Nongol di DPR, Eks Bupati Bogor Tersangka Korupsi Tak Punya Malu

Hukum  SELASA, 08 OKTOBER 2019 , 12:10:00 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Nongol di DPR, Eks Bupati Bogor Tersangka Korupsi Tak Punya Malu

RY hadiri pelantikan istrinya di DPR/Ist

Mantan Bupati Bogor, Rachmat Yasin (RY) yang merupakan tersangka kasus korupsi dinilai tidak punya malu. Pasalnya, RY kepergok nongol di Gedung Parlemen Senayan, saat pelantikan sang istri, Elly Halimah Yasin menjadi anggota DPR RI pada Selasa (1/10).

"Memang tidak ada aturan yang melarang seorang tersangka kasus korupsi tidak boleh hadir di acara (pelantikan anggota DPR). Tetapi, secara etika itu sangat tidak bagus. Betul, tidak punya malu dia (RY)," kata Pengamat Politik Sugiyanto, Selasa (8/10).

Menurut Sugiyanto, seharusnya tersangka korupsi kasus gratifikasi yang juga kakak kandung Bupati Bogor, Ade Munawaroh itu tidak perlu hadir saat pelantikan sang istri di gedung parlemen.

"Sebaiknya tidak usah hadir. Karena. Publik bisa mencapnya nggak punya malu dan seperti tidak punya harga diri. Nanti, bisa-bisa, tersangka korupsi lainnya bisa masuk Istana. Bahaya itu," ujar Sugiyanto.

Kata Sugiyanto, kehadiran RY di Senayan ini sangat ironis. Karena RY beberapa kali mangkir saat dipanggil penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk menjalani pemeriksaan sebagai tersangka kasus gratifikasi dengan alasan sakit.

"Giliran acara pelantikan istrinya di Senayan dia hadir. Nah, setelah ini, ia (RY) harus koperatif saat dipanggil KPK. Jangan alasan sakit-sakit lagi. Apalagi, dia sudah nongol di Senayan begitu," tutup Sugiyanto.

Status RY saat ini adalah tersangka penerima gratifikasi dan ia baru saja bebas dari kasus korupsi yang menjeratnya mendekam 5 tahun di penjara.

Untuk diketahui, RY beberapa kali mangkir dari panggilan pemeriksaan penyidik KPK dengan alasan dalam kondisi yang tidak sehat.

"Tersangka meminta penjadwalan ulang karena sedang sakit," ucap Juru Bicara Febri Diansyah di Gedung KPK, Kuningan Persada, Jakarta Selatan.

Dalam kasus ini, KPK menetapkan RY dengan kasus dugaan "memalak" dan "menyunat" para satuan perangkat kerja daerah (SKPD) selama menjabat Bupati Bogor.

Diduga, RY meminta, menerima atau memotong pembayaran dari beberapa SKPD Rp 8.931.326.223. Setiap SKPD diduga memiliki sumber dana yang berbeda untuk memberikan dana kepada Rachmat Yasin.

Uang tersebut diduga digunakan Rachmat Yasin untuk biaya operasional dan kebutuhan kampanye Pemilihan Kepala Daerah dan Pemilihan Legislatif yang diselenggarakan pada 2013 dan 2014.

Selain itu, RY juga diduga menerima gratifikasi, yaitu berupa tanah seluas 20 hektare di Jonggol, Kabupaten Bogor dan Toyota Velflre senilai Rp 825 juta.[dod]

Komentar Pembaca