ICMI: MUI Kalah Telak, Animisme Dinamisme Bakal Tumbuh Subur Di Indonesia

Politik  KAMIS, 09 NOVEMBER 2017 , 20:54:00 WIB

ICMI: MUI Kalah Telak, Animisme Dinamisme Bakal Tumbuh Subur Di Indonesia

Agama Lokal/net

RMOL. Anggota Dewan Pakar ICMI Pusat, Anton Tabah Digdoyo angkat bicara soal dampak negatif dari keputusan Mahkamah Konstitusi (MK). MK telah mengetuk palu dan menyatakan penganut kepercayaan bisa masuk kolom agama di KTP.

"Lalu ada yang bertanya, apakah ini kecolongan atau kekalahan telak Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam membentengi akidah umat?," tanya Anton melalui keterangan tertulis yang diterima redaksi, Kamis (9/11).

Menurut Anton MUI ataupun lembaga agama lainnya memang sudah kalah dalam melaksanakan fungsi dan tugas pokoknya. Untuk diketahui, beberapa fungsi MUI adalah melindungi umat Islam dari akidah yang salah, pemikiran dan pemahaman sesar serta akhlak yang buruk.

"Jadi dengan disahkannya aliran kepercayaan setara dengan agama ini berarti MUI dan lembaga-lembaga agama telah kalah," tegas Anton.

Menurut Anton, diciptakannya MUI oleh pemerintahan Suharto adalah untuk menghindari kesetaraan antara agama dan aliran kepercayaan. Bahkan Presiden Suharto saat berdiskusi dengannya mengatakan aliran kepercayaan pada akhirnya harus hilang dan menginduk ke agama-agama yang sudah ditetapkan oleh pemerintah.

"Kata Pak Harto aliran kepercayaan pada akhirnya harus hilang dan menginduk ke lima agama yang ditetapkan di Indonesia," ungkap Anton.

Menurut Anton, amanah yang termaktub di Pancasila dan UUD 45, dasar NKRI adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Artinya, NKRI bukan didasarkan pada aliran kepercayaan namun negara agama.

"NKRI adalah negara beragama bukan negara penghayat aliran kepercayaan. Keputusan MK itu menandakan NKRI mundur ke zaman batu, animisme-dinamisme bakal tumbuh subur lagi di Indonesia, di era sains yang semakin maju," sesal Anton.

Menurut Anton, pemerintahan Joko Widodo-Jusu Kalla harus segera sadar jika keputusan MK ini dibiarkan maka akan menimbulkan konflik di tengah masyarakat.

"Bangsa Indonesia ini sangat majemuk, dilegalnya aliran kepercayaan makin rentan konflik horizontal," demikian Purnawirawan Jenderal Polisi ini. [Ihsan/san]

Komentar Pembaca