Status Tersangka Benny Hermanto Dipraperadilankan

Hukum  SENIN, 23 SEPTEMBER 2019 , 22:26:00 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Status Tersangka Benny Hermanto Dipraperadilankan

Muara Karta/RMOL

Penetapan status tersangka Benny Hermanto oleh Polrestabes Medan resmi dipraperadilankan lantaran diduga kuat sarat kejanggalan.

Kuasa hukum Benny, Muara Karta mengatakan, upaya praperadilan dilakukan melalui Pengadilan Negeri Medan sebagai bentuk upaya hukum untuk memperoleh keadilan.

"Pak Benny Hermanto selaku klien kami merupakan Direktur PT Sari Opal Nutrion yang bermitra dengan PT Opal Coffe Indonesia. Terdapat hubungan keperdataan jual beli kopi dengan adanya ketentuan platform kredit," kata Karta, saat memberikan keterangan pers di Jakarta, Senin (23/9).

Karta menjelaskan, sesuai platform kredit yang diberikan oleh PT Opal Coffe Indonesia, terdapat kesepakatan PT Sari Opal Nutrition dapat melakukan permintaan kopi secara berulang-ulang sejak periode 19 April 2018 hingga 6 Juli 2018 sepanjang tidak melewati batas platform kredit.

"Kami sudah menyerahkan dua bukti kepada pihak kepolisian mengenai nilai platform kredit yang diberikan PT Opal Coffe Indonesia kepada PT Sari Opal Nutrition," ujar Karta.

Menurutnya, permasalahan sesuai laporan polisi, LP/449/K/II/2019/SPKT dengan pelapor Tjang Sun Sin dan terlapor Benny Hermanto adalah menyangkut hubungan keperdataan berupa jual beli kopi. Sehingga, sudah seharusnya diselesaikan melalui KUH Perdata.

"Kalau ini dibawa ke ranah KUH Pidana tentu menjadi pertanyaan besar buat kami," ungkap Karta.

Ia menambahkan, pihaknya juga sudah bersurat kepada Kapolda Sumatera Utara dengan tembusan Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian untuk menyampaikan permohonan perlindungan hukum dan memohon dilakukannya gelar perkara terhadap penetapan Benny Hermanto sebagai tersangka.

"Kami ingin memastikan proses hukum berjalan sesuai kaidah, prosedur, aturan, profesional, dan tidak melanggar prinsip fair trial," tegas Karta.

Selain itu, sambungnya, Benny Hermanto juga sedang berjuang untuk menyelesaikan persoalan lain dengan Suryo Pranoto selaku Direktur PT Opal Coffe Indonesia terkait adanya kewajiban yang belum dibayarkan. Selaku pemegang saham di PT Global Agro Perkasa.

"Suryo Pranoto belum membayarkan net profit sharing kepada klien kami yang menjabat sebagai Direktur PT Global Agro Perkasa," ucap Karta.

"Net profit sharing awalnya sebesar lima persen yang diserahkan setiap tahunnya dari keuntungan bersih perusahaan. Kemudian di tahun 2009 sesuai Surat Pernyataan Segenap Pemegang Saham PT Global Agro Perkasa dengan legalisasi notaris Minarty Theh, Nomor 24/MT.Mb/L/X/2009, nilai net profit sharing ditingkatkan menjadi 10 persen," imbuhnya.

Tidak hanya itu, sebagai pemegang saham PT Wahana Grahamakmur, Suryo Pranoto juga mangkir memberikan profit sharing sebesar 2,5 persen yang semestinya diserahkan sekali dalam satu tahun setiap selesai diadakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

"Itu sesuai dengan Akta Berita Acara Rapat PT Wahana Grahamakmur Nomor 3 Tanggal 7 November 2006," tutup Karta.[dod]

Komentar Pembaca