Membaca Langkah Kuda Ahok

Polhukam  SABTU, 28 MEI 2016 , 09:45:00 WIB | LAPORAN:

Membaca Langkah Kuda Ahok

Basuki Tjahaja Purnama/Ist

RMOL. Berkali-kali Basuki Tjahaja Purnama akrab disapa Ahok menyatakan dia tetap maju sebagai bakal calon gubernur DKI Jakarta pada Pilkada 2017 lewat jalur perseorangan, namun pada Jumat (27/5), penegasannya itu kembali dia lontarkan dengan lebih tegas lagi.

"Saya memilih rela dikalahkan Anda, asal enggak kehilangan kepercayaan orang-orang yang mengumpulkan KTP buat saya. Apa enggak cukup statement saya seperti ini," kata Ahok mantab.

Ketegasan Ahok ini muncul setelah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di bawah kendali Megawati Sukarnoputri dan Partai Gerindra di bawah kendali Prabowo Subianto menjajaki koalisi besar menghadapi Ahok. Megawati dan Prabowo selama ini belum juga "akur" setelah mereka terlibat konflik politik pada pemilihan presiden 2014 yang mengantarkan Joko Widodo menjadi Presiden.

Dalam percaturan politik ini, Ahok rupanya sedang memainkan langkah kuda. Dalam papan catur, langkah kuda adalah langkah yang tidak bisa dihalangi ketika menabrak lawan, meskipun juga tidak bisa mengunci mati lawannya.

Membaca langkah kuda Ahok ini, dia kelihatannya sedang mem-branding diri menjadi seorang pemimpin baru yang terlepas dari ikatan kekuatan manapun. Dia membangun kekuatan baru melalui anak-anak muda yang juga terbebas dari ikatan kekuatan politik lama.

Jangakaun politik Ahok ini tampaknya bukan sekadar ingin menduduki jabatan gubernur DKI Jakarta yang punya potensi menguasai banyak sumber daya ekonomi, tetapi dia sedang menghimpun kekuatan baru untuk menjadi pemimpin masa depan.

Jika toh dia kalah pada Pilkada di DKI Jakarta 2017, Ahok tampaknya juga siap. Jika menang, dia lebih siap lagi. Kalah atau menang dalam Pilkada, Ahok menemukan kemenangannya, yaitu mendapat pengikut yang tak bisa dianggap kecil. Massa Ahok tak akan pernah lari ke lain hati. Apalagi, jika dia sampai benar-benar mewujudkan 1 juta dukungan KTP lewat jalur perseorangan.

Ini menjadi modalnya untuk menjual diri kepada publik bahwa dia punya massa. Sebuah massa baru yang dihimpun secara rasional, bukan klaim buta. Massa ini pun menjadi logistik buat dia dalam membangun kekuatan baru yang bisa berujung pada lahirnya partai politik baru di bawah kendali Ahok.

"Saya enggak bicara menang kalah. Menang kalah urusan kedua. Bagi saya, kemenangan utama di politik adalah memenangkan kepercayaan rakyat, bukan kursi, itu yang penting," kata Ahok.

Langkah kuda Ahok yang bergerak tanpa membawa stempel golongan dan kelompok juga menjadi kekuatan baru, yang mencerminkan dia terlepas dari tekanan dan kepentingan politik sempit. Lihatlah, bagaimana beragamnya dukungan KTP yang diberikan orang kepada Ahok. Orang-orang dari berbagai ras, golongan, dan kelompok, datang menyerahkan dukungan mereka ke gerai Teman Ahok.

Bahkan, seorang petani di Lampung, yang tinggalnya sekitar 125 kilometer dari kota Bandar Lampung, dari etnis Jawa, mengaku akan datang ke Jakarta hanya untuk menyaksikan Pilkada 2017 jika Ahok benar-benar ikut bertarung.

"Saya ingin menyaksikan hari bersejarah di Ibukota," kata Rokimin (60 tahun) seorang pensiunan yang sekarang menjadi petani di Tulang Bawang Barat. [xta]

Komentar Pembaca