Poligami itu Sah dan Halal

Suara Rakyat  SELASA, 18 DESEMBER 2018 , 09:02:00 WIB

Poligami itu Sah dan Halal

Jamaluddin F Hasyim/Ist

RMOLJakarta.Mereka yang merasa tahu tentang Islam lalu sembarangan bicara mesti menyimak ini:

Bangunan Islam itu diatas tiga pilar;  Aqidah (panduan konsep ketuhanan), syariah (panduan aturan dan hukum) dan akhlak (panduan perilaku vertikal dan horisontal).

Sebagai bangunan sistem hukum, syariah bukanlah sepenuhnya baru, banyak yang mengadopsi syariah umat sebelumnya yang dibawa oleh para rasul sebelum Nabi Muhammad SAW.

Dari lima rukun Islam, hampir semuanya merupakan modifikasi syariat sebelumnya (syar'u man qablana); syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji.

Termasuk dalam kategori ini adalah poligami yang sudah berlaku sejak zaman purba (lihat QS. An-Nisa 4:3). Masyarakat tradisional di hampir semua peradaban mengenal poligami, meski di sebagian budaya praktik itu hanya berlaku bagi elitnya saja.

Islam mengadopsi poligami sebagai bagian dari syariat (masyru'). Meski tidak mendorong dan menganjurkan, Islam memberi ruang keluasan dalam memiliki lebih dari satu istri dengan memberikan landasan syar'i poligami dengan ketentuan yang cukup ketat.

Selain syarat adil, faktor kemampuan suami juga sangat dipertimbangkan oleh hakim dalam memutus apakah suami tersebut dibolehkan menikah lagi. Ini tentu jika suami minta izin ke pengadilan. Konsep adil bahkan diwujudkan dalam praktik gilir (qasm) yang diatur dalam fikih.

Adapun praktik poligami yang terjadi di Indonesia kebanyakan berupa kawin sirri atau tidak resmi, dan hanya sah secara fikih semata. Tidak terdaftarnya pernikahan tersebut membawa implikasi dan konsekuensi yang cukup berat bagi perempuan dan anak yang lahir dari pernikahan semacam itu, seperti dalam soal hubungan keluarga (nasab), perwalian, dan pewarisan. 

Disitulah poligami jadi sasaran tuduhan sebagai penyebab buruknya keadaan istri dan anaknya.  Padahal bukan poligaminya, melainkan perilaku suami yang 'mau enaknya saja', alias 'enak situ ga enak sini'. Biasanya para laki-laki cenderung menghindari nikah resmi karena takut kepada istri pertama.

Sementara itu, perempuan yang rela dinikahi tanpa resmi secara hukum negara seharusnya sadar akan resiko yang tersebut diatas. Karenanya dia harus menolak jika bangunan pernikahan hanya menguntungkan laki-laki. Dia harus mendapat jaminan hukum yang jelas tentang masa depannya dan masa depan anaknya.

Singkatnya, perempuan harus tahan harga sebelum calon suaminya bersedia menjamin semua ketentuan diatas.

Jadi, bukan poligaminya yang bermasalah. Poligami jauh lebih terhormat karena wanita dinikahi secara agama dan negara, bandingkan misalnya dengan prostitusi yang mengeksploitasi perempuan sebagai komoditi ekonomi pemilik modal dan pelampiasan birahi semata, atau perilaku seks bebas (one night standing) atau selingkuh yang makin dianggap biasa. Inilah penyakit masyarakat yang sesungguhnya.

Saran saya, pilihlah isu yang lebih kreatif untuk mendulang suara ketimbang menjual sensasi yang memancing emosi publik yang malah bisa kontra produktif.

Jamaluddin F Hasyim Ketua Koordinasi Dakwah Islam (KODI) DKI Jakarta

Komentar Pembaca
Ketua DPR: Pro Jokowi Juga Harus Ditindak!

Ketua DPR: Pro Jokowi Juga Harus Ditindak!

SENIN, 07 MEI 2018 , 19:00:00

PKS: Pemikiran Ekonomi Rizal Ramli Brilian

PKS: Pemikiran Ekonomi Rizal Ramli Brilian

SENIN, 07 MEI 2018 , 17:00:00

Rumah Nyaman Nelayan Senang

Rumah Nyaman Nelayan Senang

SENIN, 07 MEI 2018 , 15:00:00

Zohri Disopiri Jokowi

Zohri Disopiri Jokowi

KAMIS, 19 JULI 2018 , 00:13:00

Terburuk Dalam Sejarah

Terburuk Dalam Sejarah

JUM'AT, 03 AGUSTUS 2018 , 09:28:00

Hasil Tes Kesehatan Capres-Cawapres

Hasil Tes Kesehatan Capres-Cawapres

RABU, 15 AGUSTUS 2018 , 09:46:00