Dengan JakLingko, Ahli Waris Pengemudi Eks Angkot Disantuni

Jakarta  SABTU, 07 SEPTEMBER 2019 , 10:04:00 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Dengan JakLingko, Ahli Waris Pengemudi Eks Angkot Disantuni

Santunan untuk ahli waris pengemudi JakLingko/Ist

Sistem integrasi transportasi publik di Jakarta, JakLingko rupanya tidak hanya menguntungkan penumpang karena hematnya tarif yang diberlakukan. Jak Lingko ternyata menyejahterakan paramudi atau pengemudinya, karena otomatis terdaftar kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan.

Demikian disampaikan Direktur Utama PT TransJakarta Agung Wicaksono yang dikutip melalui akun Facebooknya, Sabtu (7/9).

JakLingko adalah sistem yang memanusiakan semua insan transportasi yang tergabung di dalamnya, sampai dengan kepada para pengemudi yang dulunya eks angkot dan kemudian bergabung dengan JakLingko menjadi MikroTrans TransJakarta.

Dulunya angkot, sekarang jadi angkutan umum berstandar pelayanan, bahkan beberapa sudah ada yang ber-AC. Para pengemudinya bisa berpenghasilan tetap, bahkan mendapat jaminan perlindungan BPJS.

”Kontrak JakLingko mengatur seluruh pengemudi wajib menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan. Seperti KWK sudah mendaftarkan pengemudi utama dan pengemudi cadangan menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan,” kata Agung.

Begitu pula bagi peserta yang meninggal akibat kecelakaan kerja ahli warisnya mendapatkan santunan normatif 48 kali upah terakhir yang didaftar. Jika meninggal biasa ahli waris mendapatkan Rp 24 juta.

Misalnya dua ibu ahli waris dari pengemudi JakLingko MikroTrans atas nama Sartono dan Firman Kaban. Kedua almarhum meninggal karena sakit, setelah selesai menjalankan tugas.

Tentunya sebuah pukulan berat bagi keluarganya. Karena telah didaftarkan ke BPJS Ketenagakerjaan oleh operator Koperasi Wahana Kalpika (KWK) sebagai mitra PT. Transjakarta dalam JakLingko, kedua ahli waris mendapatkan santunan dari BPJS Ketenagakerjaan. Meskipun almarhum bukan karyawan TransJakarta, tapi mereka bagian dari keluarga besar TransJakarta.

"Salah seorang di antaranya suaminya wafat saat baru berusia 40 tahun. Bahwa tak ada nilai santunan yang bisa menggantikan suaminya. Namun suaminya sudah menjadi teladan dengan ikut dalam program yang bukan hanya melayani angkutan warga Jakarta, tapi juga semoga menginspirasi banyak sopir angkutan umum untuk mau bergabung dengan JakLingko," tutup Agung.[dod]

Komentar Pembaca