John Palinggi Kecewa Selama 20 Tahun Nasib TNI Diabaikan

Nasional  JUM'AT, 11 OKTOBER 2019 , 20:25:00 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

John Palinggi Kecewa Selama 20 Tahun Nasib TNI Diabaikan

John Palinggi/Ist

Perkembangan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) setelah diubah menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI) dinilai sangat signifikan. Terutama dari sisi ketaatan terhadap undang-undang dan pemimpin negara.

Demikian disampaikan mantan Tim Asistensi Narasumber ABRI, DR. John N. Palinggi menanggapi perayaan HUT TNI ke-74, di Jakarta, Jumat (11/10).

Namun sayangnya, dari sisi sarana dan prasarana, apalagi soal kesejahteraan para personel TNI, kondisinya masih sama dengan 20 tahun silam. Ironis dan sangat mengenaskan.

Kondisi ini bisa dilihat dari kantor-kantor komando dari ketiga matra sesuai penjenjangannya, baik di darat, laut, dan udara yang sangat memprihatinkan.

"Misalnya, kalau kita jalan disamping Kantor Kodim atau kantor setingkat pada matra laut dan udara, di banyak tempat, biasanya ada perumahan atau asrama perwira, itu atap sengnya masih sama dengan 35 tahun silam. Sungguh memprihatinkan," kata John.

Padahal, lanjut John, publik tahu, betapa para personel TNI berjuang mati-matian menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dengan Sumpah Prajurit Sapta Marga mereka hidup-mati mempertahankan keutuhan NKRI.

"Jujur, saya tidak tahu apa yang menyebabkan sampai mereka (TNI) diperlakukan seperti itu. Kok tega-teganya, penjaga kedaulatan negara ini mengalami kehidupan yang demikian," tegas John.

Di sisi lain, tambahnya, sejak dulu sudah dilarang keras bahwa TNI tidak boleh berbisnis. Itu amanat UU. Padahal, mungkin dari bisnis, keuntungan yang diperoleh bisa digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.

John dengan lantang menyerukan agar kantor-kantor komando dari ketiga matra sesuai penjenjangannya diperbaiki. Begitu juga rumah-rumah para personel TNI dibuat yang lebih nyaman.

Lebih jauh John menjelaskan, sesuai UU Nomor 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia, Bab II Pasal 2 menyebutkan bahwa jati diri TNI adalah tentara rakyat, tentara pejuang, tentara nasional, dan tentara profesional.

"Dalam salah satu bagian pasal itu dikatakan bahwa sebagai tentara profesional maka TNI tidak boleh berpolitik praktis, tidak berbisnis, dan dijamin kesejahteraannya. Jadi, kesejahteraan TNI dijamin, tapi faktanya mereka jauh dari kata sejahtera," ujar John lagi.

Dalam pandangannya, mungkin sekitar 20 tahunan, sepertinya TNI tidak diberdayakan secara maksimal, bahkan terkesan diabaikan.

"Baru di era Presiden Jokowi, peran TNI mulai dimunculkan. Semoga kedepan, ini menjadi perhatian pemerintah agar persoalan kesejahteraan personel TNI bisa lebih diperhatikan. Sejujurnya, saya menangis dalam hati melihat besaran anggaran TNI 'sang penjaga negara' ini," ungkap John.

Disinggung soal alusista, John dengan nada keras berujar, "Alusista sepertinya terlalu heboh dibicarakan, sementara orang yang dibalik senjata itu tidak dipikirkan kehidupan dan kesejahteraannya".

"Apa kita tidak malu, banyak rakyat dan pejabat pakai mobil-mobil mewah, sementara TNI yang berjuang keras memastikan keamanan negara ini masih ada yang pakai mobil Kijang tahun 80-an, bahkan sebagai kendaraan operasionalnya," pungkasnya.[dod]

Komentar Pembaca