Demokrasi Indonesia Memasuki Masa-Masa Kelam

Politik  SABTU, 15 JUNI 2019 , 15:36:00 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Demokrasi Indonesia Memasuki Masa-Masa Kelam

Diskusi 'Mahkamah Keadilan untuk Rakyat'/RMOL

Sekretaris Jenderal Partai Berkarya, Priyo Budi Santoso mengaku prihatin dengan situasi politik dan demokrasi Indonesia belakangan ini.

"Saya kaget melihat situasi ada sebuah era di mana demokrasi sudah susah payah dibangun, kini memasuki masa-masa kelam," ujar Priyo dalam diskusi akhir pekan bertajuk 'Mahkamah Keadilan untuk Rakyat' di Jalan Wahid Hasyim, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (15/6).

Terlebih pascakerusuhan 21-22 Mei lalu di sekitar kawasan gedung Bawaslu, Jakarta Pusat.

Karena itulah 10 hari jelang Idul Fitri 1440 Hijriyah, Priyo mengaku memilih berpuasa dari hingar bingar politik Tanah Air.

"Puasa dulu sembari merenung. Apa perbedaan politik mengizinkan membangun demokrasi semakin nyala semakin matang," ucap Priyo yang juga Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi.

Narasumber lainnya, Taufik Basari dari Tim Hukum Joko Widodo-Ma'ruf Amin menganggap kubu rivalnya, Prabowo-Sandi terbawa perasaan dalam materi gugatan hasil Perselisihan Pemilihan Umum (PHPU) Pilpres 2019 yang tengah berproses di Mahkamah Konstitusi (MK).

"Masuk wilayah hukum tidak bicara perasaan dan berujung pada tuduhan, tidak bisa seperti itu. Kami bicara fakta dan bukti bukan perasaan," kata Taufik.

Taufik menekankan, seharusnya pasangan calon 02 selaku pemohon mengedepankan bukti dan logika dalam sengketa hasil Pilpres 2019 yang diajukan mereka.

"Misalnya dana anggaran APBN disusun bersama antara DPR dan pemerintah. Tetapi dinarasikan terkait pemilu," jelas Taufik.

Sementara Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Islam (PB HMI) Respiratori Saddam Al Jihad mengajak seluruh pihak untuk menghentikan ribut-ribut politik.

"Ini kan masih bulan Syawal. Mari stop ribut-ribut," ujar Saddam.

Saddam juga mengajak kepada semua pihak agar tahapan demokrasi dihormati secara politik dan hukum.

Menurut Saddam, generasi milenial sudah sangat bijak dalam menerima hasil kemenangan demokrasi. Karena tujuan dari demokrasi harus berdampak pada kesejahteraan rakyat dan pembangunan manusia yang kompetitif.

"Dan kita melihat potensi untuk masa depan Indonesia, bukan lagi dinamika perebutan kekuasaan," tegas Saddam.

Saddam meyakini juga bahwa para elite partai politik pun cukup bijak memberikan pendewasaan politik kebangsaan terhadap generasi milenial agar guyub dan menjaga rasa persatuan kebangsaan.

"Dalam sebuah dinamika politik, sudah semestinya putra bangsa saling mendorong konsensus kebangsaan untuk terus bersama demi keberlangsungan Republik Indonesia," kata Saddam.

Saddam menambahkan, suasana politik berbudi harus lebih dikedepankan secara patriotik dan bijak ketimbang dibumbui suasana politik yang mendikotomikan masyarakat, sehingga raut demokrasi menjadi teduh dan dewasa.[dod]

Komentar Pembaca