Waketum Gerindra Ungkap Penyebab BUMN Masih Tetap Jadi Surganya Para Koruptor

Ekonomi  SABTU, 05 OKTOBER 2019 , 17:37:00 WIB | LAPORAN: RMOL NETWORK

Waketum Gerindra Ungkap Penyebab BUMN Masih Tetap Jadi Surganya Para Koruptor

Arief Poyuono/Net

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Poyuono mengungkapkan mengapa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) masih tetap menjadi surganya para koruptor. Menurutnya, ada sekitar lima penyebab korupsi masih terjadi di BUMN.

Penyebab pertama, ungkapnya, banyak posisi komisaris yang tidak kompeten dan hanya sebagai jabatan politis bagi penempatan para relawan relawan Tim pemenangan Pilpres Joko widodo-JK. Sebagian besar dari mereka tidak memiliki kemampuan yang memadai sebagai komisaris.

Seharusnya sebagai kepanjangan tangan Menteri BUMN, seorang komisaris harus mampu mengawasi dan mengkontrol jalan aktivitas bisnis dan aksi korporasi di sebuah BUMN yang dilakukan direksi dan karyawan. Mereka harus memiliki kemampuan dibidang untuk mengawasi, misalnya kemampuan membaca hasil laporan keuangan di BUMN .

"Nah coba ja cek mungkin hampir 85 persen komisaris di BUMN di era Joko Widodo-JK tidak punya pengetahuan tentang bisnis dan keuangan di sebuah korporasi,” kata Arief dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Sabtu (5/10).

Komisaris yang ditempatkan di BUMN oleh Joko Widodo, nilainya, hanya bertujuan agar mereka ( para relawan ) bisa mendapatkan penghasilan tetap tiap bulan dan duduk manis saja.

"Coba cek sana jajaran komisaris di Temasek BUMN-nya Singapore, semua sangat kompeten di bidangnya," ungkap Arief.

Penyebab kedua, banyak Direksi BUMN yang ditempatkan di BUMN walaupun proses assesment pemilihannya dan fit proper sudah bagus, namun faktor nepotisme dan uang sogokan terhadap orang yang punya kekuasaan di sekitaran Presiden atau yang punya kedekatan dengan Kementerian BUMN lebih menentukan.

"Sehingga terkadang banyak intervensi di Kementrian BUMN dalam penentuan posisi jabatan jajaran Direksi di BUMN. Nah mau enggak mau kan mereka harus balikin modal mereka," ujar Arief.

Ketiga masalah corrupt behaviour yang masih melekat di para jajaran Direksi BUMN.

:Penyebab keempat, karena banyak Direksi BUMN yang tertekan oleh elit-elit politik untuk berbisnis dengan cara cara yang korup, seperti Sofyan Basyir korban elit politik," papar Arief.

Kelima, makin banyak "anak perusahaan" di berbagai BUMN yang dibentuk sehingga menyebabkan high cost business dan jadi tempat untuk menyuburkan praktek korupsi di BUMN.

Nah kedepan, sarannya, ini semua jadi PR besar bagi Jokowi untuk bisa menjadikan BUMN sebagai entitas bisnis yang bersih dan profesional seperti BUMN Temasek dan Khasanah.

Sehingga, akhirnya BUMN-BUMN yang memiliki aset hingga ribuan trilun rupiah itu benar-benar menjadi sebuah korporasi milik negara yang bisa menghasilkan keuntungan untuk penerimaan negara yang maksimal dan dinikmati oleh masyarakat.

"Pengalaman saya selama saya belajar tentang pengelolaan bisnis dengan petinggi salah satu perusahaan milik Temasek selama lima tahun, saya benar-benar bisa membedakan dengan BUMN kita yang masih terus jadi tempat untuk melakukan korupsi," tutup Arief.[dod]

Komentar Pembaca
Tim Ekonomi Jilid Satu Harus Dirombak Total

Tim Ekonomi Jilid Satu Harus Dirombak Total

SENIN, 14 OKTOBER 2019 , 15:16:32

Merah Putih Terpanjang di Persawahan

Merah Putih Terpanjang di Persawahan

MINGGU, 13 OKTOBER 2019 , 09:57:31

Video Bukti Upaya Pembunuhan Wiranto Bukan Rekayasa

Video Bukti Upaya Pembunuhan Wiranto Bukan Rekayasa

JUM'AT, 11 OKTOBER 2019 , 16:08:49