Sosialisasi PKB Pertamina di Atas Kapal Disoal

Nasional  KAMIS, 01 AGUSTUS 2019 , 13:33:00 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Sosialisasi PKB Pertamina di Atas Kapal Disoal

PKB Pertamina di atas kapal/Net

Sosialisasi Perjanjian Kerja Bersama (PKB) VII Pertamina periode 2019-2021, di atas Kapal Very Large Gas Carrier (VLGC) Pertamina Gas 1, yang diinisiasi Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) bersama dengan Serikat Pekerja Forum Komunikasi Pekerja dan Pelaut Aktif di Situbondo, dinilai cuma gagah-gagahan.

"Kegiatan di atas kapal tidak memiliki urgensi dan tentu kurang efektif," kata Pemerhati Migas Nasional, Agung Wibowo melalui keterangan tertulisnya, Kamis (1/8).

Menurut Agung, yang dibutuhkan pekerja bukan soal acara dibuat di atas kapal kemudian dipublikasi seolah-olah urusan PKB VII pekerja Pertamina beres, tetapi semangat yang diusung betul-betul dapat mencerminkan sebuah kebutuhan besar pekerja dan perusahaan.

Agung menilai, ada tantangan terkait keberlangsungan bisnis Pertamina yang juga penting untuk dirumuskan, namun tentunya bukan soal seremoni saja. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh FSPPB dibawah komando Ari Gumilar.

Sangat disayangkan jika wadah pekerja PT Pertamina masih terjebak pada soal seremonial sehingga kehilangan kontekstualitas dari pesan yang ingin disampaikan dari kegiatan itu sendiri.

"Saya khawatir kegiatan tersebut hanya jadi ajang gagah-gagahan dari federasi saja. Sementara substansi dari apa yang ingin disampaikan malah tidak muncul.

Dan yang tak kalah penting adalah dari sisi keamanan acara. Kegiatan di atas kapal ini semestinya memperhatikan sisi keselamatan peserta yang juga pekerja.

"Kami juga menyayangkan, kegiatan tersebut sama sekali tidak menyentuh soal kebocoran minyak yang terjadi di laut Karawang. Kebocoran tersebut menunjukkan ada soal teknis yang mesti di perbaiki utamanya soal safety," ujar Agung.

Selain itu, kegiatan PKB tersebut mestinya dapat menjadi aksi nyata untuk membantu mengurangi dampak pencemaran minyak di laut Karawang. Ada dampak pencemaran minyak yang akan mempengaruhi ekosistem laut dan menjadi masalah serius bagi nelayan pesisir Pantura.

"Perlu dibangun solidaritas yang melibatkan masyarakat pesisir pantai untuk mengurangi dampak pencemaran. Dan tak kalah urgent adalah melakukan evaluasi pada tataran teknis agar kejadian serupa tak lagi terulang," tutup Agung.[dod]

Komentar Pembaca