Tuduh Prabowo-Sandi Pakai Propaganda Uni Soviet, Johnny G Plate Diperkarakan

Politik  JUM'AT, 08 FEBRUARI 2019 , 08:28:00 WIB

Tuduh Prabowo-Sandi Pakai Propaganda Uni Soviet, Johnny G Plate Diperkarakan

Johnny G Plate/Net

Badan Pemenangan Provinsi DKI Jakarta Prabowo-Sandi hari ini akan mendatangi Bawaslu DKI Jakarta untuk memperkarakan pernyataan Wakil Ketua Tim Kemenangan Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf, Johnny G Plate.

Johnny yang juga Sekjen Partai Nasdem ini diduga telah melakukan pelanggaran Pemilu lewat pernyataannya di sebuah media online yang dimuat beberapa hari lalu.

Menurut informasi, Bidang Hukum dan Advokasi Badan Pemenangan Provinsi DKI Jakarta Prabowo-Sandi yang digawangi Hafid Zikri akan mendatangi Kantor Bawaslu DKI Jakarta, Jalan Danau Agung 3, Sunter Agung, Tanjung Priok, Jakarta Utara pada pukul 09.00 WIB.

"Kami minta Bawaslu memproses laporan ini secara tuntas," kata Hafid saat dihubungi, Jumat (8/2).

Diketahui, melalui sebuah media online, Johnny G Plate mengatakan kubu tim lawan menggunakan metode kampanye firehouse of falsehood.

Menurut Johnny, metode itu digunakan oleh Uni Soviet, yang saat era perang dingin dan didaur ulang di banyak pilpres, termasuk Pilpres Amerika Serikat tahun 2016 lalu.

"Metode yang sama juga didaur ulang dan digunakan oleh Prabowo dengan membombardir ruang politik dengan kebohongan. Sebagaimana bunyi pidatonya di banyak tempat antara lain, seperti gosip Ratna Sarumpaet digebukin, tujuh konteiner setara 70 juta kertas suara sudah dicoblos, selang infus hemodialisis dipakai 40 orang di RSCM, dan Indonesia punah," ujar Johnny, Minggu (2/2).

Johnny menambahkan, dengan cara demikian Prabowo dan timsesnya berpotensi merusak demokrasi dan Pilpres 2019. "Sungguh sangat disesalkan. Kami mendukung Pak Jokowi untuk menjelaskan secara gambalang gosip-gosip yang dimainkan," ucapnya.

Di antaranya terkait pribadi Jokowi, seperti isu PKI, antek asing, kriminalisasi ulama yang ia tegaskan semuanya adalah tidak benar. Menurutnya, hal itu dengan sengaja dihembuskan oleh Prabowo dan timsesnya untuk menghasut perasaan publik Indonesia agar membenci pemerintah secara khusus pribadi dan keluarga Jokowi. 

Johnny menyebut, persaingan yang sangat tidak sehat dan selayaknya tidak diikuti seperti itu seharusnya ditinggalkan. Sebab, cara-cara tersebut sangat licik dan merusak bangsa Indonesia. Ia pun meyakini bahwa masyarakat Indonesia tidak akan ingin negaranya hancur karena persaingan yang tidak sehat. 

"Apakah rakyat rela dengan persaingan ala Prabowo ini ? Kami meyakini bahwa rakyat sangat paham dan tidak rela bangsanya dihancurkan dengan cara licik seperti itu," jelasnya.(dod)

Komentar Pembaca