Skor DKI Dan DIY Versi PISA 2018, Lebih Tinggi Dibanding Hasil Nasional

Ragam  SELASA, 03 DESEMBER 2019 , 22:07:00 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Skor DKI Dan DIY Versi PISA 2018, Lebih Tinggi Dibanding Hasil Nasional

Hasil rilis PISA 20!8/Ist

Rata-rata skor siswa DKI Jakarta dan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta yang Diterbitkan Programme for International Student Assessment (PISA) 2018, lebih tinggi dibanding hasil nasional.

PISA 2018 yang diselenggarakan oleh The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) dirilis oleh OECD di Paris, Perancis, Selasa (3/12), menunjukkan bahwa kemampuan siswa Indonesia dalam membaca meraih skor rata-rata yakni 371, jauh di bawah rata-rata OECD yakni 487.

Untuk DKI Jakarta di angka 410 sementara Daerah Istimewa Yogyakarta 411.

Kemudian untuk skor rata-rata matematika secara nasipnal yakni 379, sedangkan skor rata-rata OECD 487.

DKI Jakarta di angka 416 sementara Daerah Istimewa Yogyakarta 422.

Selanjutnya untuk sains skor rata-rata siswa Indonesia yakni 389, sedangkan skor rata-rata OECD yakni 489.

Untuk DKI Jakarta di angka 424 sementara Daerah Istimewa Yogyakarta 434.

Skor Indonesia pada PISA 2018 yang diselenggarakan oleh The OECD masih dibawah rata-rata organisasi tersebut.

Hasil PISA 2018 yang dirilis oleh OECD menunjukkan bahwa kemampuan siswa Indonesia dalam membaca meraih skor rata-rata yakni 371, jauh di bawah rata-rata OECD yakni 487. Kemudian untuk skor rata-rata matematika yakni 379, sedangkan skor rata-rata OECD 487. Selanjutnya untuk sains skor rata-rata siswa Indonesia yakni 389, sedangkan skor rata-rata OECD yakni 489.

Laporan OECD tersebut juga menunjukkan bahwa sedikit siswa Indonesia yang memiliki kemampuan tinggi dalam satu mata pelajaran, dan pada saat bersamaan sedikit juga siswa yang meraih tingkat kemahiran minimum dalam satu mata pelajaran.

Dalam kemampuan membaca, hanya 30 persen siswa Indonesia yang mencapai setidaknya kemahiran tingkat dua dalam membaca. Bandingkan dengan rata-rata OECD yakni 77 persen siswa.

Sedangkan untuk bidang matematika, hanya 28 persen siswa Indonesia yang mencapai kemahiran tingkat dua OECD, yang mana rata-rata OECD yakni 76 persen. Dalam tingkatan itu, siswa dapat menafsirkan dan mengenali, tanpa instruksi langsung, bagaimana situasi dapat direpresentasikan secara matematis.

Siswa Indonesia yang menguasai kemampuan matematika tingkat tinggi (tingkat lima ke atas) hanya satu persen, sedangkan rata-rata OECD sebanyak 11 persen.

Untuk bidang sains, sekitar 40 persen siswa Indonesia mencapai level dua, bandingkan dengan rata-rata OECD yakni 78 persen. Pada kemampuan tingkat dua, siswa dapat mengenali penjelasan yang benar untuk fenomena ilmiah yang dikenal dan dapat menggunakan pengetahuan tersebut untuk mengidentifikasi, dalam kasus-kasus sederhana.

OECD merilis untuk sampel PISA pada 2001 hanya mencakup 46 persen anak usia 15 tahun di Indonesia. Sedangkan pada 2018, sampel OECD mencakup 85 persen anak usia 15 tahun di Indonesia. OECD juga menyebut perlunya upaya peningkatan sistem pendidikan di Indonesia.

PISA merupakan survei tiga tahunan yang menilai kemampuan siswa berusia 15 tahun, yang telah memperoleh pengetahuan dan keterampilan utama untuk berpartisipasi dalam masyarakat.

Penilaian tersebut fokus pada kemahiran membaca, matematika, sains, domain inovatif, dan kesejahteraan siswa. Untuk survei PISA 2018, domain inovatiberfokus pada kemahiran dalam membaca, matematika, sains dan domain inovatif. Untuk survei PISA 2018, domain inovatifnya adalah kompetensi global.[dod]

Komentar Pembaca