Saefullah, M Taufik, Ferry Juliantono Dan Erwin Aksa Layak Diusulkan Jadi Wagub

Politik  SENIN, 28 OKTOBER 2019 , 08:57:00 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Saefullah, M Taufik, Ferry Juliantono Dan Erwin Aksa Layak Diusulkan Jadi Wagub

Tom Pasribu/Ist

Setahun lebih Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan bekerja sendirian tanpa didampingi Wakil Gubernur (Wagub) DKI.

Alotnya proses pemilihan Wakil Gubernur (Pilwagub) DKI pengganti Sandiaga Uno dinilai karena komunikasi yang tidak baik antara dua parpol pengusung yakni Gerindra dan PKS dengan politisi Kebon Sirih.

Hal ini juga diperparah dengan 'pasifnya' Anies dalam membangun komunikasi, baik dengan parpol pengusung maupun dengan politisi DPRD DKI. Selama sekitar 14 bulan, praktis hampir tidak terlihat upaya Anies mempercepat agenda pemilihan Wagub.

Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Komite Pemantau dan Pemberdayaan Parlemen Indonesia ( KP3I), Tom Pasaribu kepada wartawan, di Jakarta, Senin (28/10).

"Satu tahun lebih kursi Wagub terkesan dibiarkan kosong, dengan alasan karena DPRD DKI belum sepakat untuk memutuskan calon yang telah disodorkan," kata Tom.

Tom pun menyayangkan berlarut-larutnya proses pemilihan Wagub, yang hingga kini belum juga ada tanda-tanda akan tuntas dalam waktu dekat.

Padahal, dia menuturkan, kosongnya kursi Wagub sangat mengganggu roda pemerintahan Pemprov DKI Jakarta, terlebih pelaksanaan pekerjaan yang bersifat teknis. Demikian juga pengawasan kinerja birokrasi.

"Meskipun, dalam acara seremonial kita harus akui Gubernur Anies berhasil 100 persen," tegas Tom.

"Dengan kekosongan kursi Wagub ini, tidak tahu juga siapa ini yang diuntungkan, yang pasti dan saya pahami yang butuh Wagub itu bukan partai pengusung," jelas Tom.

Menurut Tom, meski parpol pengusung sudah menyodorkan dua nama Agung Yulianto dan Ahmad Syaikhu untuk dipilih DPRD DKI, tapi hingga kini faktanya tak kunjung menemukan titik terang.

Karena itu, Tom meminta kedua parpol pengusung realistis. Menurutnya, Gerindra dan PKS sebaiknya menggelar pertemuan ulang membuka opsi untuk melahirkan nama-nama calon kandidat baru, yang bisa diterima semua pihak.

Hal ini, kata dia, sah-sah saja, karena panitia pemilihan Wagub sendiri belum dibentuk oleh pimpinan DPRD DKI. Sehingga dua nama calon yang telah disodorkan ke dewan masih berpeluang untuk berubah.

"Dalam politik, semua serba mungkin, karena ini belum masuk ke panitia pemilihan, baru masuk di panja, panlih itu belum dibentuk oleh pimpinan dewan di rapimgab. Mereka (rapimgab) juga belum menggelar rapat," papar Tom.

Namun, mantan Presidium Relawan Anies-Sandi ini menyatakan, jika pola komunikasi antara kedua partai pengusung tidak saling terbuka maka bukan tidak mungkin sampai akhir jabatan Anies berakhir tidak akan ada Wagub.

"Karenanya, biar posisi Wagub DKI cepat terisi, saran saya Gubernur Anies harus pro aktif membantu me-lobi dan mendesak partai pengusung, agar mau mengusulkan empat atau lima nama alternatif. Misalnya, Syaikhu dari PKS, (Sekda) Saefullah dari unsur birokrasi, Mohamad Taufik atau Ferry J Juliantono dari Partai Gerindra, atau Erwin Aksa dari Timses," papar Tom.

Selanjutnya, sambung Tom, biarkan keempat calon tersebut beradu mengambil simpati dan dukungan dari para anggota DPRD DKI Jakarta.

"Tapi perlu dipahami, sejatinya bukan partai Gerindra dan PKS yang butuh Wagub, tetapi Gubernur Anies. Makanya, (Anies) harus pro-aktif supaya kursi wagub segera terisi, agar roda pemerintahan Pemprov DKI berjalan baik dan sehat. Kecuali, memang niat Pak Anies posisi wagub diharapkan tetap kosong terus, itu hal yang berbeda," pungkas Tom.[dod]

Komentar Pembaca