Film Ali Sadikin Garapan Kesbangpol DKI Disoal

Ragam  JUM'AT, 13 SEPTEMBER 2019 , 14:55:00 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Film Ali Sadikin Garapan Kesbangpol DKI Disoal

Ali Sadikin/Net

Rencana Badan Kesbangpol DKI Jakarta memproduksi film semi dokumenter tentang tokoh Jakarta Ali Sadikin yang menjabat Gubernur DKI Jakarta periode 1966-1977, mendapat sorotan publik.

Pasalnya, dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Badan Kesbangpol DKI dan dihadiri 31 peserta, diantaranya Ajip Rosidi, Taufiq Ismail dan Hardi, film semi dokumenter yang akan digarap cuma akan memotret keberhasilan Ali Sadikin membangun Institut Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM) dan pemindahan kebon binatang dari Cikini ke Ragunan.

"Kok jasa Ali Sadikin yang dipotret kecil sekali. Padahal Ali Sadikin merupakan gubernur yang sukses membangun Jakarta," kata Pengamat Amir Hamzah di Jakarta, Jumat (13/9).

Amir juga menyayangkan pembuatan film tentang Ali Sadikin tanpa melibatkan anak-anak Ali Sadikin.

"Contohnya dalam FGD kemarin tidak mengundang anak-anak Ali Sadikin," ujar Amir.

Diketahui, ketika resmi menjabat orang nomor satu di DKI Jakarta pada 28 April 1966, Ali Sadikin dihadapkan pada kondisi ibukota yang kurang baik. Mulai dari birokrasi pemerintahan daerah sampai soal pembangunan kota. Kondisi dan tata kerja organisasi pemerintah tidak memungkinkan dimaksimalkan untuk menyelesaikan segudang masalah yang jadi beban ibukota.

Untuk membangun Jakarta yang disebut kampung besar, Bang Ali sapaan akrabnya, dibuat pusing karena anggaran belanja Jakarta pada tahun itu cuma Rp 66 juta, itu pun sudah termasuk suntikan dana dari pemerintah pusat. Anggaran itu dinaikkan menjadi Rp 266 juta, tapi masih saja jauh dari kebutuhan pembangunan infrastruktur dan fasilitas perkotaan.

Bang Ali mulai mencari solusi mengatasi kendala yang dihadapi dalam pembangunan Jakarta baik pembangunan ekonomi maupun sosial budaya. Salah satu solusi yang paling kontroversial mengatasi keterbatasan pemasukan daerah adalah melegalkan perjudian. Bang Ali melegalkan judi demi menambah pundi-pundi pendapatan daerah dari pajak.

Tak hanya itu, warga Jakarta saat itu pasti masih ingat kebijakan Bang Ali melokalisasi pelacuran Kramat Tunggak dan membuka tempat hiburan malam. Meski menimbulkan beragam kecaman, tapi Bang Ali berhasil menarik pajak untuk pembangunan ibukota.

Bang Ali cukup berhasil menyulap Jakarta menjadi kota metropolitan meski anggarannya terbatas.

Di bawah komando Bang Ali, kata dia, Jakarta mengalami banyak perubahan. Bang Ali dikenal sebagai gubernur yang keras namun membangun kota dengan manusiawi.

Bang Ali menyediakan tempat hiburan bagi warga Jakarta. Mulai dari Kebun Binatang Ragunan, Taman Impian Jaya Ancol, Monas, hingga pelestarian budaya Betawi di Condet.

Sementara Budayawan Betawi Ridwan Saidi justru mempersoalkan munculnya nama Ali Sadikin sebagai objek film yang akan digarap Badan Kesbangpol.

"Padahal ada Walikota Jakarta Dahlan Abdullah yang 1000 persen lebih pantas daripada Ali Sadikin," kata Ridwan.

Ridwan juga mengaku kecewa lantaran mayoritas peserta FGD malah berhasrat membuat film tentang riwayat Pusat Kesenian Jakarta.

"Kalau film ini dibuat dipastikan jadi film entertainment melulu untuk para mantan pekerja dan aktivis PKJ beserta keluarganya," ujar Ridwan.

"Tema yang sesederhana ini baiknya tidak difilmkan yang hanya bikin jebol anggaran daerah. Cukup direkam dengan kamera ponsel. Nanti narasumbernya Taufiq Ismail dan Hardi," tutup Ridwan.[dod]

Komentar Pembaca