Sengketa Lahan Apartemen Sherwood Berujung Di PN Jakut

Hukum  KAMIS, 05 DESEMBER 2019 , 16:39:00 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Sengketa Lahan Apartemen Sherwood Berujung Di PN Jakut

Makawi dan M Fahmi Siddiq/Ist

Sengketa lahan Apartemen Sherwood, Kelapa Gading, Jakarta Utara makin memanas.

Ahli waris Makawi melayangkan gugatan melalui Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Ia menggugat Summarecon Group untuk membuktikan keabsahan status hukum lahan yang diklaim sudah menjadi miliknya.

Makawi mengatakan, lahan yang sudah berdiri Apartemen Sherwood masih sah milik keluarganya dengan dasar Girik C.No 1242 persil 896 Blok S.I Kohir N-2-04-10-01-04-00-0060 luas 13.005 m2 tercatat atas wajib pajak; Girik C.No 1242 persil 896 Blok S.II Kohir N-2-04-10-01-04-00-0040 luas 17.204 m2 tercatat atas nama wajib pajak H.Abdul Halim.

"Sebagian lagi luas 6.200 m2 masih berupa segel tanah garapan atas nama ayah saya,” kata Makawi di Gedung PN Jakarta Utara, Kamis (5/12).

Makawi memastikan bahwa keluarganya tidak pernah melakukan jual beli seperti yang disampaikan oleh pihak Summarecon, melalui akta jual beli yang dilakukan puluhan tahun lalu.

"Keluarga kami tidak pernah melakukan jual beli. Oleh karena itu maksud dan tujuan kami menggugat di pengadilan adalah meminta kepada Summarecon untuk membuktikan keabsahan dokumen yang dimilikinya. Bilamana itu semua bodong tentunya tanah saya harus dikembalikan dan bayar ganti rugi karena telah mendudukinya,” tegas Makawi.

Ditempat yang sama, kuasa hukum pihak Keluarga, Muhammad Fahmi Siddiq menuturkan, dokumen yang dimilikinya masih sah dan terdata di beberapa lembaga negara.

"Di kelurahan dan walikota status tanah tersebut masih terdaftar atas nama keluarga Pak Makawi," ujar Fahmi.

Terpisah, Head of Corporate Communications PT Summarecon Agung Tbk, Cut Meutia menjelaskan, pada 1981 tanah tersebut sudah diperjual-belikan antara orang tua ahli waris dengan para pembeli.

Selanjutnya pada tahun 1982, para pembeli tersebut telah menjual tanah tersebut kepada PT Summarecon Agung Tbk. (Summarecon), sehingga sejak saat itu Summarecon menjadi satu-satunya pemilik yang sah atas tanah tersebut, berdasarkan data yuridis dan data fisik yang tercatat di Badan Pertanahan Nasional Jakarta Utara,” kata Meutia lewat keterangan resminya beberapa waktu lalu.[dod]

Komentar Pembaca