Putri Mantan Kapolri Perjuangkan Hak Asasi Hewan

Hukum  JUM'AT, 05 JULI 2019 , 23:54:00 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Putri Mantan Kapolri Perjuangkan Hak Asasi Hewan

Nina Agustina Dai Bachtiar/Ist

Para Pejuang Hak Hidup Hewan (PH3) memberikan 'kartu kuning' terhadap penegakan hukum dan kesadaran masyarakat akan pentingnya perlindungan hewan di Indonesia.

"Saya dan rekan-rekan dari PH3 sangat prihatin dengan masih banyaknya manusia yang tidak mempunyai perasaan terhadap sesama makhluk hidup, tidak peduli pada hak asasi hewan. Kurangnya kesadaran masyarakat ini juga diperparah dengan penegakan hukum yang masih lemah," kata Ketua PH3 Nina Agustina Dai Bachtiar dalam keterangan tertulisnya, Jumat (5/7).

Putri mantan Kapolri Jenderal (Purn) Dai Bachtiar ini menilai, adanya media sosial justru membuat masyarakat merasa bahwa tindakan kekerasan terhadap hewan dianggap sebuah hal yang wajar.

Apa yang dilakukan kepada satwa, seperti pemukulan, penusukan, pencekikan dan pembuangan binatang. Baik berupa foto maupun video menjadi lelucon yang banyak dijumpai di media sosial.

"Kalaupun tidak suka, tolong jangan disiksa atau dianiaya apalagi diunggah ke media sosial untuk lelucon atau ajang pamer eksistensi," ujar pemilik kantor hukum NDB & Partners ini.

Dalam Pasal 66 ayat (2) huruf c UU Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, diatur bahwa pada dasarnya terhadap hewan tersebut (bukan binatang yang dilindungi negara), mewajibkan setiap orang untuk melakukan pemeliharaan, pengamanan, perawatan, dan pengayoman hewan dengan sebaik-baiknya.

Dengan demikian, hewan bebas dari rasa lapar dan haus, rasa sakit, penganiayaan dan penyalahgunaan, serta rasa takut dan tertekan.

"Sebenarnya UU yang ada sudahlah jelas, tentang ancaman serta hukuman bagi orang yang melanggar UU tersebut," tegas Nina.

Namun dari sekian banyak laporan yang dibuat, sedikit sekali yang naik ke persidangan dan pelakunya mendapatkan hukuman yang setimpal.

Satu diantaranya, PH3 meminta penyidik Polresta Samarinda Kalimantan Timur mengusut tuntas kasus penganiyaan hewan yang diduga dilakukan AS, warga Sempaja Barat, Samarinda Utara.

Ketua Animal Defenders Indonesia yang juga staf ahli PH3 Doni Herdaru Tona mengungkapkan, AS dilaporkan ke polisi oleh PH3 karena diduga telah membiarkan dan merekam video saat dua anjing Pitbull miliknya merobek-robek seekor kucing hingga mati.

Video tersebut viral di media sosial serta mendapatkan kecaman dan reaksi keras dari berbagai komunitas pecinta hewan.

"PH3 yang berisi sejumlah advokat dan pemerhati hak hidup hewan, hari ini telah melengkapi Berita Acara Pemeriksaan (BAP) di Polresta Samarinda. Kami berharap penyidik mengusut tuntas kasus ini," kata Doni.

Menurut Doni, terdapat unsur kesengajaan, pembiaran dan penyiksaan hewan hingga mati. Tidak hanya itu, pemilik Pitbull diduga kerap melakukan hal yang sama serta memelihara sejumlah satwa yang dilindungi seperti macan dahan yang mal-nutrisi dan memasukkan hewan ke dalam freezer.[dod]

Komentar Pembaca