Gali Lubang Tutup Lubang Hutang Sri Mulyani, Pengamat: Pemerintah Tidak Kreatif

Ekonomi  MINGGU, 27 OKTOBER 2019 , 12:08:00 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Gali Lubang Tutup Lubang Hutang Sri Mulyani, Pengamat: Pemerintah Tidak Kreatif

Sri Mulyani/Ist

Kabar kurang sedap datang dari Menteri Keuangan Sri Mulyani yang berencana akan berhutang lagi.

Sri menjelaskan, rencana hutang kali ini disebabkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019.

Sedangkan kekurangan anggaran negara terus meningkat dari bulan ke bulan jelang akhir tahun. Defisit pun terus melebar karena kondisi perekonomian global dan domestik sama-sama mendapat tekanan.

Pengamat Politik dari Universitas Indonesia Ade Reza Hariyadi menyebut, langkah yang diambil Sri Mulyani merupakan kebijakan 'gali lubang tutup lubang'.

"Meski hutang luar negeri bukan barang haram, namun mesti dikelola secara prudent dan diarahkan untuk memberi insentif bagi sektor produktif," ujar Ade saat dihubungi Kantor Berita Politik RMOL, Minggu (27/10).

"Sehingga hutang luar negeri dapat mendongkrak perekonomian nasional dan kesejahteraan rakyat. Hal ini penting agar kita tidak terjerat debt trap dan dalam relasi ketergantungan," sambungnya.

Selain itu, Ade menyatakan, semestinya pemerintah kreatif untuk mencari sumber-sumber pembiayaan tanpa tergantung pada utang luar negeri.

"Kebijakan efisiensi anggaran terutama belanja rutin yang selama ini mendominasi postur APBN perlu dilaksanakan secara sungguh-sungguh. Sekitar 70% postur APBN kita tersedot untuk belanja rutin birokrasi, " pungkasnya.

Untuk diketahui, defisit anggaran sebesar Rp199,1 triliun atau 1,24 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir Agustus 2019.

Defisit tersebut berasal dari belanja negara sebesar Rp 2.461,1 triliun, sementara pendapatan hanya sebesar Rp 1.189,3 triliun.

Defisit itu mengalami kenaikan bila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, yakni sebesar 150,5 triliun. Defisit pada periode tersebut hanya sebesar 1,02 persen terhadap PDB, atau jauh lebih rendah dari realisasi Agustus tahun ini.[dod]

Komentar Pembaca