Tarif Cukai Rokok dan Keberpihakan Pemerintah

Suara Rakyat  SABTU, 03 NOVEMBER 2018 , 16:59:00 WIB

Tarif Cukai Rokok dan Keberpihakan Pemerintah
RMOLJakarta.Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, bahwa pemerintah tidak menaikan tarif cukai rokok untuk tahun 2019. Keputusan tersebut diambil setelah berkonsultasi dengan Presiden Jokowi dan jajaran menteri Kabinet Kerja.

Sri Mulyani mengatakan, pemerintah akan mengenakan tarif cukai hasil tembakau tahun depan dengan besaran yang sama dengan 2018.

Keputusan pemerintah yang tidak menaikan tarif cukai hasil tembakau atau rokok ini, menunjukan sikap yang tidak berpihak pada upaya menyehatkan warga negara dengan menjauhkan dari bahaya merokok serta bahaya racun asap rokok.

Sikap ini juga merupakan sikap yang bertentangan dengan upaya menjauhkan akses anak-anak dan remaja terhadap rokok.

Harga rokok akan murah karena tarif cukainya tidak dinaikan dan mudah diakses anak-anak juga remaja. Membiarkan anak-anak dan remaja dapat mudah mengakses rokok adalah perilaku tidak beretika.

Ada tiga sikap penting seharusnya yang didukung oleh pemerintah dalam melihat masalah dampak dari penggunaan produk tembakau, rokok di masyarakat.

Seharusnya pemerintah mempertimbangkan alasan kesehatan, etika dan ekonomi, dalam membuat kebijakan terhadap upaya pengendalian dampak dari penggunaan produk tembakau, seperti halnya rokok.

Sudah bukan pengetahuan sulit lagi untuk membuktikan bahwa merokok adalah tidak sehat dan mematikan bagi si perokoknya juga perokok pasif di sekitarnya.

Sifat mematikan ini menandakan bahwa rokok harus dikendalikan penyebaran dan penggunaannya maka dikenakan cukai terhadap rokok (pajak dosa atau sintek).

Begitu pula saat sekarang sebenarnya sudah tumbuh kesadaran masyarakat bahwa rokok itu berbahaya dan mematikan. Saat ini para perokok sudah dibuat semakin sulit dan kecil ruang kebebasannya untuk merokok dan dianggap tidak beretika jika merokok.

Salah satu caranya adalah dengan membuat kebijakan Kawasan Dilarang Merokok atau Kawasan Tanpa Rokok.

Bahkan saat ini ruang-ruang publik atau angkutan umum sudah dibuat ber-AC agar orang menjadi janggal atau malu jika mau merokok sembarangan disana.

Perilaku orang merokok, apalagi di ruang ber-AC akan dianggap buruk, tidak beretika dan tidak manusiawi. Alasan kesehatan adalah dasar utama membuat sikap bahwa merokok itu adalah perilaku tidak normal atau tidak beretika terhadap dirinya juga orang di sekitarnya karena asap rokok mengandung setidaknya 4.000 zat racun berbahaya.

Secara ekonomi rokok itu seharusnya dibuat mahal agar akses terhadap rokok tambah sulit. Menaikan tarif cukai rokok adalah salah satu upaya penting dalam mengendalikan akses terhadap rokok, terutama bagi anak-anak dan remaja.

Bukan pemandangan baru lagi di Indonesia bahwa sudah banyak sekali anak-anak dan remaja yang merokok secara terang-terangan di ruang publik tanpa takut atau tanpa malu.

Begitu pula anak-anak dan remaja sebagai perokok baru adalah target utama industri rokok untuk mempertahankan serta upaya agar tetap menaikan pasar penjualan rokok atau pendapatan uang mereka.

Alasan harga rokok harus mahal adalah alasan sangat logis jika kita mau menjauhkan rokok agar tidak mudah dan tidak menambah perokok pemula anak-anak juga remaja di masa mendatang. Menjauhkan akses tersebut bisa dilakukan dengan menaikan tarif cukai rokok agar harga menjadi mahal, sulit diakses anak-anak atau remaja.

Berdasarkan ketiga pertimbangan di atas dapat disimpulkan, bahwa kebijakan pemerintah tidak menaikan tarif cukai hasil produk tembakau atau rokok bertentangan dengan cita-cita membangun perlindungan atas hak kesehatan warga negara.

Sikap tersebut juga menunjukan bahwa pemerintah tidak memiliki etika dan tidak bekerja secara baik melindungi hak hidup warga negaranya dengan membiarkannya menghirup udara penuh asap rokok orang di sekitarnya.

Tidak menaikan tarif cukai rokok, berarti pemerintah bersikap mempersilahkan anak-anak dan remaja yang merupakan masa depan bangsa ini untuk merokok sepuasnya karena membuat harga rokok murah.

Agar bangsa ini sehat maka pemerintah seharusnya membangun sikap beretika dalam bekerja dan pemerintahannya sehat tanpa polusi asap rokok. Agar ada upaya membuat hidup sehat bagi masa depan bangsa ini maka pemerintah harus menjaga anak-anak dan remaja agar tidak merokok dan tidak menjadi target industri rokok.

Untuk itu sikap yang seharusnya dibuat pemerintah adalah;

1. Membuat harga rokok mahal dengan menaikan tarif cukai rokok setinggi mungkin sesuai mandat Undang-undang

2. Melakukan penegakan secara konsisten terhadap peraturan kawasan dilarang merokok atau kawasan tanpa rokok

3. Membangun pola hidup beretika dan sehat tanpa merokok di tengah masyarakat

4. Melarang iklan rokok dan contoh merokok bagi anak-anak juga remaja

Azas Tigor Nainggolan Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA)

Komentar Pembaca
Ketua DPR: Pro Jokowi Juga Harus Ditindak!

Ketua DPR: Pro Jokowi Juga Harus Ditindak!

SENIN, 07 MEI 2018 , 19:00:00

PKS: Pemikiran Ekonomi Rizal Ramli Brilian

PKS: Pemikiran Ekonomi Rizal Ramli Brilian

SENIN, 07 MEI 2018 , 17:00:00

Rumah Nyaman Nelayan Senang

Rumah Nyaman Nelayan Senang

SENIN, 07 MEI 2018 , 15:00:00

Zohri Disopiri Jokowi

Zohri Disopiri Jokowi

KAMIS, 19 JULI 2018 , 00:13:00

Terburuk Dalam Sejarah

Terburuk Dalam Sejarah

JUM'AT, 03 AGUSTUS 2018 , 09:28:00

Hasil Tes Kesehatan Capres-Cawapres

Hasil Tes Kesehatan Capres-Cawapres

RABU, 15 AGUSTUS 2018 , 09:46:00