Cegah Masjid Jadi Alat Politik dan Kampanye Pilpres

Ragam  KAMIS, 10 JANUARI 2019 , 22:49:00 WIB

Cegah Masjid Jadi Alat Politik dan Kampanye Pilpres

Halaqoh dan Silaturahim Takmir Masjid/RMOL

RMOLJakartaKoordinator Forum Takmir Masjid (FSTM) DKI Jakarta, Ahmad Muslim mengajak seluruh takmir masjid untuk melakukan upaya pencegahan agar masjid tidak dijadikan alat media politik serta  disalahgunakan oleh oknum tak bertanggungjawab untuk berkampanye.

Menurut Muslim, hal itu dilakukan agar hubungan keharmonisan umat tetap terjaga meskipun berbeda pandangan pilihan di Pemilu 2019. Masjid juga harus kembali berfungsi sebagaimana mestinya yaitu tempat ibadah menebar rahmat, kebaikan dan sebagai wadah pemersatu umat, bangsa dan negara. Sehingga dakwah di masjid menjadi lebih sejuk tanpa kepentingan kampanye politik.

"Realita saat ini, tuduhan kafir, musyrik dan munafik terhadap paham yang berbeda mengindikasikan radikalisme agama telah berkembang di masjid-masjid tertentu. Ini bisa menjadi pemicu perpecahan bangsa. Oleh karena itu, menjadi tugas penting takmir masjid bersama tokoh agama dan masyarakat untuk mengikis habis sebelum tumbuh menjadi besar,” kata Muslim dalam acara Halaqoh dan Silaturahim Takmir Masjid yang bertema ‘Mewujudkan Masjid sebagai Wadah Pemersatu Umat, Bangsa, dan Negara’ di Masjid Al Islah, Kementerian Koperasi dan UKM Jakarta Selatan, Kamis (10/1).

Dikatakan Muslim, isu politik yang diangkat ke permukaan seharusnya bagaimana cara mengurangi kemiskinan dan pengangguran. Bukan dengan kampanye hitam, fitnah dan berita bohong (hoax) agar lebih subtantif dan menciptakan sistem demokrasi yang damai.

Maka dari itu dalam acara halaqoh dan silaturrahim ini kami Forum Silaturrahim Takmir Masjid (FSTM) DKI Jakarta  menyatakan menolak segala bentuk politisasi masjid yang dapat memecah belah persatuan umat dengan menjaga peran dan fungsi masjid sebagai tempat ibadah kepada Allah SWT, pusat gerakan dakwah, pendidikan dan kegiatan sosial keagamaan lainnya,” tegas Muslim.

Lebih lanjut, Muslim juga mengimbau kepada seluruh elemen masyarakat untuk mendukung gerakan mengembalikan masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan, serta menyerukan kepada umat Islam untuk turut serta terlibat aktif dalam menjaga dan memakmurkan masjid sebagai tempat ibadah menebar kebaikan dan tempat penyampaian ajaran Islam yang rahmatan lil alamin.

Menolak paham radikalisme yang menyusup dari masjid ke masjid sebagai wujud menjaga dan merawat NKRI, dengan menjaga persatuan dan kesatuan untuk mencintai negara Indonesia guna mencapai  Baldatun Tayyibatun wa Rabbun Ghafuur,” papar Muslim.

Sementara itu, KH Soleh Sofyan mengatakan, merujuk pada riwayat hadis Nabi Muhammad SAW, terminologi masjid tidak tidak lepas dari fungsinya yang digambarkan sebagai sajadah atau tempat sujud, tempat salat yang kemudian ditafsirkan sebagai salat berjamaah.

Jika berbicara tentang fungsi masjid, rujukannya dari Anas ra bahwa ada hadits dari Rasulullah SAW terkait dengan adanya orang Arab Badui yang tiba-tiba kencing di masjid saat Nabi dan sahabat ada di masjid, sahabat saat itu marah, tetapi sikap nabi justru sebaliknya yang bersikap tenang dan bijaksana dengan menasehati orang Arab Badui itu dengan baik. Oleh karena itu, muncul bahwa masjid itu fungsinya adalah tempat untuk bersujud, ibadah, berdzikir dan untuk bersama-sama. Kalau kejadian orang Arab Badui itu terjadi saat sekarang, pasti orang Arab Badui tersebut langsung diviralkan, dikafirkan, dan lain-lain,” kata Sholeh.

Menurutnya, ada dua tipe orang yang dilarang masuk masjid, yaitu orang yang enggan sujud kepada Allah dan orang sombong kepada Allah. Sombong itu akan memunculkan amarah, kalimat kasar dan merendahkan orang lain. Oleh karena itu, kalau ada ulama yang kalimatnya merendahkan orang berarti dia sombong dan tidak layak masuk masjid.

Jangan sampai masjid dijadikan sebagai sarana untuk memecah belah umat khususnya di tahun politik. Silahkan mau pilih pasangan calon siapa saja, yang jelas saya tidak mengarahkan ke salah satu paslon. Kalau mau memilih pemimpin itu harus salat istikharah, tidak perlu ribut-ribut di sosial media. Jangan sampai hubungan suami dan istri terpecah belah karena perbedaan pilihan capres- cawapres. Begitu juga dengan hubungan keluarga yang adem ayem jangan sampai terbelah karena pilpres,” terang Sholeh.

Sholeh  menambahkan, saat Pilgub DKI 2017 ada orang-orang yang menulis-nulis untuk disebarkan ke sosial media dari masing-masing kubu yang tidak memperdulikan kebenaran informasi tersebut.

"Fenomena ini yang berbahaya karena menyebarkan kebohongan secara luas di tengah masyarakat. Mari kita perbaiki akhlak kita yang selama ini suka menyebarkan berita-berita palsu, yang gampang terprovokasi, yang gampang emosi dan yang gampang menyalah-nyalahkan orang lain,” pungkas Sholeh.(dod)

Komentar Pembaca
Ketua DPR: Pro Jokowi Juga Harus Ditindak!

Ketua DPR: Pro Jokowi Juga Harus Ditindak!

SENIN, 07 MEI 2018 , 19:00:00

PKS: Pemikiran Ekonomi Rizal Ramli Brilian

PKS: Pemikiran Ekonomi Rizal Ramli Brilian

SENIN, 07 MEI 2018 , 17:00:00

Rumah Nyaman Nelayan Senang

Rumah Nyaman Nelayan Senang

SENIN, 07 MEI 2018 , 15:00:00

Zohri Disopiri Jokowi

Zohri Disopiri Jokowi

KAMIS, 19 JULI 2018 , 00:13:00

Terburuk Dalam Sejarah

Terburuk Dalam Sejarah

JUM'AT, 03 AGUSTUS 2018 , 09:28:00

Hasil Tes Kesehatan Capres-Cawapres

Hasil Tes Kesehatan Capres-Cawapres

RABU, 15 AGUSTUS 2018 , 09:46:00