Politisi Demokrat Ini Sebut Romahurmuziy Tukang Bohong Kelas Wahid

Hukum  SABTU, 23 MARET 2019 , 14:15:00 WIB

Politisi Demokrat Ini Sebut Romahurmuziy Tukang Bohong Kelas Wahid

Romahurmuziy/Net

Politikus Partai Demokrat, Zara Zettira ZR menyebut eks Ketua Umum PPP Romahurmuziy alias Romi merupakan pembohong kelas wahid.

Pernyataan keras Zara disampaikannya melalui akun Twitternya, @zarazettirazr yang diposting Sabtu (23/3).

Hal ini dikatakan Zara terkait pernyataan Romi yang menyeret nama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dalam pusaran kasus jual beli jabatan di Kementerian Agama.

Di mata Zara, Romi merupakan politisi yang pintar meralat doa. Namun yang menjijikan buatnya adalah saat Romi meminta KH Abdullah Gymnastiar alias Aa Gym dan Ustadz Abdul Somad untuk bersikap netral dalam ajang Pilpres 2019.

"Sudahlah ROMY tukang bohong kelas wahid Romy juga jago revisi alias ngeles Tapi yg paling menjijikan bagi saya adalah waktu dia NGELES soal suruh @aagym dan UAS untuk netral. Untung aja ulama2 kita bukan tukang cari sensasi dan ribut kayak Romy," tulis Zara.

Sementara, pengacara Romi, Maqdir Ismail, menuturkan kliennya tak memiliki motif tertentu ketika menyebut nama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dalam pemeriksaan kepada penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Romi menyebut Khofifah pernah merekomendasikan Haris Hasanuddin dipilih menjadi Kepala Kantor Wilayah Kementerian Kantor Agama Provinsi Jawa Timur. Haris merupakan orang yang disangka menyuap Rommy Rp 250 juta supaya dipilih menjadi Kakanwil Jatim.

"Sepanjang pengetahuan saya, tidak ada motif lain selain menyampaikan bahwa Pak Haris Hasanudin mendapat dukungan dari banyak pihak termasuk Ibu Khofifah," kata Maqdir saat dihubungi, Sabtu (23/3).

Maqdir menjelaskan, dukungan yang diberikan Khofifah kepada Haris adalah memberikan rekomendasi sebagai orang yang berkompeten dan memiliki kinerja yang bagus.

Romi menceritakan hal itu untuk membantah dirinya melakukan jual-beli jabatan di Kementerian Agama. Dia mengatakan hanya meneruskan aspirasi sebagai anggota DPR. Referensi dari Khofifah dan orang-orang yang berkualitas, kata Romi, menjadi tolak ukur baginya untuk merekomendasikan seseorang.

Dalam perkara ini, KPK menyangka Romi menerima suap Rp 300 juta dari Kepala Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Jawa Timur, Haris Hasanuddin dan Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Gresik, Muhammad Muafaq Wirahadi untuk mempengaruhi hasil seleksi jabatan pimpinan tinggi di Kementerian Agama. Haris dan Muafaq ditetapkan sebagai tersangka pemberi suap.(dod)

Komentar Pembaca
Chappy Hakim - Tanah Air Udara ( Part1/1 )

Chappy Hakim - Tanah Air Udara ( Part1/1 )

RABU, 14 AGUSTUS 2019 , 18:32:35

Setelah Rekonsiliasi, Apa Buat Rakyat?

Setelah Rekonsiliasi, Apa Buat Rakyat?

JUM'AT, 09 AGUSTUS 2019 , 20:57:59

PLN, Mafia Dan Kontrak Bawah Tanah

PLN, Mafia Dan Kontrak Bawah Tanah

KAMIS, 08 AGUSTUS 2019 , 20:02:09