Jakarta Fair Yang Tidak Fair

Suara Rakyat  MINGGU, 23 JUNI 2019 , 13:54:00 WIB

Jakarta Fair Yang Tidak Fair

PRJ 2019/Ist

SALAH satu paket acara HUT ke-492 Jakarta adalah pelaksanaa Pekan Raya Jakarta (PRJ) atau Jakarta Fair, yang dilaksanakan mulai 22 Mei-30 Juni 2019.

Pada Sabtu (22/7), saya mengunjungi PRJ. Memasuki area PRJ sekitar pukul 16.15 WIB, dengan kemacetan yang parah. Akhirnya saya baru bisa parkir sekitar pukul 17.15 WIB.

Ada beberapa catatan terhadap pelaksanaan Jakarta Fair 2019 ini yang menjadi tidak fair alias tidak adil bagi konsumen atau pengunjungnya, yakni:

1. Tarif parkirnya menerapkan harga flat yakni Rp 30.000 per sekali masuk. Tarif sebesar ini terlalu mahal. Ini sama saja menjadikan kenaikan tiket masuk secara terselubung. Sedangkan tiket masuk tarifnya Rp 40.000 per orang. Jadi konsumen (pengguna mobil) harus merogoh kocek Rp 70.000. Kondisi area parkir sangat tidak nyaman, terbuka, dan berdebu. Selain itu, manajemen PRJ seharusnya bisa menakar berapa kapasitas maksimal area PRJ dan area parkir. Bukan malah sebaliknya, pengunjung terus diterima masuk ke area PRJ sehingga sangat sulit mencari area parkir, dan di dalam area PRJ sangat penuh sesak. Sangat tidak nyaman. Sementara konsumen sudah membayar parkir yang sangat mahal, dan tiket masuk yang mahal juga.

2. Terkait fasos/fasum di area PRJ juga kurang memadai, khususnya keberadaan atau jumlah toilet, plus tempat ibadah/musala. Minim penandaan yang mengarahkan ke lokasi toilet dan musala. Jadi pengunjung harus mencari-cari petugas untuk bertanya, dimana keberadaan toilet dan musala. Selain itu terjadi antrian yang panjang di toilet perempuan. Disaat pengunjung membludak seperti itu, seharusnya disiapkan portable toilet.

3. Dia area PRJ banyak orang merokok, dan Sales Promotion Girl (SPG) yang menjajakan dan mempromosikan produk rokok, dari beberapa merek. Rokok ditawarkan dengan promosi/diskon, Rp 20.000 mendapatkan dua bungkus rokok, plus wadah asesorisnya. Dengan demikian, PRJ yang mengklaim berskala internasional, kalah dengan area pasar tradisional di Kota Bangkok (Pasar Tjacucak) yang terbebas asap rokok. Tidak ada orang merokok di pasar tersebut, apalagi ada SPG yang jualan rokok. Padahal area PRJ sebagai tempat umum adalah area Kawasan Tanpa Rokok (KTR).

Demikian sejumput catatan. Masih ada waktu seminggu lagi bagi manajemen PRJ untuk memperbaiki layanan dan kinerjanya.

Jangan cuma memungut tarif yang mahal, tetapi gagal menyamankan pengunjungnya. Pemprov DKI pun seharusnya mengawasi pelaksanaan PRJ tersebut. Terima kasih.

Tulus Abadi Ketua Pengurus Harian YLKI

Komentar Pembaca
Anies, Ikon Kerakyatan dan Ke-Indonesiaan
Anies Dan Pengungsi Di Jakarta

Anies Dan Pengungsi Di Jakarta

JUM'AT, 19 JULI 2019

Sutopo, Fatwa Nestapa dan Bahasa Air Mata
Pilpres 2024, Siapa Penantang Anies?
Anak Perusahaan

Anak Perusahaan

SELASA, 18 JUNI 2019

Caleg Ganteng Masuk Senayan

Caleg Ganteng Masuk Senayan

KAMIS, 13 JUNI 2019

PPSU Bersih-Bersih

PPSU Bersih-Bersih

JUM'AT, 24 MEI 2019 , 01:42:00

Ribuan Jamaah Mensalatkan Ustaz Arifin Ilham

Ribuan Jamaah Mensalatkan Ustaz Arifin Ilham

JUM'AT, 24 MEI 2019 , 01:29:00

20 NGO Hadiri Gathering di Rawamangun

20 NGO Hadiri Gathering di Rawamangun

SABTU, 25 MEI 2019 , 13:35:00