Industri Keuangan Syariah Tak Akan Tumbuh Tanpa Industri Halal

Ekonomi  KAMIS, 26 SEPTEMBER 2019 , 20:28:00 WIB | LAPORAN: ARI RAHMAN

Industri Keuangan Syariah Tak Akan Tumbuh Tanpa Industri Halal

Diskusi Literasi Keuangan Syariah Goes to Campus/ist

Industri keuangan syariah tak akan tumbuh bila tidak dibarengi oleh pertumbuhan industri halal. Hal ini ditegaskan Direktur Eksekutif Indonesia Halal Watch, Dr. Ikhsan Abdullah dalam Diskusi Literasi Keuangan Syariah Goes to Campus bertemakan 'Untungnya Memilih Produk Keuangan Syariah di Era Milineal' yang diselenggarakan Forum Warta Pena (FWP) dan Universitas Yarsi Jakarta, Kamis (26/9).

"Lambannya perkembangan industri halal menyebabkan inklusi keuangan syarian di tanah air tak pernah tumbuh secara signifikan," katanya.

Idealnya, kata Ikhsan, industri keuangan syariah dan industri halal mesti terintegrasi dengan baik. Dengan demikian, keduanya akan bisa tumbuh secara bersamaan.

Ikhsan juga berharap, dengan mulai diberlakukannya Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal mulai tanggal 17 Oktober mendatang, dapat memicu pertumbuhan kedua industri syariah tersebut.

"Sertifikasi halal yang akan menjadi mandatory bagi seluruh produk halal yang beredar di tanah air, seperti makanan, minuman, obat-obatan, kosmetika, rekayasan teknologi, jasa, dan lainnya itu diharapkan dapat meningkatkan perkembangan industri halal dan keuangan syariah," ujar dia.

Sementara itu, Kepala Sub Bagian Perizinan Perbankan Syariah OJK, Asep Sudirman mengungkapkan, pengembangan bisnis keuangan syariah di Indonesia memiliki peluang begitu besar karena didukung jumlah populasi penduduk muslim terbesar ke-4 dunia, sebanyak 265 juta (2018). Hal ini tentunya akan mendorong pertumbuhan ekonomi terbesar ke-7 di tahun 2030.

"Fenomena gelombang relijiusitas kalangan milenial, public figure, professional serta usaha industri halal yang semakin berkembang dan menjadi tren antara lain dibidang fashion, farmasi dan kosmetik, food and beverage, dll," katanya.

Berdasarkan The Most Developed Islamic Finance Market (Thomson Reuters, 2018) menempatkan Indonesia pada posisi ke-10 di dunia. Salah satu indikator yang menarik riset ini menempatkan  Indonesia rangking ke-2 jumlah keuangan syariah terbanyak setelah Malaysia.

Dari sisi aset, kata Asep, hingga Juni 2018 total aset keuangan syariah sudah mencapai Rp1,335,41 triliun atau USD94,44 miliar (tidak termasuk saham syariah). Dari sisi market share capaiannya sebesar 8,29%. Mayoritas sisanya masih dipegang keuangan konvesional 91,71%.

"Dalam situasi dan kondisi ekonomi yang secara global dan domestik penuh tantangan ini, secara konservatif paling tidak pertumbuhan aset keuangan syariah minimum dapat dipertahankan sama dengan tahun lalu sebesar 13,98%," terang Asep.

Sedangkan Ketua Program Stusi Megister Management Pascasarjana Universitas, Yarsi Dr. H. Nurul Huda berpendapat, industri keuangan syariah masih dapat dikembangkan melalui pengembangan industri 4.0. Keberadaan Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) bisa menjadi pendorong kemajuan industri syariah.

"Bonus demografi kalangan milenial, akan menjadi kelompok mayoritas dalam fokus pengembangan industri keuangan syariah pada tahun 2030 mendatang. Sehingga literasi yang juga masih rendah terhadap industri keuangan syariah bisa memfokuskan pada kelompok milenial dengan metode yang sesuai dengan kelompok tersebut," terang Nurul Huda yang juga jadi pembicara di diskusi tersebut. [rah]

Komentar Pembaca
Tim Ekonomi Jilid Satu Harus Dirombak Total

Tim Ekonomi Jilid Satu Harus Dirombak Total

SENIN, 14 OKTOBER 2019 , 15:16:32

Merah Putih Terpanjang di Persawahan

Merah Putih Terpanjang di Persawahan

MINGGU, 13 OKTOBER 2019 , 09:57:31

Video Bukti Upaya Pembunuhan Wiranto Bukan Rekayasa

Video Bukti Upaya Pembunuhan Wiranto Bukan Rekayasa

JUM'AT, 11 OKTOBER 2019 , 16:08:49