Tebang Pohon Sembarangan, Kinerja Dinas Kehutanan Disorot

Jakarta  JUM'AT, 15 NOVEMBER 2019 , 13:33:00 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Tebang Pohon Sembarangan, Kinerja  Dinas Kehutanan Disorot

Suzi Marsitawati/Net

RMOLJakarra.Penebangan pohon yang dilakukan Dinas Kehutanan DKI Jakarta dalam proyek revitalisasi trotoar Cikini, Menteng, Jakarta Pusat terus menuai sorotan.

Pengamat Perkotaan dari Universitas Trisakti, Nirwono Yoga menilai Dinas Kehutanan DKI Jakarta tidak serius dalam merawat pohon-pohon di Ibukota. Hal itu bisa dilihat dari penebangan delapan pohon di trotoar Cikini karena dianggap sudah berkondisi keropos.

"Dinas Kehutanan jelas tidak serius merawat pohon. Kalau pohon itu keropos harusnya diselamatkan," kata Nirwono saat dihubungi, Jumat (15/11).

Menurut Nirwono, aksi penebangan pohon dalam proyek revitalisasi trotoar sudah sepatutnya dihentikan. Sebaliknya Dinas Kehutanan DKI Jakarta harus melakukan audit dan meregistrasi pohon yang ada selama ini.

"Pohon layak diperlakukan seperti warga yang memiliki identitas dan teregistrasi. Sehingga keberadaan dan kondisi pohon dapat mudah dilacak dan diketahui statusnya," ujar Nirwono.

Nirwono menyayangkan, dengan alokasi anggaran yang besar, Dinas Kehutanan DKI seharusnya bisa memetakan lokasi dan kondisi pohon menggunakan tekhnologi Global Positioning System (GPS). Sehingga data terkini mengenai pohon yang sehat, sakit dan akan tumbang dapat diketahui secara rinci dan akurat.

"Jika ada pohon yang sakit dirawat, pohon berlubang ditambal, pohon keropos atau akan tumbang ditebang dan segera diganti pohon baru," tegas Nirwono.

Ia juga menganggap Dinas Kehutanan DKI Jakarta sembrono karena telah melakukan penebangan pohon tanpa membuat kajian yang matang. Terlebih, pohon yang ditebang berfungsi untuk menyerap polutan dan sebagai paru-paru kota.

"Kalau alasannya keropos dan takut tumbang dasarnya apa? Harus disertai dengan kajian yang tepat," ucap Nirwono.

Nirwono menyebut kebijakan penebangan pohon yang terdampak pelebaran trotoar dan saluran air tidak tepat. Sebab, desain trotoar dan saluran seharusnya mengikuti keberadaan pohon yang sudah ada.

"Ini jelas salah. Pohon eksisitng harusnya dipelihara, bukan malah ditebang. Apalagi pemeliharaan pohon sudah dianggarkan dalam APBD," cetus Nirwono.

Di samping itu, sambung Nirwono, pohon-pohon besar seperti beringin dan angsana memiliki usia puluhan hingga ratusan tahun. Bila ditebang, proses penanaman pohon pelindung tersebut akan memakan waktu lama.

"Kalau semakin banyak pohon besar itu makin bagus untuk menahan angin, menyerap air dan berfungsi menjaga habibat satwa liar serta penanda sebuah kawasan," pungkas Nirwono.

Sementara itu, Kepala Dinas Kehutana Dan Taman DKI Jakarta Suzi Marsitawati menegaskan, terkait penataan trotoar oleh Dinas Bina Marga di Jalan Cikini Raya memang ada pohon yang ditebang.

Jenis pohon yang ditebang sebagian besar adalah Angsana dan sebagian lagi Beringin. Penebangan tersebut dilakukan sebagai upaya Dinas Kehutanan dengan jajaran Suku Dinas Kehutanan di bawahnya untuk peremajaan pohon pelindung menggantikan pohon pelindung yang sebelumnya.

"Kenapa harus diremajakan? Pohon Angsana dulu ditanam dengan tujuan target percepatan penghijauan kota karena sifat dari Angsana adalah tumbuh dengan cepat, namun kelemahannya untuk jenis Angsana adalah bahwa pada usia pohon yang semakin tua, struktur cabang dan batangnya mudah keropos dan rapuh sehingga dì khawatirkan mudah patah cabang dan bahkan tumbang," ucap Suzi.

Dampaknya tentu membahayakan pengguna jalan apalagi keberadaannya di trotoar. Untuk beringin dulunya pohon tersebut ditanam di dalam pot-pot, semakin tumbuh besar akarnya merusak dan menjebol pot beton dan tentunya juga membahayakan dan secara estetika kota juga kurang mendukung.

Lebih lanjut Suzi mengatakan, karenanya Pemprov DKI memiliki program penataan kawasan dengan menanam pohon pelindung yang memiliki karakteristik tumbuh tidak terlalu besar, tinggi maksimalnya kurang dari 10 meter, akarnya tidak merusak konstruksi pedestrian, dan memiliki keindahan dengan warna-warna bunganya yang menarik.

Selain juga memiliki kemampuan untuk menyerap polutan. Selain pohon pelindung berbunga tersebut.

"Tujuannya adalah agar polusi dari kendaraan bermotor dapat langsung diserap mulai dari level bawah oleh tanaman semak tersebut sampai level atas yaitu oleh pohon pelindung," kata Suzi.[dod]

Komentar Pembaca
Antisipasi Banjir, DKI Keruk Sungai Dan Cek Pompa

Antisipasi Banjir, DKI Keruk Sungai Dan Cek Pompa

SABTU, 19 OKTOBER 2019 , 17:21:00

Pemprov DKI Gelar Pameran Foto Ruang Ketiga Di Balai Kota
Anies Meninjau Penataan PKL Di CFD

Anies Meninjau Penataan PKL Di CFD

MINGGU, 03 NOVEMBER 2019 , 15:55:00