Sapma Pemuda Pancasila Minta Kasus Audrey Tak Terulang

Peristiwa  KAMIS, 11 APRIL 2019 , 22:35:00 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Sapma Pemuda Pancasila Minta Kasus Audrey Tak Terulang

Audrey/Net

Pengurus Pusat Satuan Pelajar dan Mahasiswa (Sapma) Pemuda Pancasila (PP) memuji langkah Sapma Kalimantan Barat (Kalbar) yang ikut mengawal kasus Audrey, seorang siswi SMP yang dianiaya oleh sekelompok siswi SMA di Pontianak.

Ketua Bidang Peranan Wanita dan Perlindungan Anak Pengurus Pusat Sapma PP, Mira Dalima Andini, meminta agar Pengurus Wilayah Sapma Kalbar terus memberikan dukungan kepada Audrey, dan mengawal proses hukumnya.

"Kami berharap kasus ini tetap diproses sesuai hukum yang berlaku, sehingga pelaku mendapatkan efek jera dan tidak mengulanginya,” kata Mira kepada wartawan di Jakarta, Kamis (11/4).

Namun, lanjutnya, selama proses hukum berlangsung, pihaknya juga berharap para pelaku tetap mendapatkan haknya, yakni memperoleh pendidikan yang layak.

"Kami juga berharap agar kasus seperti ini tidak terjadi lagi. Dan orang tua, guru serta seluruh pihak dapat mengawasi anak-anak dalam aktivitas sehari-hari,” ujar Mira.

Sementara, Ketua Pengurus Wilayah Sapma PP Kalbar, Dodi Setiawan, mengapresiasi upaya Polresta Pontianak yang dengan cepat memproses dan menyelidiki kasus ini dengan berlandaskan UU Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA).

Terkait pelaku, kata Dodi, perlu diingat bahwa UU SPPA mengatur bahwa jika pelaku berusia diatas 14 tahun, apabila melakukan tindak pidana, maka bisa diancam dengan hukuman diatas 7 tahun atau lebih, dan terhadap pelaku ini dapat dikenakan penahanan.

"Pidananya dapat berupa peringatan dan pidana dengan syarat yakni pembinaan di luar Lembaga Pemasyarakatan,” ujar Dodi usai menjenguk Audrey bersama pengurus wilayah Sapma Kalbar.

Jagat maya ramai membahas trending topic tagar Justice For Audrey hingga menjelma menjadi perdebatan soal topik 'wajah Audrey'. Tagar itu bentuk dukungan warganet kepada siswi SMP berusia 14 tahun yang dikeroyok 12 orang siswi SMA, di Pontianak, Kalimantan Barat, pada 29 Maret 2019.

Tidak hanya tagar #JusticeForAudreyyang digelorakan warganet, sebuah petisi juga dibuat pada situs change.org, mengantarkan babak baru kasus yang mencoreng wajah dunia pendidikan nasional itu, hingga ke telinga Presiden Joko Widodo.

Kronologi bermula saat kasus diceritakan melalui utas atau thread Twitter oleh warganet bernama Melin lewat akun @syarifahmelinda. Korban berinisial Ay, yang merupakan siswi SMPN 17 Pontianak telah menjadi korban pengeroyokan oleh 12 orang pelajar.

Masalah itu disebut Melin, dipicu saling sindir di media sosial antara pelaku dan korban. Pelaku dikisahkan Melin merupakan mantan kekasih dari kakak korban.

Pelaku akhirnya menjemput korban dan terjadi penganiayaan. Dikisahkan dalam thread Melin, para pelaku menendang perut korban, membenturkan kepala korban ke aspal, mencekik, hingga mencolok kemaluan korban dengan jari.[dod]

Komentar Pembaca