Tudingan KPAI Hambat Regenerasi Pebulutangkis

Olahraga  SENIN, 09 SEPTEMBER 2019 , 20:03:00 WIB | LAPORAN: RMOL NETWORK

Tudingan KPAI Hambat Regenerasi Pebulutangkis

Susy Susanti/Net

Ajang pencarian bakat pebulutangkis muda yang biasa digelar PB Djarum Kudus sejak 50 tahun lalu akan diakhiri pada tahun 2020.

Keputusan PB Djarum yang mengejutkan tersebut disinyalir sebagai respons atas tuduhan eksploitasi anak dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

Banyak pihak termasuk Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) dan Generasi Optimis (GO) Indonesia menyayangkan tudingan KPAI terhadap PB Djarum tersebut.

Terlebih, penghentian ajang pencarian bakat pebulutangkis muda itu terjadi di tengah sulitnya regenerasi pebulutangkis Indonesia.

"Disaat kami berjuang mempopulerkan bulutangkis, sebagian pihak ingin menyetop. Kalau tidak ada suplai dari bawah (klub) siapa yang akan membantu PBSI untuk menjaring bibit-bibit?," kata Kepala Bidang Pembinaan Prestasi PP PBSI, Susy Susanti, Minggu (8/9).

Sejalan dengan pemikiran Susy, Sekretaris Jenderal GO Indonesia, Tigor Mulo Horas Sinaga menyatakan, polemik yang dipicu oleh KPAI berisiko mematikan ikhtiar pembibitan atlet bulutangkis yang sudah berlangsung selama 50 tahun.

"Tudingan dari KPAI itu sudah menciderai nama baik PB Djarum. Karena tudingan 'eksploitasi anak' itu sudah seperti pembunuhan karakter dan integritas PB Djarum," kata Horas, Senin (9/9).

"Padahal justru PB Djarum ini adalah salah satu markas para pahlawan bulutangkis nasional," sambungnya.

Horas menganggap pernyataan Ketua KPAI Susanto yang mengatakan bahwa KPAI tidak memberhentikan audisi bulutangkis dan justru mendorong semua pihak agar mensupport anak-anak Indonesia sebagai retorika kosong.

"Pernyataan Ketua KPAI itu, suatu bentuk 'defense mechanism' atau pembelaan diri dari KPAI akibat banyaknya pihak yang geram dengan tudingan KPAI terhadap PB Djarum," tegas Horas.

Posisi KPAI saat ini tampak tersudutkan oleh blunder yang mereka lakukan sendiri. Menuding PB Djarum melakukan ekploitasi anak adalah tudingan serius yang lahir dari penafsiran sepihak dari KPAI

"Padahal para atlet alumni PB Djarum dan orangtua mereka tidak ada yang merasa dieksplotasi, " ucap Horas.

Horas juga melihat bahwa saat ini ada upaya dari KPAI untuk "cuci tangan" dan membenturkan PB Djarum dengan regulasi.

Argumen yang KPAI gunakan tersebut tidak tepat waktu jika dipakai dalam situasi yang sudah memanas seperti ini.

"Selama ini tidak ada anak yang dieksploitasi oleh PB Djarum, jadi siapa yang dieksploitasi?," tanya Horas.

Justru para orangtua bangga putra-putrinya bisa masuk pelatihan PB Djarum, " tutup Horas.[dod]

Komentar Pembaca
Ace Hasan Syadzily: Manuver Bambang Soesatyo Biasa Saja
PASANG SURUT CALON KETUA UMUM PAN

PASANG SURUT CALON KETUA UMUM PAN

KAMIS, 19 SEPTEMBER 2019 , 22:10:26

RIAU TOLAK RELAWAN DARI JAKARTA, ANIES MENJAWAB ELEGAN