Warga Butuh Angkutan Umum Massal Bukan Jalan Tol

Suara Rakyat  JUM'AT, 23 NOVEMBER 2018 , 14:21:00 WIB

Warga Butuh Angkutan Umum Massal Bukan Jalan Tol

Jalan TolJakarta-Cikampek/Net

RMOLJakarta.Pada 20 November 2018, Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi membuat kebijakan  menghentikan sementara pengerjaan proyek LRT Jabodebek dan  kereta cepat yang sedang  dikerjakan di area Tol Jakarta - Cikampek (Japek) di kilometer 11 sampai dengan 17.

Langkah penghentian  dilakukan karena kedua proyek tersebut memiliki waktu pengerjaan yang lebih panjang dari waktu target penyelesaian dari pada jalan tol layang (elevated) Jakarta-Cikampek. Penghentian kedua proyek hanya dilakukan di area tertentu Japek di sepanjang kurang lebih 5 kilometer saja karena pemerintah  melihat di ruas jalan tersebut  sering mengalami kemacetan.

Berdasarkan laporan dari PT Jasa Marga sebagai pengelola jalan tol Japek dan kepolisian, Jalan Tol Japek antara kilometer 11 sampai dengan 17 merupakan area yang sering mengalami kemacetan cukup tinggi.

Pemerintah juga menyiapkan langkah-langkah untuk mengurangi tingkat kemacetan di tol Japek. Langkah tersebut diantaranya ada  kebijakan ganjil genap di Gerbang Tol Bekasi Barat, Bekasi Timur dan sedang disosialisasikan di pintu Tambun.  Selain itu pemerintah juga melakukan pembatasan jam operasional angkutan barang golongan III, IV dan V yang melintas di Tol Japek, serta pemberlakuan lajur khusus angkutan bus di tol yang berlaku setiap Senin s/d Jum'at pukul 06.00 - 09.00 WIB kecuali hari libur nasional. 

Sebagai kebijakan tambahan  pemerintah melalui BPTJ menyediakan angkutan massal berupa bus berkelas  premium, sebagai transportasi pilihan selain kendaraan pribadi bagi masyarakat yang ingin menuju ke arah Jakarta.

Berdasarkan pengalaman lapangan, kemacetan di Jalan Tol Japek itu terjadi sepanjang hari di kedua jalur mulai Km 7 hingga 26 (Pondok Gede - Cikarang). Memang sepanjang jalur tersebut ketiga proyek pembangunan, Jalan Tol Layang, LRT dan Kereta Cepat berhimpitan bersamaan secara fisik.

Pembangunan berhimpitan bersamaan itu memang mengakibatkan kepadatan serta perlambatan arus lalu lintas dan menjadi kemacetan berat sepanjang hari. Kondisi buruk, kemacaten tol Japek sudah berlangsung lama, sudah hampir 2 tahun ini sejak ketiga proyek dibangun bersamaan.

Masyarakat pengguna Jalan Tol Japek sudah dirugikan selama ini dengan layanan jalan tol yang macet. Walau demikian masyarakat tetap membayar penuh tarif tol macet tersebut. Pengelola jalan tol pun tidak merasa malu dan tidak merasa bersalah menjual jasa jalan tol yang macet.

Jalan Tol Japek selama ini sudah macet walaupun belum ada pembangunan ketiga proyek itu. Kemacetan itu terjadi pada waktu-waktu sibuk keseharian. Kondisi makin macet itu diperparah setelah dilakukannya pembangunan ketiga proyek: LRT, Kereta Cepat dan Jalan Tol Layang secara bersamaan.

Macetnya jalan tol disebabkan oleh kepadatan kendaraan bermotor atau mobil pribadi. Jika tidak percaya, mari kita buktikan bahwa mobil pribadi yang mendominasi perjalanan di Jalan Tol Japek. Tingginya penggunaan kendaraan pribadi di jalan tol tersebut dikarenakan tidak tersedianya layanan angkutan umum massal yang aman,  akses dan nyaman bagi masyarakat dari luar menuju ke kota Jakarta.

Melihat proses permasalahan kamacetan di tol Japek di atas yang dibutuhkan untuk mengurangi kemacetan di tol Japek adalah menyediakan sarana angkutan umum massal. Jika demikian  maka seharusnya langkah atau kebijakan yang diambil pemerintah adalah menyediakan layanan angkutan umum massal yang aman, akses dan nyaman menuju dan dari Jakarta ke kota lain sekitar tol Japek. Jadi kebijakan yang seharusnya dibuat pemerintah   adalah bukan terus membangun jalan tol baru.

Artinya saya mau mengatakan kebijakan mengutamakan meneruskan pembangunan jalan tol layang adalah pilihan keliru. Kelirunya adalah tidak meneruskan membangun sarana angkutan umum massal yang sedang berproses yakni pembangunan LRT atau Kereta Cepat. Jika dipilih atau dibuat tingkatan kemendesakan harus segera dibangun  antara ketiga fasilitas di atas adalah membangun LRT kemudian Kereta Cepat. Baru membangun Jalan Tol Layang jika masih dibutuhkan setelah kedua sarana angkutan massal itu selesai dibangun dan digunakan.

Jadi memutuskan melanjutkan, mengutamakan pembangunan jalan tol layang di tol Japek bukankah kebijakan yang menyelesaikan masalah. Justru kebijakan mengutamakan membangun jalan baru atau seperti jalan tol layang menjadi "karpet merah" bagi pengguna mobil pribadi disana. Para pengguna mobil pribadi justru merasa lebih difasilitasi penggunaan kendaraannya oleh jalan tol layang baru. Akibatnya tidak akan ada penurunan jumlah  penggunaan mobil pribadi justru akan meningkat karena ada jalan tol layang baru. Akhirnya kemacetan akan terus terjadi dan terus meningkat tanpa upaya yang benar untuk menekan penggunaan kendaraan mobil pribadi.

Seharusnya yang didahulukan dan dilanjutkan pemerintah adalah segera membangun fasilitas layanan angkutan umum massal seperti LRT Jabodebek dahulu. Menyediakan angkutan umum massal yang aman, akses dan nyaman akan membuat masyarakat berpindah dari kendaraan pribadi ke angkutan umum. Perpindahan ini selanjutnya akan mengurangi kemacetan karena telah berkurang kepadatan jalan akibat penggunaan kendaraan pribadi sebelumnya. Perpindahan ini akan lebih besar lagi terjadi apabila disertai kebijakan pemerintah untuk mengendalikan penggunaan kendaraan pribadi dengan perluasan sistem Ganjil Genap atau juga penyediaan Park n Ride di sekitar pintu tol Japek.

Jadi kebijakan pemerintah menyediakan bus-bus umum kelas premium dan pengendalian Ganjil Genap akan efektif mengurangi penggunaan kendaraan pribadi jika selanjutnya mengutamakan melanjutkan pembangunan proyek LRT lebih dulu. Kebijakan pengendalian penggunaan kendaraan pribadi itu akan menghasilkan perubahan penurunan kemacetan di tol Japek dengan tersedianya angkutan umum massal LRT di tahun 2019 mendatang. Jika masih kurang maka bisa melanjutkan membangun proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung. Selanjutnya jika memang masih membutuhkan jalan baru maka pemerintah bisa melanjutkan pembangunan jalan tol layang. Jika perjalanan di tol Japek sudah membaik dengan pengendalian dan tersedianya fasilitas angkutan umum massal dan Kereta Cepat maka tidak perlu lagi  membangun jalan baru, tidak perlu lagi membangun jalan tol layang.

Azas Tigor Nainggolan Analis Kebijakan Transportasi dari Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA)

Komentar Pembaca
Hillary Clinton Counter Attack

Hillary Clinton Counter Attack

JUM'AT, 22 MARET 2019

New Zealand dan Bara Baruch Goldstein
Islamku

Islamku

MINGGU, 03 MARET 2019

Kemampuan Jokowi Gaet Swing dan Undecided Voters Dipertanyakan
Debat Capres Untuk Siapa?

Debat Capres Untuk Siapa?

RABU, 13 FEBRUARI 2019

Surat Untuk Dhani

Surat Untuk Dhani

SELASA, 29 JANUARI 2019

Ketua DPR: Pro Jokowi Juga Harus Ditindak!

Ketua DPR: Pro Jokowi Juga Harus Ditindak!

SENIN, 07 MEI 2018 , 19:00:00

PKS: Pemikiran Ekonomi Rizal Ramli Brilian

PKS: Pemikiran Ekonomi Rizal Ramli Brilian

SENIN, 07 MEI 2018 , 17:00:00

Rumah Nyaman Nelayan Senang

Rumah Nyaman Nelayan Senang

SENIN, 07 MEI 2018 , 15:00:00

Zohri Disopiri Jokowi

Zohri Disopiri Jokowi

KAMIS, 19 JULI 2018 , 00:13:00

Terburuk Dalam Sejarah

Terburuk Dalam Sejarah

JUM'AT, 03 AGUSTUS 2018 , 09:28:00

Hasil Tes Kesehatan Capres-Cawapres

Hasil Tes Kesehatan Capres-Cawapres

RABU, 15 AGUSTUS 2018 , 09:46:00