Charter Cities Narasi Cerdas Buat Anies Baswedan

Suara Rakyat  SENIN, 23 SEPTEMBER 2019 , 12:17:00 WIB

Charter Cities Narasi Cerdas Buat Anies Baswedan

Anies Baswedan/Ist

HARI ini adalah hari ke tiga. dalam pertandingan kompetisi olahraga masuk perempat final. Hari ke tiga dalam upayanya saya membujuk pemimpin Jakarta Anies Baswedan menerapkan suatu terobosan, yaitu Charter Cities.

Apa dan bagaimana Charter Cities itu adalah invensi pemikiran peraih Nobel Ekonomi 2018, Paul Michael Romer. Ia bukan saja ekonom tapi juga mantan Chief Economist World Bank.

Ia juga bukan ekonom yang dibesarkan dari mulut ke mulut dan media sebagai ekonom terbaik dunia. Romer sosok intelektual. Berani melakukan otokritik pada disiplin ilmunya. Ekonomi Makro.

Di perempat final proposal ide ini saya lebih banyak mereview serangkaian seri tulisan sebelumnya dan masuk pada inti bab pembahasan. Urgensi proposal Charter Cities atau Kota Piagam.

Pilihan kepada Anies karena sang guru politiknya mengalah untuk menang. Kalau sang guru menang akan lain judul proposal ini.

Dan Anies tipikal birokrat yang telah teruji intelektualitas dan keberaniannya melawan "raksasa". Konon ada tiga belas raksasa di sana.

Tiga hari lagi adalah momentum satu tahun hari bersejarah seri pertama dari drama politik Tanah Air, tepatnya 26 September 2018, proyek reklamasi dihentikan.

Ia telah berpesan pada 17 Agustus 2019. Pesan kuat bahwa sekarang tanah yang ia rebut milik rakyat. Rakyat Jakarta seperti saya mengusulkan lebih jauh.

Agar pesan itu tidak berhenti sebagai pesan an sich. Anies butuh sparing partner sepeninggal sohibnya Sandiaga Salahuddin Uno. Anies saat ini butuh narasi cerdas dari pesan kuatnya.

Narasi itu adalah Charter Cities. Dapat dibayangkan dampak luas positifnya jika hamparan tanah kosong itu dijadikan kota baru yang bukan lagi swasta atau perorangan. Tapi kota milik bersama.

Karena Charter Cities harus dimulai secara legal lewat proses politik dilakukan dengan sukarela para masyarakat bisnis dan warga sekitar.

Itu yang dilakukan proposal Romer dengan Presiden Honduras. Karena nasib manusia masa depan ada pada human capital (ide) dan perkembangan teknologi. Bukan data data pemerintah dan bank sentral.

Sebagai warga Jakarta sekaligus warga negara saya mengetuk hati pemimpin negeri jangan berhenti sebagai pesan. Anies perlu narasi cerdas yang layak dipertimbangkan menjadi karya nyata.

Bukan wewenang saya secara teknis apa dan bagaimana Charter Cities. Ini tugas Anda. Anda lah menjadikannya itu menjadi karya.

Buat apa mementingkan pendapatan investor semata dengan memindahkan ibukota pemerintahan atau membentuk lembaga perizinan baru. Kajilah narasi ini, studi kasus reklamasi tanah teluk Jakarta mendirikan Kota Piagam.

Adil dan berdamailah (come to terms) sejak dalam pikiran.[dod]

Soemantri Hassan Pemerhati Kebijakan Publik

Komentar Pembaca