Ternyata Cagar Budaya Stasiun Jatinegara Masih Aman

Jakarta  MINGGU, 23 JUNI 2019 , 14:23:00 WIB | LAPORAN: WIDYA VICTORIA

Ternyata Cagar Budaya Stasiun Jatinegara Masih Aman

Stasiun Jatinegara/RMOL

RMOL. Tidak seperti yang dikhawatirkan sebelumnya, Stasiun Jatinegara di Jakarta Timur yang merupakan salah satu cagar budaya masih dalam keadaan aman.

Dari pantauan redaksi hari ini (Minggu, 23/6), atap Stasiun Jatinegara yang terbilang khas itu juga dalam keadaan utuh.

Saat ini Stasiun Jatinegara sedang mengalami renovasi dan perluasan  pada bagian peron keberangkatan dan kedatangan.

Diharapkan renovasi dan perluasan stasiun akan membuat pelayanan stasiun lebih baik dan pengguna kereta api juga merasa lebih nyaman.  

Stasiun Jatinegara didirikan pada tahun 1910,  dan merupakan karya arsitek S. Snuyf yang ketika itu adalah Kepala Sementara Biro Perancang Departemen Pekerjaan Umum pemerintah Kolonial.

Stasiun Senen Jatinegara yang termasuk dalam Daerah Operasi I Jakarta PT Kereta Api Indonesia (KAI) merupakan tempat pertemuan tiga jalur kereta, yakni jalur ke Pasar Senen, ke Manggarai dan ke Bekasi.

Kekhawatiran Stasiun Jatinegara rusak oleh pembangunan infrastruktur sempat disampaikan pemilik akun Twitter @ferly_norman.

Dalam twitnya, @ferly_norman mengatakan, Tolong selamatkan Stasiun Jatinegara! Atap legendaris peninggalan kolonial di peron 1 & 2 dihancurkan karena ada proyek.”

Ia pun mengunggah dua foto yang memperlihatkan tiang pancang yang sedang didirikan di stasiun, juga informasi mengenai status cagar budaya yang dimiliki stasiun ini.

Stasiun Jatinegara tercatat sebagai cagar budaya dalam SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 011/M/1999.

Kawasan Jatinegara awalnya bernama Meester Cornelis yang diambil dari nama seorang keturunan Portugis yang mendirikan sekolah di daerah itu, Cornelis Senen.

Ketika Jepang berkuasa di Jakarta, nama itu diubah menjadi Jatinegara, merujuk pada istilah yang digunakan Pangeran Jayakarta yang terlebih dahulu mendirikan Jatinegara Kaum. Jatinegara sendiri berarti Negara Sejati.

Disebutkan bahwa Jepang mengganti nama Messter Cornelis menjadi Jatinegara karena tak mau menggunakan istilah Belanda.  [wid]

Komentar Pembaca