Sidang Emirsyah Satar, Saksi Ungkap Tak Ada Intervensi Pengadaan Pesawat Garuda

Hukum  KAMIS, 23 JANUARI 2020 , 21:28:00 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Sidang Emirsyah Satar,  Saksi Ungkap Tak Ada Intervensi  Pengadaan Pesawat Garuda

Sidang Emirsyah Satar/Ist

Selama dipimpin Emirsyah Satar dipastikan tak ada intervensi dalam pengadaan pesawat dan perawatan mesin di Garuda Indonesia.

"Selama kepemimpinan Emirsyah Satar, pelaksanaan program pengadaan pesawat dan perawatan mesin di Garuda Indonesia tidak pernah ada intervensi dan favoritisme untuk memilih atau memenangkan pihak tertentu. Semua pengadaan prosesnya berjalan normal melalui kajian tim dan rapat direksi dimana putusan diambil direksi berdasarkan usulan tim, tanpa ada intervensi atau paksaan," kata saksi Handrito Hardjono, mantan Direktur Keuangan Garuda Indonesia dalam sidang kesaksian di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, jalan Bungur Besar Raya, Jakarta, Kamis (23/1).

Dalam sidang keempat, selain Handrito Hardjono, hadir pula Agus Priyanto, mantan direktur komersial; Rajendra Kartawiria, mantan VP CEO Office; dan Norma Aulia, Manager Accounting Garuda.

Diketahui, Emirsyah Satar antara lain didakwa memaksakan agar pesawat Bombardier CRJ 1000 yang dipilih, meski pesawat Embraer E190 lebih unggul.

Hendito mengungkapkan bahwa hal itu tidak benar mengingat seluruh proses pengadaan pesawat dilakukan dengan mengikuti usulan tim pengadaan yang beranggotakan staf dari berbagai unit, dan keputusan yang diambil dilakukan secara kolegial oleh seluruh direksi.

Bahkan berkaitan dengan perhitungan dan kinerja terhadap usulan tim yang berubah-ubah, Emirsyah Satar telah memerintahkan unit Audit Internal untuk melakukan audit.

Pemilihan pesawat Bombardier CRJ 1000 juga merupakan usulan tim dan pesawat tersebut harga per unitnya lebih murah US$ 3 juta daripada pesawat Embraer E190.

Saksi Agus Priyanto juga mengatakan, soal pemilihan pesawat dan keputusan pengadaan adalah keputusan rapat direksi.

Sementara dalam kaitan dengan pemilihan/penetapan perawatan engine dengan metode Total Care Program (TCP), saksi Rajendra Kartawiria menjelaskan, bahwa TCP ini seperti mekanisme dalam asuransi, karena pembayaran dilakukan berdasarkan jam terbang per bulan, dan apabila engine pesawat mengalami kerusakan dan harus diturunkan, maka akan diberikan engine pengganti.

Sedangkan saksi Norma Aulia mengungkapkan, antara Garuda dengan Rolls Royce terdapat Supplementary Financial Agreement, dimana setiap delivery pesawat dengan engine Rolls Royce maka Garuda akan mendapatkan semacam cashback yaitu engine consession dari Rolls Royce yang diberikan ke Garuda; dan terungkap bahwa selama periode 2012 sampai 2016 Garuda telah mendapatkan cashback dari Rolls Royce senilai total US$ 443,896,345.00.[dod]

Komentar Pembaca
Negatif Corona, WNI Crew Kapal Diamond Princes Minta Dievakuasi
Gedung DPR Kebakaran

Gedung DPR Kebakaran

SENIN, 24 FEBRUARI 2020 , 13:55:07

30 Tahun MURI, Bakti Sosial ke Kampung Sumur

30 Tahun MURI, Bakti Sosial ke Kampung Sumur

SELASA, 11 FEBRUARI 2020 , 11:44:12

Anies Datangi Korban Banjir Di Kalideres

Anies Datangi Korban Banjir Di Kalideres

KAMIS, 02 JANUARI 2020 , 13:06:00

Rezeki Banjir

Rezeki Banjir

KAMIS, 02 JANUARI 2020 , 18:37:00

Makan Bersama Pengungsi

Makan Bersama Pengungsi

JUM'AT, 03 JANUARI 2020 , 15:53:00