Miniatur People Power Sudah Terjadi

Opini  SELASA, 30 APRIL 2019 , 20:55:00 WIB | LAPORAN:

Miniatur People Power Sudah Terjadi

Foto/Ist

Hanya berselang satu hari setelah warga memasangnya pada tanggal 28 April 2019, baliho berukuran besar itu sudah menyebabkan urusan menghebohkan dengan aparat kepolisian. Peristiwa itu terjadi di depan perumahan Limus Pratama, Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Baliho itu pun tampil sebagai ungkapan rasa terima kasih dari dan untuk warga yang telah mendukung dan memenangkan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia.

Maksud dari pihak kepolisian memang disesuaikan dengan peraturan bahwa pemasangan baliho tersebut berpotensi memicu pengerahan massa di kubu lain hingga berisiko pada bentrokan antar massa karena situasi masih dianggap rawan secara sosial karena proses rekapitulasi suara pasca pencoblosan di Pilpres 2019, masih berlangsung.

Sepertinya bagi aparat, asumsi terhadap baliho tersebut adalah ucapan selamat atau klaim kemenangan tapi warga menegaskan bahwa baliho tersebut hanya ucapan terima kasih seperti yang terlihat pada teksnya. Alasan itu sebenarnya membungkam, maka logis pula jika warga menolak untuk menurunkannya.

Bagi warga setempat, yang menjadi masalah hingga memicu dukungan massa dari wilayah lainnya adalah keberadaan sejumlah personel polisi dengan perlengkapan yang tidak wajar jika hanya untuk meminta warga menurunkan baliho. Tentunya, masih bisa dengan cara yang lain tanpa harus terkesan seperti situasi penyergapan sarang teroris.

Sejumlah baliho atau spanduk serupa memang sudah dipasang oleh para pendukung masing-masing paslon di beberapa daerah di Indonesia. Beberapa waktu yang lalu, warga di Sulawesi Selatan sudah lebih dulu memasangnya bahkan berupa ucapan selamat kepada Prabowo-Sandi sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI. Sejauh ini, tidak ada keributan apapun seperti yang terjadi di Cileungsi.

Pemasangan atribut ucapan ini mulai bermunculan seiring dengan proses akhir perhitungan manual form C1 oleh Badan Pemenangan Nasional (BPN) dan sejumlah pihak resmi yang melakukan hal serupa secara cermat yang juga telah memunculkan Prabowo-Sandi sebagai pemenang pilpres.

Situasi di Cileungsi juga tidak lepas dari berbagai tensi tinggi seputar kasus memperebutkan dan mempertahankan form C1 yang saat ini menjadi benda paling mahal yang menyita perhatian besar. Disaat bersamaan dengan pentingnya form C1 ini, sejumlah besar dugaan kecurangan oleh oknum pada penyelenggaraan pemilu terus bertambah dan selalu merugikan Prabowo-Sandi. Situasi psikologis massa inilah yang dijumpai oleh aparat hanya untuk persoalan baliho!

Zona pertahanan warga setempat yang secara cepat mengundang   kekuatan massa tambahan dari wilayah lain, wajar terjadi begitu cepat sebab Cileungsi adalah wilayah yang dimenangkan secara telak dalam perolehan suara oleh paslon Prabowo-Sandi. Jika pihak kepolisian terkejut, maka demikianlah juga yang nanti bisa terjadi di wilayah lain dengan peristiwa serupa yang melibatkan massa.

Satu saja letusan senjata atau tindakan represif dari pihak kepolisian itu terjadi, maka situasi yang buruk bukan hanya terjadi di satu wilayah di Cileungsi saja, tapi akan memicu situasi buruk skala nasional sebab sensitifitas massa juga dipengaruhi oleh mulai bermunculannya aksi demonstrasi yang kian besar di berbagai daerah untuk memprotes dugaan kecurangan oleh oknum-oknum di Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Ada dua hal dalam peristiwa di Cileungsi yang harus menjadi pelajaran dan pertimbangan bahwa untuk skala sesempit itu, people power sudah dapat dibayangkan dalam skala besar dan itulah situasi yang tidak mungkin dipaksakan oleh aparat untuk bertindak di luar batas! Selain skala risikonya, juga terlalu membahayakan bagi sejumlah personel aparat pada perbandingan jumlah yang tidak seimbang dengan massa yang berkumpul dan memiliki perasaan untuk memperjuangkannya.

Hal lainnya yang juga penting adalah keputusan pihak aparat untuk tidak memaksakan diri dalam memicu masalah besar dan menarik pasukan dari lokasi, adalah keputusan yang bijak dan harus langsung menjadi pemikiran panjang bagi pihak-pihak di kubu politik yang terus menerus pada sikap emosional dalam menanggapi wacana people power! Pemikiran yang panjang itu adalah bahwa people power skala besar bukan hanya sekadar wacana dan bentuk gertakan, tapi sesuatu yang sangat memungkinkan untuk terjadi.

Dengan dampak yang sedemikian besarnya, maka people power harus dihindarkan dengan syarat mutlak bahwa pihak yang berwenang harus memanfaatkan waktu untuk berlaku jujur dan adil dengan mengatasi segala permasalahan secara serius, efektif dan cepat mengingat massa pendukung Prabowo-Sandi akan menolak pemilu ulang dan juga tidak mempercayai Mahkamah Konstitusi sebagai penengah.

Pasti ada pertimbangan secara keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), sehingga menghindarkan RI kembali pada pandangan negatif secara internasional, terlebih jika situasi yang buruk tersebut berdampak pada keamanan warga negara asing, ekonomi dan dampak sosial politik yang bisa ditunjukkan hanya dengan dikeluarkannya status travel warning dari sejumlah negara.

Peristiwa mempertahankan baliho oleh warga Cileungsi yang bernilai keberanian ini mengingatkan pada momen historis saat insiden seputar Proklamasi Kemerdekaan RI pada tahun 1945. Di seluruh wilayah Indonesia, rakyat serentak mengibarkan bendera merah putih pada tanggal 1 September 1945 sesuai maklumat pemerintahan Soekarno. Di Surabaya, pengibaran bendera merah putih malah kian meluas terlebih ada agenda rapat raksasa yang diadakan oleh Barisan Pemuda Surabaya.

Meskipun telah menyerah pada sekutu, pihak tentara Jepang tetap melarang digelarnya rapat raksasa tersebut! Karena massa dalam kondisi yang kuat karena bersatu, maka rapat raksasa tetap berjalan dengan mengibarkan bendera merah putih dan meneriakkan kata 'Merdeka!' Tentara Jepang pun tidak sanggup menghentikan atau membubarkannya hingga tidak lama kemudian usai proses pelucutan senjata oleh tentara sekutu, tentara Jepang kembali ke negaranya! Itulah arti dari kekuatan massa yang sejarah selalu memperlihatkan catatannya sebagai referensi.

Semua sepakat, dalam pertimbangan yang rasional untuk sama-sama menghindarkan terjadinya people power. Namun, tuntutan untuk berlaku jujur dan adil dari KPU atau pihak yang bertanggung jawab dalam menyelenggarakan pemilu ini harus betul-betul dijalankan karena people power kini dalam posisi menunggu trigernya! Semua hanya soal waktu dan perbedaannya sangat tipis antara terjadi dan terhindar. [rah]

Penulis adalah Fahmi M.S Kartari merupakan Sutradara Film Dokumenter & Pemerhati Sosial Politik


Komentar Pembaca
Anjing Power

Anjing Power

SENIN, 20 MEI 2019

KPPS Antara Nyawa Dan Suara!

KPPS Antara Nyawa Dan Suara!

KAMIS, 09 MEI 2019

Di Tepi Amu Darya, Di Ujung Kredibilitas Profesi…
Dari Seminar Seks Berbuntut Suaka

Dari Seminar Seks Berbuntut Suaka

KAMIS, 30 AGUSTUS 2018

Mode Pramugari Anda Yang Jadi Juri

Mode Pramugari Anda Yang Jadi Juri

SENIN, 27 AGUSTUS 2018

Siapa Paling Berkuasa Di Indonesia

Siapa Paling Berkuasa Di Indonesia

SENIN, 27 AGUSTUS 2018

Jangan Karena Cari Keuntungan Label Halal Dihapus

Jangan Karena Cari Keuntungan Label Halal Dihapus

RABU, 18 SEPTEMBER 2019 , 12:31:48

Mengusung Tandu Toapekong Terbanyak

Mengusung Tandu Toapekong Terbanyak

SELASA, 17 SEPTEMBER 2019 , 08:22:15

Ada Enggar Di Balik Kasus Impor Pangan

Ada Enggar Di Balik Kasus Impor Pangan

SENIN, 16 SEPTEMBER 2019 , 01:14:11