Istighosah Digelar di Lokasi Terdampak Kebocoran Pipa Minyak di Tanjung Pakis

Peristiwa  SABTU, 24 AGUSTUS 2019 , 13:24:00 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Istighosah Digelar di Lokasi Terdampak Kebocoran Pipa Minyak di Tanjung Pakis

SPPSI gelar istighosah/Ist

Upaya penanganan dan pendekatan terhadap masyarakat terdampak kebocoran pipa minyak Pertamina terus dilakukan Serikat Pekerja Pertamina Seluruh Indonesia (SPPSI). Selain penanganan fisik, SPPSI juga menggelar Istigosah atau doa bersama masyarakat di Kampung Bungin, Desa Tanjung Pakis, Karawang pada Jumat (23/8) malam.

Istighosah dilakukan untuk mendoakan sesama pekerja Pertamina agar Allah memberikan keselamatan dan kemampuan dalam menyelesaikan musibah yang terjadi saat ini.

Dalam acara yang dihadiri pengurus SPPSI serta tokoh masyarakat Desa Tanjung Pakis ini, dilakukan pula santunan terhadap 100 anak yatim dan bantuan dana kepada Karang Taruna, Kampung Bungin. Pemberian dilakukan secara simbolis oleh Ketua Umum SPPSI, Muhammad Syafirin kepada 10 orang anak yatim.

Muhammad Syafirin mengatakan, kebocoran pipa Pertamina di lepas pantai merupakan musibah yang tidak diinginkan semua pihak. Dirinya pun memastikan pengeboran dilakukan sesuai prosedur dan dilakukan oleh para ahlinya.

Namun, kata dia, kebocoran minyak terjadi karena kehendak Allah dan tak bisa dihindari. Dalam musibah ini, Pertamina telah berusaha untuk mengurangi dampak secara fisik. SPPSI pun mengajak seluruh masyarakat untuk berdoa, memohon kepada Allah agar musibah ini dapat segera teratasi.

"Kebocoran minyak adalah musibah karena Allah berkehendak, ada beberapa wilayah yang terdampak akibat kegiatan ini, dan perusahaan sudah berusaha fisik untuk melakukan hal-hal yang terbaik. Kami mengajak masyarakat untuk berdoa bersama. Semoga kejadian ini dapat segera diatasi," kata Syafirin.

Sekretaris Umum Ikatan Sarjana Nahdhatul Ulama (NU), yang juga pengamat energi Muhammad Kholid Syaerazi mengakui dampak dari kebocoran dirasakan oleh nelayan pesisir, termasuk di Tanjung Pakis.

Meski demikian, Kholid meminta kepada semua pihak untuk saling menbantu menyelamatkan aset Pertamina. Karena pihak Pertamina juga mengalami kerugian yang cukup besar. .

Sementara pengamat Salamuddin Daeng mengapresiasi langkah SPPSI yang langsung menyasar ke masyarakat dalam upaya doa bersama. Menurutnya, selain aksi penanganan secara fisik, doa bersama perlu dilakukan mengingat tumpahnya minyak Pertamina merupakan sebuah musibah.

Aktivis lingkungan yang juga Ketua Komite Penghapus Bensin Bertimbal (KPBB) Ahmad Safrudin menegaskan, kasus tumpahnya minyak Pertamina saat ini, berbeda dengan kasus Lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur.

Meski sama-sama musibah, namun ada yang bebeda. Dalam kasus Pertamina semua elemen perusahaan turun tangan dalam mengatasi permasalah ini. Sementara untuk kasus Lumpur Lapindo, perusahaan maupun pemerintah seakan lepas tangan.

Ia meminta masyarakat untuk percaya terhadap upaya yang dilakukan oleh para ahli dari Pertamina dalam menangani masalah hal ini.

"Namun apalah artinya usaha penanganan jika tidak dibarengi dengan doa," katanya.[dod]

Komentar Pembaca
Mengusung Tandu Toapekong Terbanyak

Mengusung Tandu Toapekong Terbanyak

SELASA, 17 SEPTEMBER 2019 , 08:22:15

Ada Enggar Di Balik Kasus Impor Pangan

Ada Enggar Di Balik Kasus Impor Pangan

SENIN, 16 SEPTEMBER 2019 , 01:14:11

Gerindra Tolak Revisi UU KPK, Ada Apa?

Gerindra Tolak Revisi UU KPK, Ada Apa?

SABTU, 14 SEPTEMBER 2019 , 06:44:37