1300 Orang Tidak Terancam OPM, Aparat Bangun Opini Sebagai Dalih Serangan

Polhukam  KAMIS, 09 NOVEMBER 2017 , 19:59:00 WIB

Natalius: 1300 Orang Tidak Terancam OPM, Aparat Bangun Opini Sebagai Dalih Serangan

Natalius Pigai/net

RMOL. Berita versi aparat keamanan menyebut ada sekitar 1300 masyarakat di Desa Kimbely dan Desa Banti, Kecamatan Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua, dikepung oleh kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Polri bersama unsur TNI dikabarkan sedang menyusun langkah persuasif dan preventif agar masyarakat bisa terbebas penyanderaan itu.

Namun, aktivis kemanusiaan asal Papua, Natalius Pigai, meragukan informasi tersebut. Dia malah mengatakan, 1300 orang dilarang keluar dari desa karena ada ancaman dari militer dan kepolisian Indonesia.

"Ribuan rakyat di daerah pedalaman Mimika adalah warga biasa yang sudah berbaur dan merupakan sanak saudara dari anggota TPN-OPM, karena itu saya mendengar katanya sengaja dilindungi oleh mereka dan saat ini kondisi rakyat masih dalam keadaan aman meskipun dalam dalam ancaman pengepungan TNI dan Polri," jelas pimpinan Komnas HAM RI itu dalam pesan elektroniknya.

Dia mengatakan, sudah lebih dari 50 tahun rakyat Papua hidup dalam ketakutan dan trauma panjang. Dalam situasi perang rakyat tahu bahwa TNI dan Polri mengancam keselamatan nyawa mereka. Karena itu dia menganggap informasi dari Kepala Kepolisian Daerah Papua, Irjen Pol Boy Rafli Amar, itu tidak bisa dijadikan pegangan. Bahkan ia menuding aparat bersenjata sedang membangun opini sebagai persiapan untuk menyerang warga sipil.

"Apa yang disampaikan Pak Boy itu versi Polri bersama unsur TNI, tetapi tidak bisa dijadikan pegangan. Opini yang dikembangkan oleh TNI dan Polri bisa saja untuk menggiring opini untuk operasi pengepungan dan menjustifikasi bahwa tidak bersalah jika rakyat mati tertembak dalam pengepungan," ujar Natalius.

"Saya kecam opini ini membahayakan dan mengancam stabilitas integrasi sosial dan integrasi politik," tegasnya.

Dia menambahkan, rakyat Papua mulai ketakutan dan terancam karena beberapa hari lalu muncul pernyataan dari Pangdam Cenderawasih untuk berperang dengan mengabaikan hak asasi manusia. Menurut Natalius, pernyataan tersebut menyebabkan rakyat ketakutan dan meminta perlindungan ke OPM.

"Kami minta Presiden hentikan perang dan ciptakan perdamaian abadi di Papua. Jangan hanya obral janji, menciptakan citra media seakan Papua di metamorfosis seperti Pulau Jawa. Hari ini saya kecewa Presiden larut dalam pesta-pora sementara nyawa 1.300 rakyat Papua terancam dalam medan perang," sindir Natalius. [Aldi/ald]

Komentar Pembaca
Eks Gubernur Papua: Saya Menyesal Jadi WNI!

Eks Gubernur Papua: Saya Menyesal Jadi WNI!

KAMIS, 09 NOVEMBER 2017 , 15:00:00

Elektabilitas Rendah, Cak Imin Kepedean

Elektabilitas Rendah, Cak Imin Kepedean

RABU, 08 NOVEMBER 2017 , 13:00:00

Soal Reklamasi, Anies Jangan Cuci Tangan

Soal Reklamasi, Anies Jangan Cuci Tangan

SELASA, 07 NOVEMBER 2017 , 19:00:00

Terima Laporan Kunjungan

Terima Laporan Kunjungan

SELASA, 14 NOVEMBER 2017 , 01:24:00

Bahas Pahlawan Zaman <i>Now</i>

Bahas Pahlawan Zaman Now

SELASA, 14 NOVEMBER 2017 , 04:59:00

Membahas Perkembangan Islam Di Ukraina

Membahas Perkembangan Islam Di Ukraina

SELASA, 14 NOVEMBER 2017 , 10:31:00