Pak Anies, PKJ-TIM Mau Dibawa Kemana?

Suara Rakyat  MINGGU, 20 OKTOBER 2019 , 19:59:00 WIB

Pak Anies, PKJ-TIM Mau Dibawa Kemana?

Anies Baswedan/Ist

KEBERADAAN Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ-TIM) yang tertuang dalam Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta tanggal 7 Juni 1968 â€" No. 1b.3/2/19/1968 yang dalam mukadimahnya menyebut dua jenis kegiatan, yaitu seni kreatif dan seni hiburan.

Selanjutnya, Gubernur DKI Jakarta Ali sadikin menyerahkan sepenuhnya kepada para seniman, baik pengelolaan maupun bentuk dan jenis kesenian yang mau dihadirkan. Singkatnya, Pemerintah DKI Jakarta hanya memberikan dana yang dibutuhkan oleh seniman.

Kebijakan Gubernur Ali Sadikin yang menyerahkan pengelolaan PKJ-TIM pada seniman berdampak luar biasa. PKJ-TIM benar-benar menjadi barometer, etalase dan laboratorium kesenian Jakarta, Indonesia dan Asia Tenggara pada umumnya. Banyak seniman dan karya besar lahir dari PKJ TIM saat itu.

Namun, kebijakan Gubernur Ali Sadikin yang pro seniman itu nampaknya bertolak belakang dengan Gubernur Anies Baswedan. Anies, nampaknya akan menempatkan seni hiburan menjadi prioritas dan seni kreatif menjadi pelengkap.

Indikasi itu bisa dilihat dari kebijakannya yang menyerahkan mandat pengelolahan PKJ-TIM selama 30 tahun kepada Jakarta Propertindo (Jakpro), sebuah Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang tak terkait sama sekali dengan kehidupan kreativitas seni.

Alasan Anies menyerahkan pengelolahan kepada Jakpro karena selama ini PKJ-TIM cost center”. Selanjutnya, untuk membiayai operasional selama 30 tahun kontrak dan mengembalikan modal penyertaan pembangunan revitalisasi fisik PKJ-TIM sebesar Rp 1,8 triliun, Jakpro merencanakan membangun hotel bintang lima dan bisnis lain di lingkungan PKJ-TIM.

Terbayang atmosfer dan iklim berkesenian di PKJ-TIM akan rusak dan berubah wujud menjadi keramaian semu.

Posisi PKJ-TIM tidak lagi menjadi kebanggaan para seniman. Riwa-riwi aktivitas bisnis akan lebih mendominasi PKJ TIM dari pada aktivitas berkesenian.

Manajemen hotel bintang lima misalnya, akan menjadi tembok besar yang menjauhkan seniman dari rumahnya sendiri.

Kebijakan Anies menyerahkan PKJ-TIM bukan pada ahlinya justru menurunkan derajat kesenian di Jakarta. Perlahan- lahan tetapi pasti, wibawa PKJ-TIM akan rusak dan berubah wujud menyerupai Ancol, TMII, club-club malam, café-café dan lain lain sejenisnya yang tumbuh dengan subur di Jakarta dan sekitarnya.

Hanya keramaian semata dan jauh dari nilai nilai estetik yang menjadi marwah kesenian. Pertanyaanya, kemana lembaga penasehat kebudayaan dan kesenian di Jakarta yang dibiayai oleh APBD itu? Apakah mereka cuma membebek atau yes man saja terhadap kebijakan yang merusak atmosfer kesenian PKJ-TIM ini?

Tidak ada alasan apapun yang bisa dijadikan dasar untuk menyerahkan pusat kesenian kepada BUMD. Kalau alasannya karena beban biaya terlalu besar untuk subsidi PKJ-TIM, itu alasan yang mengada-ada. Pendapatan asli daerah (PAD) dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan konon kabarnya mencapai Rp 6 triliun lebih.

Kalau cuma dialokasikan untuk kegiatan dan operasional PKJ-TIM sebesar puluhan miliar setiap tahun, itu persentase yang sangat kecil dibanding dengan pendapatannya.

Maka itu, PKJ-TIM harus dikembalikan ke marwah khittah 68, dimana PKJ-TIM dikelola oleh para seniman sendiri. PKJ-TIM tidak boleh ada ikatan struktural dengan kekuasaan, supaya punya keluasan mendorong seniman untuk berkreasi dan berekspresi dalam kebebasan.

Namun pemerintah tetap punya kewajiban mensubsidi rumah seni tersebut. Kesenian kreatif juga tidak boleh ikut terlibat dalam menangung beban PAD DKI Jakarta. Di manapun di dunia ini yang terkait dengan nilai (value) disubsidi oleh negara.

Kebudayaan, kesenian, agama, pendidikan dan sejenisnya perlu disubsidi oleh negara.

Intinya, PKJ-TIM tidak boleh dijadikan sebagai ekspeksperimen tata kelola yang mempertaruhkan satu genarasi pelaku seni. Jika gagal maka satu generasi kesenian akan punah dan tak akan bisa diputar balik kembali.[dod]

Imam Ma’arif Penggiat Seni

Komentar Pembaca
Ketika Indonesia Tak Memiliki Dasar Negara
Pesona Misteri Candi Cetho

Pesona Misteri Candi Cetho

MINGGU, 01 DESEMBER 2019

Anies Betepe

Anies Betepe

MINGGU, 01 DESEMBER 2019

Pulihkan Nama Baik Anies

Pulihkan Nama Baik Anies

RABU, 27 NOVEMBER 2019

Gerakan Nikah

Gerakan Nikah

SABTU, 23 NOVEMBER 2019

Anies Dan Ahok, Kenapa Dibenturkan?

Anies Dan Ahok, Kenapa Dibenturkan?

SELASA, 19 NOVEMBER 2019

Antisipasi Banjir, DKI Keruk Sungai Dan Cek Pompa

Antisipasi Banjir, DKI Keruk Sungai Dan Cek Pompa

SABTU, 19 OKTOBER 2019 , 17:21:00

Pemprov DKI Gelar Pameran Foto Ruang Ketiga Di Balai Kota
Anies Meninjau Penataan PKL Di CFD

Anies Meninjau Penataan PKL Di CFD

MINGGU, 03 NOVEMBER 2019 , 15:55:00