Ada Upaya Jegal Regulasi Sehat Lewat Kritik Pembatasan Promo Ojol

Ragam  KAMIS, 13 JUNI 2019 , 22:52:00 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Ada Upaya Jegal Regulasi Sehat Lewat Kritik Pembatasan Promo Ojol

Harryadin Mahardika/Ist

Seabrek kritik terhadap rencana Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menerapkan regulasi pembatasan promo ojek online (ojol) dinilai sebagai upaya penjegalan oleh salah satu aplikator.

Upaya ini disinyalir bertujuan untuk menghambat agar tidak ada regulasi yang mengatur soal promo. Padahal selama ini tarif promo dipakai sebagai alat persaingan tarif ojol secara sembunyi-sembunyi.

"Ingat, komponen predatory pricing itu salah satunya adalah dengan memberikan promo besar dan dalam jangka waktu panjang. Tujuan utamanya ya untuk mematikan kompetitornya," kata Pengamat Kebijakan Publik dari Universitas Indonesia (UI) Harryadin Mahardika saat dihubungi di Jakarta, Kamis (13/6).

Apalagi, menurut Harryadin, aplikator asal Malaysia sebagai satu dari dua penyedia layanan transportasi online di Indonesia terbukti sudah menjalankan beberapa ciri promo yang tergolong sebagai skema predatory promotion. Salah satunya adalah berupa pemberlakuan promo berlimpah dalam waktu terus menerus.

"Waktu promonya tidak wajar. Ini jadi seperti diskon harga yang terus menerus, sehingga cenderung tidak pernah ada tarif normal," ujar Harryadin.

Tujuan dari pemberlakuan promo ini pun menjadi terlihat sebagai upaya mematikan kompetitor.

"Kita sudah lihat dalam kasus ojek online saat ini, pergeseran konsumen akibat adanya promo terus menerus sudah terjadi cukup massif," kata Harryadin, menegaskan.

Indikasi lainnya adalah, predatory promotion oleh aplikator asal Malaysia tersebut juga dilakukan dengan menggunakan koneksi bisnis secara abusif.

"Ini mereka memanfaatkan network effect yang tidak dimiliki oleh kompetitor. Tentu ini upaya yang lagi-lagi memerlukan regulasi supaya industri digital ini tetap sehat," terang Harryadin.

Terkait kekhawatiran para mitra pengemudi aplikator asal Malaysia yang juga menentang adanya regulasi pembatasan promo, Harryadin melihat ini hanyalah kekhawatiran semu saja.

Kata Harryadin, mitra pengemudi harus menyadari bahwa bahaya terbesar adalah ketika promo yang sifatnya mematikan pesaing terus dilakukan.

"Kalau nantinya hanya ada satu pemain dalam suatu industri, tentu harga malah akan dimonopoli, lho," cetus Harryadin.

Akibatnya, mitra pengemudi justru jadi tidak memiliki pilihan ketika aplikator tersebut menentukan harga yang tidak fair. Inilah yang membuat masa depan industri transportasi online di Indonesia bisa menjadi tidak sehat.

"Maka itu, pemerintah sebagai regulator harus dan wajib ambil peran," pungkas Harryadin.[dod]

Komentar Pembaca
PPSU Bersih-Bersih

PPSU Bersih-Bersih

JUM'AT, 24 MEI 2019 , 01:42:00

Ribuan Jamaah Mensalatkan Ustaz Arifin Ilham

Ribuan Jamaah Mensalatkan Ustaz Arifin Ilham

JUM'AT, 24 MEI 2019 , 01:29:00

20 NGO Hadiri Gathering di Rawamangun

20 NGO Hadiri Gathering di Rawamangun

SABTU, 25 MEI 2019 , 13:35:00