Gagalnya Isu Khilafah

Suara Rakyat  SELASA, 09 APRIL 2019 , 20:24:00 WIB

Gagalnya Isu Khilafah
Khilafah dalam konteks gerakan politik Indonesia itu khas milik HTI.

HTI itu koncone PKS? Bukan! Gak ada hubungannya. PKS justru paling kencang mengkritik HTI karena HTI golput. Sebagai partai politik, PKS anti-golput. HTI itu FPI? Bukan juga! FPI itu NU banget. Shalawat, ziarah kubur, tahlil dan qunut. FPI pro demokrasi. Beda dengan HTI.

Lalu HTI itu siapa? Bukan PKS, dan bukan pula FPI. HTI itu ya HTI. Setiap Pemilu golput. Anda tahu golput? Golput itu gak dukung siapa-siapa, dan gak ikut nyoblos.

Bagi HTI, demokrasi itu haram. Tahu artinya haram? Dilarang! Makanya, mereka golput. Dan kita, masyarakat pemilih, gak perlu risau dengan HTI.

HTI bukannya pendukung Prabowo ya? Ngawur! Bahkan super ngawur! Ya bukanlah. Golput kok dukung. Kalau HTI mau dukung, kemungkinan dukung PBB. Coba lihat jejak digitalnya di media. HTI dukung PBB, karena Yusril jadi pengacaranya. Apakah berarti HTI dukung Jokowi? Ya gak tahu. Silakan tanya HTI dan Yusril. Hanya mereka berdua yang tahu, selain Tuhan.

Isunya HTI dukung Prabowo? Namanya juga isu. Dibuat, dipoles dan digoreng. Ini namanya black campaign. Kampanye hitam. Bahasa agamanya "fitnah". Tujuannya? Nyerang Prabowo. Ini gak bermoral kawan!

Ada tiga isu yang selalu dimainkan dan berulang-ulang digunakan sebagai propaganda kampanye untuk menyerang Prabowo.Pertama, isu khilafah. Kedua, isu radikal. Ketiga isu wahabi.

Wahabi itu identik dengan no tahlil, noziarah kubur dan no qunut. "Kalau calon ini menang, maka tahlil, ziarah kubur dan qunut tak ada lagi di Indonesia." Lucu bukan? Lucu banget.

Tiga isu ini terus diopinikan ke publik untuk menakut-nakuti pemilih. Namanya juga propaganda politik.

Tapi, yang bicara begitu ada yang bergelar kiyai pesantren? Ingat, kiai itu pinter agama, tapi bukan berarti pinter politik. Kiai itu, terutama yang hidup di kampung, umumnya sosok yang lugu dan sederhana. Karena keluguannya itu, ada pihak-pihak yang memanfaatkan.

Bisikin kiai bahwa negara ini terancam oleh kelompok Islam radikal. Ada kiai yang langsung percaya. Namanya juga orang lugu.

"Pak kiai, kalau si A menang, maka tahlil, ziarah kubur dan qunut akan dihapus." Percaya juga. Dengar bisikan itu, badan kiai bisa gemetar. Wajahnya memerah, dan hatinya marah. Besoknya, kiai langsung berceramah. Isinya mengutuk dan melaknat calon si A. Begitulah yang selama ini terjadi. Orang baik, karena keluguannya, seringkali dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk menebar fitnah.

Menurut anda, siapa yang jahat? Pembisik! Pak kiai, siapapun anda, hati-hati dengan para pembisik ini.

Untuk memastikan bahwa khilafah adalah isu, fitnah dan kampanye hitam belaka itu simple. Sangat mudah. Caranya? PKB masuk koalisi. Maksudnya? Kalau PKB ikut dukung Prabowo, maka isu khilafah, radikal, bahkan wahabi, seketika hilang. Pergi tanpa jejak.

Ingat Pilgub Jawa Tengah 2017 lalu? Ketika PKS, PAN dan Gerindra mengusung Sudirman Said jadi calon gubernur, apakah ada isu khilafah, radikal dan wahabi? Tidak ada! Kenapa? Karena PKB ikut gabung.

Anda bisa bayangkan jika PKB tak ada di partai koalisi Sudirman Said saat itu, hampir pasti isu khilafah, radikal dan wahabi (no tahlil, no ziarah kubur,no qunut) akan dimainkan. Pahamkan?

Dulu di DKI, juga ada isu. Jika Anies-Sandi menang, Jakarta akan menerapkan syariat Islam. Islam di Jakarta akan jadi Islam radikal. Tahlil, qunut dan ziarah kubur akan dihapus. Faktanya sekarang? Nol! Gak terbukti! Ngawur bukan? Masak ke-ngawuran ini diulang lagi. Mikiiiir, kata Cak Lontong. Artinya, pakai otak dong...

Secara moral, kampanye model ini menodai demokrasi kita. Jaringan syaraf rakyat dirusak oleh pola kampanye hitam seperti ini. Satu sisi kita menolak politik identitas, tapi di sisi lain kita terus menyuarakan identitas-identitas yang lebih fanatik. Ini memprihatinkan.

Lalu, apakah isu khilafah berpengaruh? Untuk non muslim mungkin iya. Tapi juga harus diingat, mayoritas nonmuslim adalah pendukung PDIP. Kata LSI, angkanya 54,7 persen. Siapapun calon yang diusung PDIP, mereka juga ikut dukung. Sebagian kecil non muslim menyebar ke partai-partai lain. Ada isu khilafah atau tidak, non muslim prosentasenya sangat kecil yang mendukung calon di luar PDIP.

Pengaruhnya terhadap Nahdliyyin? Orang-orang NU sudah pada cerdas. Tahu mana yang fitnah, mana yang beneran. Jadi, isu khilafah, juga isu radikalisme dan wahabi, tak akan banyak mempengaruhi pilihan warga Nahdliyyin. Kecuali yang "die hard" PKB. Yang mati urip nderek PKB.

Isu khilafah hanya ramai di opini, tapi tak signifikan mempengaruhi pilihan rakyat. Buktinya, bersamaan dengan makin kencangnya isu khilafah, elektabilitas Prabowo tetap naik, dan elektabilitas Jokowi terus turun. Ini tanda, permainan isu khilafah telah gagal.

DR Andi Asrun Pengacara Konstitusi

Komentar Pembaca
Jakarta Fair Yang Tidak Fair

Jakarta Fair Yang Tidak Fair

MINGGU, 23 JUNI 2019

Anak Perusahaan

Anak Perusahaan

SELASA, 18 JUNI 2019

Caleg Ganteng Masuk Senayan

Caleg Ganteng Masuk Senayan

KAMIS, 13 JUNI 2019

Bisakah Jadi Momentum Pertemuan Jokowi-Prabowo?
Ibu Ani

Ibu Ani

SABTU, 01 JUNI 2019

Ini Rekam Jejak Yusril dan BW Saat Menang di MK
Heboh Pria Berpistol Di Jakarta Pusat

Heboh Pria Berpistol Di Jakarta Pusat

SABTU, 15 JUNI 2019 , 17:00:00

Wartawan Diselamatkan TNI

Wartawan Diselamatkan TNI

JUM'AT, 24 MEI 2019 , 12:00:00

4 Juta Orang Akan Hadiri Reuni Akbar Mujahid 212

4 Juta Orang Akan Hadiri Reuni Akbar Mujahid 212

RABU, 28 NOVEMBER 2018 , 21:00:00

PPSU Bersih-Bersih

PPSU Bersih-Bersih

JUM'AT, 24 MEI 2019 , 01:42:00

Ribuan Jamaah Mensalatkan Ustaz Arifin Ilham

Ribuan Jamaah Mensalatkan Ustaz Arifin Ilham

JUM'AT, 24 MEI 2019 , 01:29:00

20 NGO Hadiri Gathering di Rawamangun

20 NGO Hadiri Gathering di Rawamangun

SABTU, 25 MEI 2019 , 13:35:00